The Power Of Mudik Lebaran dan Kerinduan Spiritual
Oleh: Agus Sholeh, Anggota Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Pernah bertugas di Kementerian Agama
Mudik ke kampung halaman saat Hari Raya Idul Fitri merupakan salah satu tradisi tahunan yang selalu dinanti-nantikan oleh masyarakat Indonesia, khususnya yang beragama Islam.
Yang menarik, sekarang ini lebaran dan mudik ke kampung tidak lagi hanya milik kaum Muslimin, karena banyak non Islam (nonis) juga ikut menikmati hebohnya mudik ke kampung halaman.
Saat Ramadhan kemarin, dimana-mana dihebohkan dengan banyaknya nonis (non Islam) yang ikut war (nguber) takjil tiap sore, karena banyak makanan menarik saat mau berbuka puasa. Bulan puasa memang dikenal juga sebagai pesta kuliner.
Pihak Kepolisian telah memprediksi tanggal puncak arus mudik dan arus balik Lebaran 2026, masing-masing terjadi dalam dua gelombang. Pergerakan masyarakat diperkirakan meningkat signifikan dalam beberapa hari tertentu menjelang dan setelah Hari Raya Idul Fitri.
Sesuai dengan perkiraan Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Korlantas Polri), puncak arus mudik Lebaran 2026 terjadi dalam dua gelombang, yaitu pada 14–15 Maret 2026 serta 18–19 Maret 2026, bertepatan dengan mulainya cuti bersama.
Sedangkan puncak arus balik lebaran 2026 diperkirakan akan terjadi pada 24–25 Maret 2026, dan gelombang kedua pada 28–29 Maret 2026. Pemerintah memperkirakan total mobilitas masyarakat selama masa Lebaran mencapai sekitar 143,9 juta perjalanan. Dari jumlah tersebut, sekitar 52 persen pemudik diperkirakan menggunakan kendaraan pribadi.
Kepala Pusat Kebijakan Keselamatan dan Keamanan Transportasi Kementerin Perhubungan (Kemenhub) sekaligus Ketua Posko Harian Angkutan Lebaran 2026, Bernadette Endah Sekar Mayashanti menjelaskan pergerakan pemudik pada musim angkutan Lebaran tahun ini mengalami lonjakan signifikan.
Hingga Kamis (19/3/2026) total pergerakan penumpang dari H-8 hingga H-3 mencapai 7.753.476 orang. Angka ini naik 10,95 persen dibandingkan dengan angkutan Lebaran tahun 2025, yaitu sebanyak 6.988.008 orang.
Dia juga menyebut kenaikan jumlah penumpang terjadi di seluruh moda transportasi. Peningkatan tertinggi terjadi pada sektor perkeretaapian. Untuk perkeretaapian naik 15,25 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Udara naik domestik dan internasional 6,88 persen. Untuk laut naik 6,82 persen. Penyeberangan naik 13,40 persen dan darat naik sebanyak 7,64 persen dibandingkan dengan tahun lalu.
Selain itu, arus kendaraan di jalan tol juga mengalami peningkatan. Jumlah kendaraan yang keluar dari gerbang tol Jakarta tercatat naik 4,35 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Sementara itu kendaraan yang masuk ke Jakarta juga melonjak lebih tinggi, yakni sebesar 14,24 persen.
Sedangkan di wilayah Jabodetabek, pergerakan kendaraan baik yang keluar maupun masuk melalui gerbang tol tercatat meningkat sebesar 0,97 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Bagi masyarakat Indonesia, mudik telah menjadi fenomena sosial yang rutin dilakukan oleh para perantau untuk kembali ke kampung halamannya. Apalagi sekarang banyak fasilitas yang memudahkan orang mudik ke kampung. Pemerintah, lewat Kementerian maupun BUMN mengadakan mudik gratis, baik lewat kereta api maupun bus. Belum lagi kalangan swasta, ormas dan partai politik yang mengadakan mudik gratis untuk masyarakat.
Sebagian orang berpendapat kalau lebaran gak mudik serasa ada yang kurang pas alias tidak afdol. Lebaran tidak mudik ke kampung rasanya asyik. Tak dipungkiri, pulang ke kampung halaman menjadi momen yang ditunggu-tunggu umat Islam setelah sebulan berpuasa.
Rasulullah pun Rindu Kampung
Rasulullah pun pernah merasakan bagaimana rasanya rindu terhadap kampung halaman, yaitu Makkah, setelah dia terpaksa hijrah ke Madinah karena keadaan di Makkah yang tidak kondusif untuk tinggal dan berdakwah..
Hal itu terungkap dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, yakni Rasulullah SAW bersabda, "Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Mekah, atau bahkan lebih."
Pada hadis lain, terdapat secuplik hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmizi, ini melukiskan dengan indah jalinan cinta yang kuat antara Rasulullah SAW dan Makkah, tanah kelahiran beliau. Di sana tertuliskan ungkapan rindu dan kasih sayang yang mendalam.
Dari Ibnu Abbas; ia berkata, Nabi bersabda: "Betapa indahnya engkau wahai negeriku (Makkah). Betapa aku sangat mencintai dirimu. Sekiranya kaumku tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu."
Bahkan malaikat Jibril sampai turun untuk meredam kerinduan Nabi Muhammad terhadap kota Makkah saat peristiwa hijrah. Peristiwa tersebut terekam dalam surah QS. al-Qasas ayat 85. Yang artinya: “Sesungguhnya Yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Alquran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata.”
Dalam tafsir al-Munir halaman 544, Wahbah Zuhaili menjelaskan, sebelum ayat ini turun, diriwayatkan Nabi Muhammad merasa rindu saat melihat jalanan menuju kota Makkah ketika berada di daerah Juhfah, setelah keluar dari Gua tempat persembunyian.
Malaikat Jibril pun turun, untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Muhammad tersebut. “Apakah engkau rindu pada kampungmu dan tempat kelahiranmu?” Nabi menjawab “Iya.” Kemudian ayat ini turun.
Kerinduan Nabi sangat dipahami, Makkah merupakan kota kelahirannya dan kota yang membesarkannya. Walaupun Nabi Muhammad didzalimi oleh kafir Quraisy dan tidak mendapatkan ruang untuk berdakwah, namun Nabi sangat mencintai kampung halaman dan kaumnya.
Saat kecil, Nabi Muhammad dirawat oleh keluarga di Makkah, Muhammad saat remaja bermain dan menggembala kambing di perbukitan Makkah, Muhammad dewasa dipertemukan dengan sang Istri tercinta Khadijah, sesaat setelah mendapatkan risalah kenabian, Nabi Muhammad dimusuhi oleh kaummnya sendiri.
Kesabaran dan keteguhan Nabi Muhammad diuji dalam berdakwah pada saat itu. Makkah menjadi kota kelahiran yang penuh kenangan. Maka wajar saja jika Nabi Muhammad berat meninggalkan kota Makkah menuju Madinah dan terus menyampaikan risalah kenabian kepada umat manusia.
Kerinduan Spiritual
Mencintai kampung halaman atau tempat kelahiran merupakan fitrah dan naluri manusiawi. Seseorang akan ingat kampung halaman karena terlalu banyak pengalaman hidup atau romantika saat kecil yang menempa kehidupannya. Ada banyak alasan kenapa seseorang itu pergi meninggalkan kampung halaman dan kadang lama tak kembali.
Beberapa suku di Indonesia dikenal sebagai perantau ulung yang kadang sampai beranak pinak tapi masih tidak melupakan tanah leluhurnya. Yang walaupun di tanah leluhurnya tidak ada barang mewah atau kemewahan hidup yang ditinggalkan. Namun ternyata, kampung halaman menyimpan segudang kerinduan dan kenangan masa-masa kecil.
Tradisi mudik dapat diartikan sebagai suatu simbol akan munculnya kesadaran rohani atau kerinduan spiritual akan nilai-nilai lama yang terbangun saat kecil.
Menurut Komaruddin Hidayat bahwa manusia itu homo festivus, makhluk yang suka berfestival. Festival mengemban tiga misi. Pertama, mengenang budaya dan tradisi lama. Kedua, mengenalkan tradisi (lama) itu kepada generasi baru. Ketiga, memperhadapkan tradisi lama pada situasi hari esok berupa penguatan budaya.
Di ritual mudik ini ada upaya untuk mengenang (tradisi) masa lalu, dan mengenalkan tradisi itu kepada anak-anak agar dapat menjadi nilai-nilai yang positif dalam menghadapi tantangan masa depan.
Agus Maladi Irianto dalam tulisannya Mudik dan Keretakan Budaya menjelaskan ada 3 dimensi dalam tradisi mudik.
Pertama, mudik memiliki dimensi spiritual-kultural. Mudik adalah sebuah tradisi atau warisan dari para leluhur.
Ikatan kehidupan duniawi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan setelah di dunia. Oleh karena itu, orang-orang tetap menziarai kuburan-kuburan leluhur untuk mendoakan keselamatannya. Dalam waktu tertentu orang-orang akan menyempatkan untuk berkunjung ke makam walau terhalang oleh kondisi geografis maupun ekonomi. Hal ini yang kemudian melahirkan tradisi mudik.
Kedua, adalah dimensi psikologis. Mudik memberikan manfaat positif untuk mengisi kegersangan dalam jiwa manusia kota. Kerasnya kehidupan di tanah perantauan dapat mendorong timbulnya stress dan ketidak tenangan dalam meniti kehidupan. Karena di perantauan akan bertemu dengan berbagai macam karakter manusia dan seribu satu macam kepentingan yang kadang tidak mudah untuk dihadapi. Karena itu bertemu dengan sanak keluarga di kampung halaman membuat hidup terasa nyaman dan tenang. Ada kedamaian di kampung halaman yang tidak didapatkan di tanah Rantau.
Ketiga, adalah dimensi sosial. Pada dimensi ini masyarakat perantau kembali ke kampung halaman dengan status yang berbeda. Keberhasilan ataupun kegagalan di tanah rantau akan mempengaruhi status sosial keluarganya di kampungnya. Cerita-cerita tersebut dapat memberikan pengaruh bagi tetangga atau kerabat untuk mengikuti jejaknya.
Puasa Ramadhan selama sebulan penuh itu memberikan suatu pengalaman spiritual yang agung bahwa hanya manusia-manusia yang takwa saja yang bernilai di hadapan Allah, Sang Khalik. Bukan karena baju baru, kendaraan baru atau selfi di tempat-tempat wisata yang penuh daya tarik.
Mudik lebaran ke kampung halaman secara esensial sebenarnya pada kekuatan setiap orang untuk merapatkan kembali tali siraturahmi dan saling memaafkan atas segala kesalahan untuk kemudian menjadi makhluk baru yang suci (fitri) dan berdaya guna untuk yang lain.
Semoga mudik tahun ini penuh dengan keberkahan dan sarat dengan makna kehidupan yang dapat membangun Kembali pribadi-pribadi fitri (suci).
Selamat mudik ke kampung halaman kawan dan jangan lupa kalau nanti kembali ke Jakarta membawa oleh-oleh yang terindah, yaitu bahagia.
