Transformasi Pengasuhan Anak: Ibadah Sosial dan Wujud Islam Berkemajuan

Suara Muhammadiyah

25 November 2025

804
Foto Istimewa

Foto Istimewa

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ketua Bidang Kepemimpinan, Organisasi, dan Jaringan, Misran Lubis, S.Ag, menjadi narasumber pada Special Event Webinar Series Batch 1 (24/11) dengan tema Hakikat dan Spritualitas Pengasuhan Anak, yang di hadiri 110 participant dari berbagai daerah. 

Dalam pemaparan materinya, Misran menegaskan kembali komitmen Muhammadiyah dalam memuliakan anak melalui transformasi sistem pengasuhan. 

Ia menekankan bahwa pengasuhan anak—khususnya yatim, piatu, dan terlantar—bukan sekadar aktivitas sosial biasa, melainkan sebuah amanah teologis dan ibadah sosial yang berakar kuat pada nilai tauhid. 

"Muhammadiyah memandang pengasuhan sebagai manifestasi nyata dari Teologi Al-Ma'un. Ini adalah gerakan persyarikatan yang menempatkan perlindungan anak sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan, di mana orang yang mendustakan agama adalah mereka yang menghardik anak yatim," ujar Misran Lubis, merujuk pada landasan teologis QS. Al-Ma'un. 

Transformasi AUM Kluster Pengasuhan

Sejalan dengan Risalah Islam Berkemajuan hasil Muktamar ke-48, MPKS PP Muhammadiyah melakukan tajdid (pembaruan) sosial dengan menstandarisasi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang sosial menjadi lebih profesional dan berbasis keluarga. 

Misran menjelaskan perubahan nomenklatur dan fungsi lembaga layanan sosial Muhammadiyah menjadi tiga kluster utama sesuai Ketentuan MPKS PP Muhammadiyah No. 268/1.7/A/2023, yaitu 

Pertama, Pusat Santunan Keluarga Muhammadiyah (PSKM) yang berfokus pada pencegahan keterpisahan anak dari keluarga. Layanan ini memberdayakan keluarga rentan agar tetap mampu mengasuh anaknya sendiri, termasuk melalui reunifikasi anak yang pernah dititipkan di panti kembali ke keluarga. 

Kedua, Pusat Asuhan Keluarga Muhammadiyah (PAKM): Layanan pengasuhan berbasis keluarga pengganti (foster care) bagi anak yang tidak dapat diasuh keluarga kandungnya, untuk menjamin kebutuhan material dan spiritual anak dalam lingkungan keluarga. 

Ketiga, Muhammadiyah Children Centre (MCC/LKSA): Transformasi dari panti asuhan konvensional menjadi layanan residensial sementara. 

Misran menegaskan bahwa panti asuhan kini menjadi alternatif terakhir (last resort), yang fokus pada layanan darurat atau perlindungan khusus dengan tujuan akhir pengembalian ke keluarga. 

"Pengasuhan keluarga harus diutamakan karena sejalan dengan maqashid syariah untuk menjaga keturunan (hifz an-nasl) dan jiwa (hifz an-nafs)," tambah Misran. 

Guna menjamin keamanan anak, Misran Lubis juga menyoroti implementasi Sistem dan Prosedur Keselamatan Anak (SPKA) di seluruh lingkungan AUM Sosial. 

Kebijakan ini mencakup pencegahan, pelaporan, dan penanganan kasus kekerasan.
 
"Kami memberlakukan Kode Etik yang ketat. Dilarang keras melakukan hukuman fisik, eksploitasi, atau tindakan yang merendahkan martabat anak. 

Seluruh pegiat sosial Muhammadiyah wajib memperlakukan anak dengan hormat tanpa diskriminasi, demi kepentingan terbaik bagi anak (best interest of the child)," tegasnya. (Misran Lubis)

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM)  Kaliwiro Kab. Wonosobo ada....

Suara Muhammadiyah

27 December 2023

Berita

AMBON, Suara Muhammadiyah – Krisis ekologis yang semakin akut dan menyebabkan dampak buruk bag....

Suara Muhammadiyah

27 February 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Band....

Suara Muhammadiyah

24 January 2025

Berita

INDRAMAYU, Suara Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menghadiri peletakkan ....

Suara Muhammadiyah

26 December 2024

Berita

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah - Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (....

Suara Muhammadiyah

18 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah