YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Konferensi dan Silaturahmi Nasional Ulama Aisyiyah yang berlangsung pada Senin, 18 Mei 2026 menjadi ruang penegasan bahwa yang disebut ulama bukan hanya laki-laki. Dalam sejarah Islam, telah banyak ulama perempuan lahir, salah satunya yang terkenal adalah istri Nabi yang bernama Aisyah. Ia berhasil meriwayatkan 2210 hadits di sepanjang hidupnya. Di era Kiai Dahlan juga demikian, muncul sosok ulama perempuan disegani yang tak lain adalah istrinya sendiri, Nyai Walidah.
Mengusung tema “Konstruksi Pemikiran Ulama Aisyiyah: Respons terhadap Isu Keumatan dan Kebangsaan, Salmah Orbayinah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah mengatakan bahwa tema tersebut sangat relevan dengan situasi dan tantangan yang terjadi saat ini. Dimana peran dari Ulama Aisyiyah diharapkan dapat memberikan warna baru dalam berbagai persoalan kontemporer yang dihadapi umat.
“Ulama perempuan Aisyiyah harus menjadi aktor gerakan,” tegasnya.
Menurutnya, ada tiga kriteria seseorang dapat disebut sebagai ulama. Pertama, menguasai ilmu fikih. Sebagai landasan hukum dalam menetapkan sebuah ijtihad. Kedua, memiliki kompetensi yang mumpuni dalam ilmu tafsir. Dan ketiga, menguasai bahasa Arab.
“Melalui forum ini kita berharap bisa melahirkan ulama perempuan yang melampaui kebesaran Nyai Walidah,” ujar Salmah kepada Suara Muhammadiyah (18/5).
Selain itu ia berharap bahwa forum ini mampu menguatkan fungsi dari keluarga sakinah, mengingat tantangan yang dihadapi setiap keluarga di era sekarang semakin menantang. Banyak isu tentang keluarga yang relevan untuk dibahas, mulai dari dinamika pembagian waris hingga fenomena suami-istri yang melakukan LDM (Long Distance Marriage).
“Sebagai silaturahmi intelektual, mudah-mudahan konferensi ini bisa memberikan solusi kontekstual, serta memperkuat langkah-langkah konkrit untuk keumatan dan kebangsaan,” ujarnya di Ballroom Hotel SM Tower Malioboro.
Siti Aisyah, Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah yang membidangi ketarjihan menegaskan siapa yang disebut ulama Aisyiyah. Yaitu mereka yang memiliki kesalehan baik personal maupun sosial. Kemudian, mereka yang siap bergerak dan berkontribusi dengan ilmunya. Memiliki pemahaman yang mendalam terkait isu-isu keumatan kontemporer dari sudut pandang ilmu fikih dan tafsir. Dan yang terakhir, ulama perempuan Aisyiyah harus berpandangan wasathiyah, yaitu prinsip hidup yang mengajarkan sikap adil, seimbang, dan mengambil jalan tengah.
Konsep ini menjauhi segala bentuk sikap ekstrem, baik yang berlebih-lebihan (ifrath) maupun yang mengurangi ajaran agama (tafrith), sehingga menciptakan harmoni dan toleransi di tengah keberagaman.
Siti Aisyah, dalam sesi sambutannya memaparkan beberapa agenda strategis Aisyiyah ke depan. Mulai dari penulisan tafsir tematik tentang perempuan, penyusunan fikih perempuan berkemajuan, dan pembuatan profil serta roadmap ulama perempuan Aisyiyah.
“Dengan lahirnya ulama Aisyiyah, melalui pikirannya kita berharap bisa memberikan solusi terhadap berbagai persoalan umat dan bangsa,” tutupnya. (diko)

