Tarikan Napas Kepahlawanan Berpokok Pangkal dari Semangat Iqra'

Suara Muhammadiyah

14 November 2025

736
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah berlangsung Jumat (14/11) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat. Pengajian ini mengusung "Mewujudkan Kepahlawanan dalam Era Kekinian."

Dalam memberikan pengantar, Ketua PP Muhammadiyah Muhammad Saad Ibrahim menyoroti tentang era kekinian. Kalau diperas, era kekinian tersebut menjelma sebagai evolusi besar peradaban manusia dengan munculnya era revolusi industri 1.0 sampai dengan 5.0.

"Era itu sebenarnya agak berbeda dengan era-era sebelumnya karena diberi nama society. Ketika orang menemukan mesin uap, terjadi revolusi industri, listrik, komputer, internet, termasuk juga HP dan sebagainya. Lalu orang tidak terlalu memperhatikan di sekitarnya, sehingga kehilangan dimensi-dimensi sosialnya," katanya.

Pada dimensi masyarakat Yunani Kuno, ditemukan konsep structure of being, di mana wujud atau realitas tertinggi berada pada air. Hal ini sebagaimana ungkapan Thales dari Miletus, bahwa asal dari segala sesuatu itu adalah air.

"Yang di bawahnya adalah dewa-dewa. Dalam konteks ini bisa saja adalah seorang manusia yang dipahlawankan sedemikian rupa. Berikutnya, manusia dan setelahnya kemudian karya manusia," jelasnya.

Di lain sisi, Islam justru tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Justru, Allah ditempatkan pada posisi teratas, sebagaimana Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama, iqra' bismi rabbikalladzî, "Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan.”

"Ungkapan Iqra' bismirabbikalladzi khalaq itu, yang utama bukan dunia literasi--karena sudah dihasilkan oleh Yunani, tapi dzikrusmirabbik sebagai bidayatan (awal) lebih dulu yang diletakkan di atas," sebutnya.

Kemudian, diikuti oleh manusia, amalan manusia, dan baru setelahnya alam semesta. Bersambung dengan itu, ketika budaya barat mulai bangkit, tumbuh, dan menyeruak oleh pengaruh sekularisme, sekonyong-konyong rasionalitas ketuhanan mengalami peluruhan.

"Dan siapa yang berada di atas? Yang berada di atas kemudian manusia. Inilah kemudian yang kita kenal dengan falsafah eksistensialisme. Tapi kemudian, melalui Auguste Comte itu lalu melalui pikiran rasional. Dunia sains dibangun atas dasar itu," bebernya.

Berjalannya waktu, pelan tapi pasti, posisi manusia mengalami pergeseran. "Oleh karya manusia, oleh mesin uap, listrik, dan lain sebagainya," sambungnya.

Di situlah Saad meminta untuk kembali kepada Iqra' bismirabbikalladzi khalaq. Dan dalam konteks memperingati hari pahlawan, menjadikan term tersebut sebagai pokok pangkal yang utama.

"Kita letakkan di atas. Maknanya, kalau kita bicara soal kepahlawanan di era kekinian, sekali lagi, kita menghadirkan kembali paradigma, semangat, proyeksi dari ungkapan Iqra' bismirabbikalladzi khalaq. Untuk mengokohkan kembali posisi Allah menjadi posisi tertinggi," tegasnya.

Baru setelah itu, urutannya adalah manusia, karya manusia. "Termasuk itu, itu juga digunakan sekali lagi, cara kita untuk mendekatkan diri kepada Allah," tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

FOLU Goes to School di Gunungkidul: MLH PP Muhammadiyah Dorong Akselerasi Mitigasi Karbon Melalui La....

Suara Muhammadiyah

8 June 2026

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Estri Rukmiyanti resmi dilantik menjadi Kepala SD Muhammadiyah Condongc....

Suara Muhammadiyah

12 July 2026

Berita

Dekan FAI UM Bandung Tegaskan Pentingnya Toleransi dan Keadilan BANDUNG, Suara Muhammadiyah –....

Suara Muhammadiyah

21 December 2024

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara meraih 2 prestasi membanggakan d....

Suara Muhammadiyah

27 October 2025

Berita

PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah - Ika Rizqy Damayanti, mahasiswi tunarungu asal Desa Kalimade, Kecama....

Suara Muhammadiyah

21 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah