JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sebagai sebuah ibadah wajib, puasa (ash-shiyam), meniscayakan proses penempaan diri menjadi manusia bertakwa. Tapi, hal itu tidak berlaku bim salabim.
“Manusia bertakwa itu dapat terbentuk melalui proses yang panjang (berkelanjutan),” kata Abdul Mu’ti.
Di situlah relevansi puasa. “Yang karenanya setiap tahun, kita sekalian umat Islam disyariatkan untuk menunaikan puasa di bulan Ramadhan,” lanjut Mu’ti.
Sebagai paket ibadah dalam Islam, puasa memiliki empat dimensi substansial. Pertama, dasar dari pelaksanaan puasa itu sendiri. Instrumennya termaktub di Qs al-Baqarah ayat 183.
Kedua, niat dalam berpuasa. Mu’ti menegaskan, niat itu sangat penting, karena sebagai salah satu syarat diterima ibadah tersebut.
“Mengharapkan rida Allah dan ditunaikan sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah,” urai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, Rabu (18/2) di TvMu dalam program Jendela Ramadhan.
Karenanya, yang ketiga, dimensi dalam aspek kaifiyah. Umat Islam perlu memahami sistematisasi ibadah puasa secara komprehensif.
“Ibadah puasa memiliki tata cara sebagaimana yang telah disyariatkan oleh Allah dan disunahkan oleh Rasulullah,” ucap Mu’ti, yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia ini.
Lain halnya dimensi keempat, yaitu hikmah puasa. Pelaksanaan ibadah puasa yang difardhukan oleh Allah sejak tahun kedua hijriah itu, memiliki makna amat mendalam. Tidak lain menjadi manusia bertakwa.
“Puasa adalah sarana yang menuntun, membimbing, dan membentuk manusia menjadi pribadi-pribadi bertakwa,” urainya.
Menggarisbawahi kata takwa atau manusia bertakwa itu, sambung Mu’ti, sebagai kualifikasi yang menunjukkan kemuliaan manusia. “Dan menunjukkan derajat dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,” tandasnya. (Cris)

