AGAR BASA-BASI TAK MENYAKITI HATI

Suara Muhammadiyah

12 April 2024

3057
Istimewa

Istimewa

AGAR BASA-BASI TAK MENYAKITI HATI

Banyak orang tak berpikir panjang sebelum ber-’basa-basi’. Padahal, akibatnya tidak jarang membuat orang lain sakit hati hingga cemas berkepanjangan yang menghantui. Bukan karena tidak paham dampaknya, namun karena basa-basi telah dinormalisasi menjadi cara membangun keakraban dan sapaan sehari-hari, yang kerap kali minim etika. Alih-alih membangun keakraban, ritual basa-basi kerap menjadi ajang melempar stigma dan dan penghakiman bagi orang lain.

Pertanyaan terkait pasangan dan jodoh bagi yang ‘jomblo’, pertanyaan ‘kapan punya anak?’ untuk yang sudah berkeluarga, ataupun ‘kapan punya anak lagi?’, bagi pasangan yang telah memiliki anak, dianggap sebagai hal sepele bahkan dijadikan bahan gurauan. Pertanyaan tentang pekerjaan, membandingkan pendapatan antara satu sama lain, dan berbagai pertanyaan tentang status sosial serta capaian diri disalahartikan sebagai bentuk menunjukkan perhatian oleh si penanya.

Sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan tersebut sejatinya mengandung stigma yang dapat mendiskreditkan orang lain sehingga mereka merasa ‘tidak normal’, ‘kurang sempurna’, ataupun tak berarti keberadaannya. Stigma, meski kerap tidak disadari, dapat diidentifikasi dengan tindakan labelling, stereotyping, separation, hingga diskriminasi. Tak sedikit yang kemudian menarik diri dari kelompok sosial bahkan perkumpulan-perkumpulan keluarga karena enggan mendapatkan ‘tekanan’ dari pertanyaan atau penilaian serupa. Akibatnya silaturrahmi pun terputus, relasi dengan keluarga menjadi tidak baik-baik saja.

Tekanan-tekanan tersebut tak sedikit menyebabkan gangguan kecemasan sosial bagi sebagian orang. Bahkan, bisa jadi dampaknya setara dengan yang disebabkan oleh kekerasan verbal. Gangguan kecemasan sosial dapat ditandai dengan kecemasan dan rasa takut yang berlebih terhadap situasi sosial yang melingkupinya. Seseorang dengan kecemasan sosial yang tinggi akan merasa takut bahwa setiap tindakan atau perilakunya akan dipandang sebagai hal yang negatif oleh orang lain dan membuatnya merasa malu.

Selengkapnya dapat membeli Majalah Suara Muhammadiyah digital di sini Majalah SM Digital Edisi 07/2024


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Editorial

MENEGUHKAN KEPRIBADIAN MUHAMMADIYAH Pengalaman dan kiprah kesejarahan Muhammadiyah semakin membentu....

Suara Muhammadiyah

29 May 2024

Editorial

Elite Politik Negarawan Awal Oktober 2024 merupakan momentum baru pelantikan anggota MPR, DPR, dan ....

Suara Muhammadiyah

10 September 2025

Editorial

BELAJAR DARI SEPAK BOLA Sepak bola adalah gambaran kecil kehidupan kita sebagai bangsa. Adalah gair....

Suara Muhammadiyah

3 January 2024

Editorial

Kebijakan Pimpinan Pusat dan Pelaksanaan Program Oleh Prof Dr H Haedar Nashir, M.Si. Muktamar ke-4....

Suara Muhammadiyah

17 April 2024

Editorial

Akhlak Bermusyawarah di Muhammadiyah Oleh Prof Dr H Haedar Nashir, M.Si. Muhammadiyah itu kuat kar....

Suara Muhammadiyah

9 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah