'Aisyiyah DIY Ajak Tumbuhkan Kesadaran Kolektif Mubalighat dalam Merawat Bumi

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
130
Pengajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah DIY, Sabtu (7/3/2026) di Amphitarium Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Foto: Cris

Pengajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah DIY, Sabtu (7/3/2026) di Amphitarium Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Persoalan ihwal lingkungan, memang tidak pernah ada titik ujungnya. Persoalan mendasar peradaban ini, merupakan tantangan pelik yang tengah di hadapi oleh manusia abad modern.

Karena itu maka, segenap manusia perlu berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Lebih-lebih dalam merawat lingkungan, yang semestinya menjadi kesadaran kolektif manusia sejagat.

Di sinilah 'Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam berkemajuan hadir di garda terdepan. "Aisyiyah DIY peduli berpartisipasi merawat bumi," kata Muchlas, Rektor Universitas Ahmad Dahlan.

Muchlas mengingatkan, peranan 'Aisyiyah di sini sangat substansial. Mengingat, kondisi sekarang memang sangat krusial.

"Bumi yang sudah cukup tua ini harus kita rawat dengan sebaik-baiknya," tegasnya.

Inilah kemudian yang dimaksudkan Muchlas. Peran 'Aisyiyah harus bisa bergerak aktif untuk merawat lingkungan yang sudah dirasakan dampaknya terhadap denyut nadi kehidupan sehari-hari.

"Semangat lagi mengurus perserikatan ini. Dan perlunya kita semuanya untuk memberikan perhatian yang cukup pada kelestarian bumi ini," katanya, saat membuka Pengajian Ramadhan Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah DIY, Sabtu (7/3) di Amphitarium Kampus 4 UAD Yogyakarta.

Di lain sisi, Ketua PWA DIY Widiastuti mengutarakan masalah lingkungan (ekologi) harus masuk dalam melakukan proses dakwah di akar rumput. Hal ini mengingat, lingkungan menjadi sorotan utama di tengah transformasi yang sedemikian kompleksnya.

Melalui pengajian yang mengusung tema “Etika Lingkungan dalam Perspektif Keimanan: Merawat Bumi sebagai Manifestasi Dakwah Perempuan Berkemajuan,” Aisyiyah menegaskan pentingnya merawat lingkungan sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai keislaman.

Dalam pemaparannya, disampaikan bahwa konsep “merawat” sangat lekat dengan peran perempuan. Perempuan, khususnya para ibu, tidak hanya merawat anak-anak biologis, tetapi juga memiliki peran sosial yang luas dalam merawat lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

“Merawat itu lekat dengan kita sebagai perempuan. Kita tidak hanya merawat anak-anak biologis, tetapi juga anak-anak sosial di sekitar kita melalui berbagai aktivitas,” ungkapnya.

Semangat merawat tersebut juga tercermin dalam berbagai program Aisyiyah, terutama pada bulan Ramadan. Kegiatan seperti santunan bagi anak yatim, perhatian terhadap lansia, hingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bentuk konkret dari dakwah sosial yang dijalankan organisasi perempuan Muhammadiyah itu.

Lebih jauh dijelaskan bahwa gerakan sosial tersebut memiliki landasan teologis yang kuat dalam ajaran Muhammadiyah. Ketika membahas kajian tauhid dalam pengajian Ramadan di Pimpinan Pusat Muhammadiyah, disimpulkan bahwa tauhid Muhammadiyah adalah tauhid yang membebaskan dan memberdayakan.

"Tauhid yang tidak hanya untuk kepentingan atau kesalehan pribadi, tapi kemudian tauhid yang menggerakkan banyak orang untuk juga diimplementasikan pada sektor-sektor yang lainnya," jelasnya.

Pemikiran tersebut juga berimplikasi dengan gagasan humanisme dari KH Ahmad Dahlan. Dalam naskah pidato yang disampaikan pada 25 Agustus 1922 dan dimuat di Suara Muhammadiyah menegaskan Islam tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus dipraktikkan dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Dari sinilah lahir inspirasi teologi Al-Ma’un yang menjadi salah satu fondasi gerakan Muhammadiyah. Surat Al-Ma’un, yang diajarkan KH Ahmad Dahlan selama tiga bulan kepada para muridnya, mendorong lahirnya berbagai amal sosial seperti rumah miskin, rumah yatim, dan rumah sakit.

"Tentu saja ini menjadi inspirasi bagi kita untuk bagaimana kesalehan pribadi itu juga berdampak pada kesalehan sosial," tuturnya.

Selain Al-Ma’un, KH Ahmad Dahlan juga menekankan pentingnya Surat Al-Asr yang diajarkan hingga tujuh bulan. Surat ini menjadi rujukan dalam membangun kedisiplinan waktu dan profesionalisme dalam mengelola amal usaha Muhammadiyah dan 'Aisyiyah.

"Kita berharap dengan adanya kajian hari ini itu kita memiliki kesadaran bersama bagaimana kemudian kita merawat lingkungan kita, kita merawat apa potensi-potensi yang ada di yang kita miliki," tandasnya. (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KETAPANG, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 40 guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Ketapang....

Suara Muhammadiyah

14 July 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan ....

Suara Muhammadiyah

13 August 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah– Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Hendar Ri....

Suara Muhammadiyah

27 October 2024

Berita

Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah Giatkan Peningkatan Kapasitas  JAKARTA, Suara Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

18 October 2023

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpin....

Suara Muhammadiyah

19 September 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah