LEMBATA, Suara Muhammadiyah - Dalam keheningan Ramadhan yang penuh hikmah, Keluarga Besar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Lembata menghadirkan sebuah perjumpaan yang melampaui sekadar seremoni. Ia menjadi titik nyala dimana sebuah awal untuk kembali menghidupkan gerakan intelektual dan dakwah yang berkemajuan. Melalui kegiatan Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama dalam rangka Milad ke-62 IMM yang dilangsungkan di Aula SMK Muhammadiyah Walangsawa pada Selasa (17/03/2026), para kader, alumni, dan tokoh Muhammadiyah dipertemukan dalam satu kesadaran: merawat kembali nilai, arah, dan tujuan perjuangan.
Bertempat di SMK Muhammadiyah Walangsawa yang tidak sekadar menjadi lokasi kegiatan, tetapi juga memiliki makna historis sebagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) pertama di Kabupaten Lembata acara ini semakin menemukan ruhnya. Kehadiran sekolah ini menjadi simbol nyata bahwa Muhammadiyah telah lama menanamkan jejak dakwahnya melalui pendidikan, menjadikan ilmu sebagai jalan perubahan dan peradaban.
Di ruang yang sederhana namun sarat makna itu, yang hadir bukan hanya individu-individu, tetapi juga jejak sejarah, nilai-nilai perjuangan, dan cita-cita besar Muhammadiyah. Sebuah gerakan yang sejak awal berdirinya menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai fondasi utama, dengan misi menegakkan amar ma’ruf nahi munkar serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Falsafah gerak Muhammadiyah bertumpu kuat pada firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 104:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
Ayat ini bukan sekadar bacaan normatif, melainkan jiwa dari gerakan itu sendiri bahwa setiap kader adalah subjek perubahan. Dakwah tidak cukup berhenti pada kata-kata, tetapi harus menjelma dalam tindakan yang nyata dan berdampak.
Dalam konteks silaturahim yang menjadi inti kegiatan ini, Islam juga menegaskan pentingnya menjaga hubungan persaudaraan. Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 1:
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan silaturahim.”
Serta dipertegas dalam Surah Muhammad ayat 22–23:
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah...”
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa silaturahmi bukan hanya tradisi sosial, melainkan bagian dari perintah ilahi yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Maka pertemuan ini bukan sekadar temu kangen, tetapi juga bentuk ibadah kolektif untuk menyambung kembali relasi yang mungkin sempat terputus.
Kehadiran para sesepuh, ayahanda pemikir dan pejuang, menjadi simbol kesinambungan nilai yang tidak terputus oleh zaman. Mereka adalah penjaga api ideologi yang telah lama menyala di tanah Lembata. Turut hadir Ketua Pembangunan, Ketua Komite, serta Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah Walangsawa yang menjadi representasi konkret dari gerakan pendidikan Muhammadiyah.
Kegiatan ini semakin kuat dengan kehadiran Sekretaris Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah NTT periode 2023–2027, Rahmat Taufik Lamadike. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya menjaga prinsip tajdid. Muhammadiyah, menurutnya, harus tetap menjadi gerakan yang responsif terhadap perubahan zaman, namun tetap kokoh dalam nilai dasar.
Ia juga mengingatkan bahwa agama tidak boleh berhenti pada aspek ritual semata. Nilai-nilai dalam Surah Al-Ma’un menjadi inspirasi bahwa keberagamaan sejati tercermin dalam kepedulian sosial dimana membela yang lemah, memperhatikan anak yatim, dan menghadirkan keadilan dalam kehidupan nyata.
Forum silaturahim ini kemudian berkembang menjadi ruang dialektika yang hidup. Diskusi yang berlangsung membuka kesadaran bersama bahwa tantangan ke depan semakin kompleks, sehingga membutuhkan gerakan yang lebih terorganisir, terarah, dan berbasis nilai.
Dari forum tersebut, dirumuskan tiga agenda strategis sebagai arah gerakan IMM Kabupaten Lembata.
Pertama, melakukan pendataan kembali alumni IMM se-Kabupaten Lembata sebagai langkah awal memperkuat jaringan dan konsolidasi gerakan. Dalam Muhammadiyah, jaringan adalah kekuatan, dan setiap alumni adalah potensi yang harus dihimpun untuk memperluas dampak dakwah.
Kedua, melakukan revitalisasi sekaligus menghidupkan kembali seluruh organisasi otonom Muhammadiyah (ORTOM) dari tingkat ranting hingga cabang. Ini adalah upaya mengembalikan denyut nadi gerakan agar tetap hidup, aktif, dan relevan di tengah masyarakat. Revitalisasi ini akan ditindaklanjuti hingga ke Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Lembata, sehingga tercipta kesinambungan gerakan dari akar hingga ke tingkat yang lebih strategis.
Ketiga, meneguhkan kembali dakwah melalui eksistensi SMK Muhammadiyah Walangsawa. Sebagai AUM pertama di Kabupaten Lembata, sekolah ini memiliki posisi yang sangat strategis bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat kaderisasi dan simbol kehadiran Muhammadiyah di daerah. Pendidikan dalam Muhammadiyah adalah jalan perubahan, tempat di mana nilai, ilmu, dan karakter dibentuk secara utuh.
Semangat perubahan ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Ayat ini menjadi pengingat bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran internal, lalu diwujudkan dalam gerakan kolektif yang nyata.
Momentum Milad IMM ke-62 dengan tema “Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia” menjadi refleksi sekaligus panggilan moral. Bergerak berarti keluar dari stagnasi, sedangkan berdampak berarti menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
