KULONPROGO, Suara Muhammadiyah - Program pemberdayaan berbasis digital dan lingkungan digerakkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Padukuhan Beran Pancasan, Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo. Dua program utama yang dijalankan, yakni pendampingan pembuatan QRIS bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pembentukan bank sampah desa.
Inisiatif tersebut dinilai relevan dengan tantangan desa saat ini, seperti rendahnya adopsi pembayaran digital di kalangan pelaku usaha kecil serta meningkatnya persoalan sampah rumah tangga.
Ketua Tim KKN UMY Kelompok 014 Padukuhan Bugel, Gigih Dwi Cahyo, mengatakan bahwa sebagian besar UMKM di wilayah tersebut masih mengandalkan transaksi tunai. Kondisi itu membatasi akses konsumen dan mempersempit peluang ekspansi pasar.
“Melalui pendampingan QRIS, kami membantu pelaku UMKM mendaftar, memahami sistem pembayaran nontunai, hingga praktik penggunaannya. Harapannya, mereka dapat melayani konsumen lebih luas, termasuk generasi muda yang terbiasa dengan pembayaran digital,” ujarnya saat dihubungi secara daring pada Rabu (4/3).
Dengan penggunaan QRIS, pelaku UMKM dapat menerima pembayaran dari berbagai aplikasi perbankan dan dompet digital dalam satu kode. Selain meningkatkan efisiensi transaksi, digitalisasi juga membuka peluang pencatatan keuangan yang lebih rapi dan transparan.
Tidak hanya berfokus pada penguatan ekonomi, mahasiswa KKN UMY juga menginisiasi pembentukan bank sampah sebagai solusi atas persoalan lingkungan. Program ini dirancang untuk mendorong kebiasaan memilah sampah dari rumah serta memberikan nilai ekonomi pada sampah yang terkumpul.
Mahasiswa KKN lainnya, Andra Fareza, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan tidak sebatas sosialisasi, melainkan pembentukan sistem pengelolaan yang melibatkan warga secara aktif.
“Bank sampah ini kami rancang agar berkelanjutan. Warga dapat menabung sampah yang sudah dipilah, lalu menukarkannya dengan nilai tertentu. Jadi, ada insentif ekonomi sekaligus dampak kebersihan lingkungan,” katanya.
Lurah Bugel, Drs. Sunardi, mengapresiasi program tersebut karena dinilai selaras dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, digitalisasi UMKM dan pengelolaan sampah merupakan dua isu strategis desa yang selama ini membutuhkan pendampingan.
“QRIS membantu UMKM menjadi lebih modern dan efisien, sementara bank sampah mendorong desa lebih sehat dan produktif. Kami berharap program ini tidak berhenti setelah masa KKN selesai, tetapi dapat dilanjutkan oleh masyarakat,” ungkapnya.
Respons warga pun positif. Sejumlah pelaku UMKM mengaku terbantu karena kini memiliki alternatif pembayaran yang lebih praktis. Sementara itu, warga lainnya mulai lebih sadar pentingnya memilah sampah setelah melihat manfaat ekonomi yang dapat diperoleh.
Program ini menunjukkan peran mahasiswa tidak sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga menjadi katalis perubahan sosial. Melalui pendekatan kolaboratif, KKN UMY di Desa Bugel menghadirkan model pemberdayaan yang memadukan transformasi digital dengan keberlanjutan lingkungan, yakni dua aspek yang semakin krusial dalam pembangunan desa ke depan. (Syafitri)

