Tarikan Napas Kepahlawanan Berpokok Pangkal dari Semangat Iqra'

Publish

15 November 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
367
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah berlangsung Jumat (14/11) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat. Pengajian ini mengusung "Mewujudkan Kepahlawanan dalam Era Kekinian."

Dalam memberikan pengantar, Ketua PP Muhammadiyah Muhammad Saad Ibrahim menyoroti tentang era kekinian. Kalau diperas, era kekinian tersebut menjelma sebagai evolusi besar peradaban manusia dengan munculnya era revolusi industri 1.0 sampai dengan 5.0.

"Era itu sebenarnya agak berbeda dengan era-era sebelumnya karena diberi nama society. Ketika orang menemukan mesin uap, terjadi revolusi industri, listrik, komputer, internet, termasuk juga HP dan sebagainya. Lalu orang tidak terlalu memperhatikan di sekitarnya, sehingga kehilangan dimensi-dimensi sosialnya," katanya.

Pada dimensi masyarakat Yunani Kuno, ditemukan konsep structure of being, di mana wujud atau realitas tertinggi berada pada air. Hal ini sebagaimana ungkapan Thales dari Miletus, bahwa asal dari segala sesuatu itu adalah air.

"Yang di bawahnya adalah dewa-dewa. Dalam konteks ini bisa saja adalah seorang manusia yang dipahlawankan sedemikian rupa. Berikutnya, manusia dan setelahnya kemudian karya manusia," jelasnya.

Di lain sisi, Islam justru tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Justru, Allah ditempatkan pada posisi teratas, sebagaimana Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama, iqra' bismi rabbikalladzî, "Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan.”

"Ungkapan Iqra' bismirabbikalladzi khalaq itu, yang utama bukan dunia literasi--karena sudah dihasilkan oleh Yunani, tapi dzikrusmirabbik sebagai bidayatan (awal) lebih dulu yang diletakkan di atas," sebutnya.

Kemudian, diikuti oleh manusia, amalan manusia, dan baru setelahnya alam semesta. Bersambung dengan itu, ketika budaya barat mulai bangkit, tumbuh, dan menyeruak oleh pengaruh sekularisme, sekonyong-konyong rasionalitas ketuhanan mengalami peluruhan.

"Dan siapa yang berada di atas? Yang berada di atas kemudian manusia. Inilah kemudian yang kita kenal dengan falsafah eksistensialisme. Tapi kemudian, melalui Auguste Comte itu lalu melalui pikiran rasional. Dunia sains dibangun atas dasar itu," bebernya.

Berjalannya waktu, pelan tapi pasti, posisi manusia mengalami pergeseran. "Oleh karya manusia, oleh mesin uap, listrik, dan lain sebagainya," sambungnya.

Di situlah Saad meminta untuk kembali kepada Iqra' bismirabbikalladzi khalaq. Dan dalam konteks memperingati hari pahlawan, menjadikan term tersebut sebagai pokok pangkal yang utama.

"Kita letakkan di atas. Maknanya, kalau kita bicara soal kepahlawanan di era kekinian, sekali lagi, kita menghadirkan kembali paradigma, semangat, proyeksi dari ungkapan Iqra' bismirabbikalladzi khalaq. Untuk mengokohkan kembali posisi Allah menjadi posisi tertinggi," tegasnya.

Baru setelah itu, urutannya adalah manusia, karya manusia. "Termasuk itu, itu juga digunakan sekali lagi, cara kita untuk mendekatkan diri kepada Allah," tandasnya. (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

UM Bandung Selenggarakan Mimbar Iqra Edisi ke-8 BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dosen prog....

Suara Muhammadiyah

6 December 2023

Berita

PCM dan PCA Tuban Kota Tenentukan Kepemimpinan Periode Mendatang  TUBAN, Suara Muhammadiyah - ....

Suara Muhammadiyah

24 July 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Prodi Administrasi Publik UM Bandung bekerja sama dengan Dinas P....

Suara Muhammadiyah

5 July 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyambut dengan hangat silaturahmi ....

Suara Muhammadiyah

11 July 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sejumlah 139 murid kelas IV dan V SD Muhammadiyah Program Khusu....

Suara Muhammadiyah

7 October 2023