Wujud Syukur Kemerdekaan RI Sesuai Al-Qur’an

Suara Muhammadiyah

24 August 2026

143
Istimewa

Istimewa

BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid Al Muttaqiin Grand Tanjung Elok Purwokerto pada Ahad pagi 23 Agustus 2026, ketika jamaah dari berbagai kalangan berkumpul untuk mengikuti pengajian rutin. Kegiatan yang digelar setiap pekan ini menjadi wadah memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus memperdalam pemahaman agama.

Dalam pengajian kali ini ustadz yang mengisi materi adalah Ust. Drs. H. Akhmad Khifni. Para jamaah diajak merenungi pentingnya memperbaiki diri melalui amalan sehari-hari, serta meneguhkan komitmen untuk menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan iman dan takwa sekaligus mengingat kemerdekaan Indonesia. Kehadiran jamaah  yang antusias menunjukkan bahwa tradisi pengajian Ahad pagi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan religius warga perumahan.

Dalam kajiannya Ust Khifni mengawali dengan pembacaan ayat-ayat Alquran yang terkait dengan wujud syukur kemerdekaan Republik Indonesia. Ayat yang terkait dengan menjaga kedaulatan negara diambil dari QS Saba ayat 15. Adapun Al A’raf: 95 terkait dengan negara yang berketuhanan Yang Maha ESa. Al Qashash ayat 77  terkait dengan pembangunan yang berkesinambungan. An Nahl ayat 90 berkaitan dengan menegakan keadilan. Al Hujurat ayat 13 terkait dengan memperkuat persatuan dan persaudaraan. Selanjutnya untuk musyawarah mufakat diambil dari As Syura ayat 38.

Dalam kajian memperingati hari kemerdekaan selanjutnya dijelaskan menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia dapat dimaknai sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan kehidupan yang aman, sejahtera, dan penuh rasa syukur kepada Allah SWT. Hal ini dapat diteladani dari QS. Saba ayat 15, yang menggambarkan negeri Saba sebagai negeri yang memiliki dua kebun di kanan dan kiri serta dianugerahi kehidupan yang baik, kemudian diperintahkan untuk memakan rezeki Allah dan bersyukur kepada-Nya. 

Ayat tersebut menunjukkan bahwa keamanan, kemakmuran, dan kekayaan sumber daya merupakan nikmat yang harus dijaga dengan rasa syukur dan tanggung jawab. Dalam konteks Indonesia, menjaga kedaulatan bukan hanya tugas aparat negara, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh warga negara melalui sikap cinta tanah air, menjaga persatuan dan kesatuan, menaati hukum, melindungi kekayaan alam, serta mencegah berbagai bentuk ancaman yang dapat merusak keutuhan bangsa. 

Dengan demikian, pesan QS. Saba ayat 15 mengajarkan bahwa kemakmuran dan keamanan suatu negeri harus diiringi rasa syukur, tanggung jawab, serta upaya bersama untuk menjaga negeri agar tetap menjadi tempat kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera bagi seluruh masyarakat.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa  QS. Al-A'raf ayat 96 menegaskan bahwa apabila penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan membukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi, sehingga keimanan dan ketakwaan menjadi landasan penting dalam membangun kehidupan bangsa yang adil, aman, dan sejahtera. Oleh karena itu, nilai Ketuhanan Yang Maha Esa perlu diwujudkan melalui kehidupan berbangsa yang menjunjung moral, keadilan, toleransi, serta tanggung jawab dalam mengelola negara dan menjaga kemaslahatan seluruh rakyat.

Pembangunan yang berkesinambungan merupakan upaya membangun kehidupan yang sejahtera dengan tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat sebagaimana pesan QS. Al-Qashash ayat 77. Ayat tersebut mengajarkan agar manusia menggunakan nikmat dan karunia Allah untuk meraih kebahagiaan akhirat, berbuat baik kepada sesama, serta tidak melakukan kerusakan di muka bumi. 

Oleh karena itu, pembangunan nasional harus dilaksanakan secara berkelanjutan, berkeadilan, dan bertanggung jawab dengan menjaga lingkungan, mengelola sumber daya alam secara bijaksana, serta memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Menegakkan keadilan merupakan prinsip utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nahl ayat 90 yang memerintahkan manusia untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan. Nilai keadilan harus diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintahan, penegakan hukum, pelayanan masyarakat, serta pemenuhan hak setiap warga negara tanpa diskriminasi. Dengan menegakkan keadilan secara konsisten, negara dapat membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, menjamin kepastian hukum, dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Memperkuat persatuan dan persaudaraan merupakan prinsip penting dalam kehidupan berbangsa, sebagaimana QS. Al-Hujurat ayat 13 yang mengajarkan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan untuk saling merendahkan. Keragaman suku, agama, budaya, dan latar belakang hendaknya menjadi kekuatan untuk membangun persatuan, dengan menjunjung sikap saling menghormati, toleransi, dan menghargai perbedaan. Dengan memperkuat ukhuwah dan persatuan, masyarakat Indonesia dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta bersama-sama mewujudkan kehidupan yang damai, adil, dan sejahtera.

Ust Khifni juga menjelaskan mengenai musyawarh mufakat sesuai As Syura ayat 38. Musyawarah mufakat merupakan prinsip penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. QS. Asy-Syura ayat 38 yang memuji orang-orang yang menyelesaikan urusan mereka dengan musyawarah. Dalam konteks kehidupan berbangsa, musyawarah menjadi sarana untuk menghimpun berbagai pendapat, menghargai perbedaan, dan mencari keputusan yang mengutamakan kepentingan bersama. Dengan mengedepankan musyawarah dan mufakat, setiap persoalan dapat diselesaikan secara bijaksana, demokratis, dan penuh tanggung jawab demi terciptanya kehidupan bangsa yang harmonis dan berkeadilan.

Dalam kehidupan sehari-hari diberikan contoh sederhana ketika suami istri pergi ke pasar tanpa musyawarah. Suami pergi ke pasar Wage membeli pakan ayam karena menganggap pakan ayamnya habis sehingga harus membeli lagi. Sebaliknya Istri ke pasar Pon membeli rantai jam untuk suaminya karena rantainya rusak. Setelah bertemu di rumah ternyata istri bercerita ayamnya dijual untuk membeli rantai, sementara pakan ayam yang dibeli suami tidak ada gunanya karena semua ayamnya sudah dijual, sehingga yang dibeli istri dan suami sama-sama tidak dapat dimanfaatkan.

Sebagai penutup Ust Khifni menyampaikan sikap gemar tolong menolong dan gotong royong sesuai Al Maidah ayat 2. Sikap gemar tolong-menolong dan gotong royong merupakan nilai penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis. QS. Al-Ma'idah ayat 2 yang memerintahkan untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, kerja sama dalam menyelesaikan persoalan bersama, serta membantu mereka yang membutuhkan tanpa membedakan latar belakang. Dengan memperkuat budaya gotong royong, masyarakat dapat membangun persatuan, meningkatkan kesejahteraan, dan menciptakan kehidupan yang saling menguatkan serta diridai Allah SWT.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo berhasil me....

Suara Muhammadiyah

27 May 2024

Berita

BANDARLAMPUNG, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah ke-111, Lembaga Pen....

Suara Muhammadiyah

21 November 2023

Berita

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Hari ini, Sabtu (20/12), warga Lamongan sedang berselimut rasa gembir....

Suara Muhammadiyah

20 December 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - 81 tahun, menjadi usia bangsa Indonesia saat ini. Sederet peristiwa....

Suara Muhammadiyah

16 August 2026

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah — Jum’at, 21 Maret 2025 M., bertepatan 21 Ramadhan 1446 H.....

Suara Muhammadiyah

2 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah