Ukhuwah di Era Hybrid: Membimbing Remaja Keluar dari "Kesepian Digital" dan Cyberbullying
Penulis: Achmad Purtama Andana, S.Pd.I., M.Pd., Gr., Guru SMK Negeri 1 Purwokerto, Fokal IMM Kab. Banyumas
Remaja hari ini hidup di sebuah paradoks yang belum pernah dialami oleh generasi sebelumnya. Di satu sisi, mereka adalah generasi paling terhubung dalam sejarah peradaban manusia. Hanya dengan gesekan jari di atas layar gawai, ribuan informasi, komentar dan figur publik hadir dalam genggaman. Namun, di sisi lain, ruang-ruang kamar tidur mereka menyimpan sunyi yang pekat. Mereka terhubung secara siber, tetapi terasing secara nyata.
Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai the lonely crowd atau keramaian yang semu, di mana remaja merasa sendiri di tengah riuhnya linimasa. Pergaulan remaja kini telah bergeser sepenuhnya ke ranah hybrid. Batas antara dunia nyata dan dunia maya melebur melalui game online kompetitif, second account instagram yang anonim, hingga algoritma TikTok yang adiktif. Ruang-ruang digital ini menawarkan kebebasan tanpa batas, yang sayangnya sering kali kebablasan.
Kekhawatiran terhadap ekosistem digital bukan sekadar asumsi moral, melainkan persoalan sosial yang telah menjadi perhatian dalam berbagai penelitian ilmiah. Hanika, Witjaksono, dan Pratiwi (2021), dalam artikel “Fenomena Cyberbullying pada Mahasiswa di Jakarta Selatan” yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Media, Public Relations, dan Komunikasi (IMPRESI), Volume 2, Nomor 1, melaporkan bahwa 25,9% responden pernah menjadi korban cyberbullying. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa perundungan siber merupakan persoalan nyata dalam interaksi digital. Meskipun demikian, angka tersebut perlu dipahami sesuai dengan populasi dan metode penelitian yang digunakan, sehingga tidak dapat langsung digeneralisasi sebagai prevalensi seluruh remaja Indonesia.
Dampak cyberbullying juga melampaui persoalan komunikasi yang tidak santun. Arif, Qadir, Martins, dan Khuwaja (2024), melalui artikel “The Impact of Cyberbullying on Mental Health Outcomes Amongst University Students: A Systematic Review” yang diterbitkan dalam PLOS Mental Health, Volume 1, Nomor 6, mengkaji 32 penelitian dengan total 29.593 mahasiswa. Tinjauan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara viktimisasi siber dan berbagai persoalan kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan, stres, serta penurunan harga diri.
Sementara itu, Agustiningsih, Yusuf, dan Ahsan (2024), dalam artikel “Relationships Among Self-Esteem, Bullying, and Cyberbullying in Adolescents: A Systematic Review” yang diterbitkan dalam Journal of Psychosocial Nursing and Mental Health Services, Volume 62, Nomor 5, membahas keterkaitan harga diri dengan pengalaman perundungan dan cyberbullying pada remaja. Kedua kajian tersebut memperkuat urgensi perhatian terhadap dampak psikososial perundungan siber, meskipun hubungan yang ditemukan dalam penelitian tidak selalu membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Karakteristik komunikasi digital, seperti interaksi melalui layar, jarak fisik dan kemungkinan penggunaan identitas anonim, dapat membuat sebagian pelaku kurang menyadari konsekuensi tindakannya terhadap orang lain. Hal ini sejalan dengan temuan literatur internasional oleh Brewer dan Kerslake (2015) dalam jurnal Computers in Human Behavior, yang menegaskan bahwa terdapat korelasi negatif yang signifikan antara tingkat empati dengan perilaku cyberbullying. Penurunan empati afektif dan kognitif di ruang anonim membuat seseorang lebih mudah menjadi pelaku perundungan siber.
Ketika empati dan tanggung jawab moral diabaikan, ruang digital berpotensi menjadi tempat penyebaran penghinaan, intimidasi, dan kekerasan verbal. Dampak yang dialami korban pun tidak selalu berhenti ketika unggahan dihapus atau percakapan berakhir. Pengalaman perundungan dapat berkaitan dengan terganggunya rasa aman, kepercayaan diri, dan kualitas hubungan sosial. Oleh karena itu, persoalan ini perlu ditangani melalui pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis, sosial, dan etika.
Anatomi Pergaulan Remaja: Ilusi Keterhubungan dan Runtuhnya Empati
Dunia maya memberikan ruang bagi remaja untuk berekspresi, namun lemahnya kontrol diri sering kali meruntuhkan rem moral mereka. Berdasarkan pengalaman mengelola ekosistem pendidikan jarak jauh, kemandirian adalah kunci utama keberhasilan individu. Tanpa kemandirian yang matang, seseorang akan mudah terombang-ambing oleh lingkungan. Hal serupa terjadi pada psikologis remaja di ruang siber. Kurangnya kemandirian emosional membuat mereka sangat bergantung pada pengakuan digital (likes dan followers), sehingga rentan mengalami stres ketika validasi tersebut tidak didapatkan.
Ketika empati digital tumpul, batasan-batasan kemanusiaan pun dilanggar. Padahal Islam secara tegas melarang segala bentuk perendahan martabat manusia. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.
Panggilan fasik adalah panggilan dengan menggunakan kata-kata yang mengandung penghinaan atau tidak mencerminkan sifat seorang mukmin. Ayat ini adalah fondasi etika komunikasi Islam. Di era digital, "mengolok-olok" tidak lagi hanya berbentuk ucapan lisan di halaman sekolah, melainkan bermutasi menjadi komentar pedas, meme perundungan, hingga cancel culture di media sosial. Remaja perlu disadarkan bahwa setiap huruf yang mereka ketik di dunia maya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Strategi Pendampingan: Membangun Kemandirian Emosional dan Empati Digital
Mengingat karakteristik remaja yang dinamis butuh pendampingan yang tentunya berbeda. Kita dapat mengadopsi prinsip andragogi memposisikan remaja sebagai subjek yang diajak berdialog secara kritis, bukan sekadar objek ceramah moral. Langkah pertama adalah menanamkan tauhid interpersonal. Remaja perlu diajak memahami bahwa pengawasan Allah Swt berlaku mutlak di mana pun, termasuk di balik layar mode incognito atau akun anonim. Menjaga ukhuwah di dunia maya sama wajibnya dengan menjaga persaudaraan di dunia nyata.
Langkah kedua adalah melatih kemandirian emosional. Sebagaimana mahasiswa jarak jauh yang sukses karena mampu mengatur diri sendiri (self-regulated learning), remaja harus dibimbing untuk tidak menggantungkan harga diri mereka pada algoritma media sosial. Validasi sejati bersumber dari amal kebaikan dan kualitas interaksi sosial yang nyata. Ikhtiar ini pada hakikatnya adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap masa depan generasi bangsa. Peringatan keras Allah Swt dalam QS. An-Nisa ayat 9 sangat relevan untuk direnungkan:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Artinya:
Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).
Ketakutan terbesar hari ini bukanlah anak-anak yang tertinggal secara teknologi, melainkan anak-anak yang cerdas secara digital namun "lemah" secara moral, rapuh mentalnya akibat tertekan cyberbullying, serta kehilangan empati sosial dan ruh ukhuwahnya.
Era hybrid adalah keniscayaan zaman yang tidak bisa kita bendung. Tugas kita sebagai pendidik dan kader umat adalah membimbing remaja untuk menakhodai teknologi, bukan dikendalikan olehnya. Melalui penguatan nilai-nilai Islam berkemajuan, penanaman empati digital berbasis riset dan dalil, serta pembinaan kemandirian emosional, kita dapat mengarahkan remaja keluar dari perangkap "kesepian digital". Sudah saatnya kita ajak remaja mengubah fungsi gawai dari bilik-bilik sunyi yang menebar perundungan, menjadi jembatan ukhuwah yang menyebar kedamaian baik di dunia nyata maupun di ruang siber.

