Tren “Login Muhammadiyah” Kian Populer, Ini Makna Islam Berkemajuan
YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fenomena meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap Muhammadiyah, yang populer dengan istilah “login Muhammadiyah” di media sosial, dinilai sebagai bagian dari dinamika positif perkembangan keberagamaan di era modern. Hal ini tidak lepas dari ijtihad dan kontribusi nyata Muhammadiyah yang semakin relevan dengan kebutuhan zaman.
Sekretaris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.P.A., menyebut meningkatnya perhatian publik terhadap Muhammadiyah merupakan dampak dari berbagai pembaruan (ijtihad) yang dilakukan secara konsisten.
“Ijtihad-ijtihad baru Muhammadiyah, seperti Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), menjawab kebutuhan umat akan kepastian dan ketepatan dalam beribadah. Hal ini membuat praktik keagamaan menjadi lebih terukur, dapat diprediksi, dan selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya dalam wawancara di Gedung AR A UMY, Kamis (9/4).
Beragama yang Presisi dan Relevan
Menurut Bachtiar, pendekatan Muhammadiyah yang berbasis ilmu pengetahuan menjadikan praktik keagamaan lebih presisi dan mudah diterima oleh masyarakat luas. Di era digital yang serba cepat dan rasional, model beragama seperti ini dinilai selaras dengan kebutuhan generasi masa kini.
Ia mencontohkan ijtihad Muhammadiyah dalam penentuan arah kiblat yang lebih akurat berdasarkan ilmu astronomi. Meski sempat menuai penolakan, pendekatan tersebut kini justru menjadi rujukan luas.
“Dulu banyak yang belum menerima, tetapi sekarang diikuti secara luas. Ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis ilmu pengetahuan pada akhirnya akan diterima karena memberikan kepastian,” jelasnya.
Inklusif dan Memberi Manfaat Nyata
Selain ijtihad keagamaan, faktor lain yang membuat Muhammadiyah semakin diminati adalah kontribusi nyata dalam kehidupan masyarakat. Muhammadiyah dinilai hadir tanpa sekat, melayani berbagai lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
“Yang membuat Muhammadiyah diterima bukan sekadar karena popularitas, tetapi karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, baik melalui sektor pendidikan, kesehatan, maupun layanan sosial,” tambahnya.
Bachtiar juga menilai salah satu faktor yang membuat Muhammadiyah semakin dekat dengan masyarakat adalah praktik keberagamaannya yang sederhana, praktis, dan tidak berbelit. Prinsip Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah tercermin dalam upaya menghadirkan kemudahan, kebermanfaatan, dan solusi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Beragama tidak harus rumit. Muhammadiyah sejak lama mengajarkan praktik yang sederhana, sesuai syariat, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern,” ungkapnya.
Menurutnya, kesederhanaan tersebut menjadi titik temu antara nilai-nilai Muhammadiyah yang telah berkembang lebih dari satu abad dengan karakter generasi masa kini yang mengutamakan efisiensi dan kepraktisan.
Tetap Rendah Hati di Tengah Popularitas
Meski demikian, Bachtiar mengingatkan agar warga Muhammadiyah tidak terjebak dalam euforia atas meningkatnya popularitas tersebut. Ia menegaskan bahwa tujuan utama Muhammadiyah tetaplah untuk beribadah dan memberikan manfaat bagi sesama, bukan untuk menjadi yang paling unggul atau dibandingkan dengan kelompok lain.
“Tidak perlu berlebihan. Muhammadiyah tidak sedang berlomba menjadi yang paling populer. Yang terpenting adalah terus memberikan manfaat dan kontribusi bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap menjaga sikap saling menghormati dan tidak terjebak dalam perbandingan antar-kelompok keagamaan.
“Jika ada perbedaan, tidak perlu disibukkan untuk menilai. Fokus saja pada bagaimana kita dapat membantu dan memberikan kebaikan bagi sesama,” pungkasnya.
Fenomena “login Muhammadiyah” pada akhirnya tidak hanya menjadi tren digital, tetapi juga mencerminkan semakin kuatnya daya tarik Islam berkemajuan yang relevan, rasional, dan inklusif di tengah perubahan zaman. (Jeed)
