YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Konsolidasi itu penting. Bahwa ia sebagai upaya bersama untuk melakukan introspeksi dan refleksi diri. Demikian dikemukakan Salmah Orbayinah, dengan tegas.
Pertanyaan reflektif diajukan: Apakah kita sebagai pemimpin telah berhasil membawa ‘Aisyiyah sesuai dengan positioning-nya sebagai organisasi perempuan berkemajuan, yang tidak hanya sesuai dengan namanya, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat secara luas dan bagi seluruh anggotanya?
“Refleksi ini juga penting untuk melihat apakah organisasi ‘Aisyiyah yang kita pimpin benar-benar telah menghadirkan perubahan yang nyata,” tutur Salmah, Sabtu (14/3) saat Silaturahmi dan Konsolidasi Nasional bersama Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) batch ke-5.
“Apakah gerakan kita berjalan dinamis, tidak statis. Apakah program-program yang kita jalankan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tanya Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah itu sekali lagi.
Karena itu, menjembatani hal itu, Salmah menekankan konsolidasi bukan semata-mata membahas program atau struktur organisasi. Lebih dari itu, konsolidasi adalah upaya untuk menguatkan ruh gerakan ‘Aisyiyah.
“Sejak awal kelahirannya hingga periode ini, ‘Aisyiyah bukan sekadar gerakan organisasi perempuan semata, tetapi merupakan gerakan perempuan Islam berkemajuan yang membawa misi pencerahan bagi masyarakat,” terang Salmah.
Disambung lagi, dakwah ‘Aisyiyah adalah dakwah pencerahan dan dakwah yang membebaskan, memajukan, dan memberdayakan. “Ketiga hal ini menjadi satu kesatuan yang menjadi ruh gerakan dakwah ‘Aisyiyah,” ujarnya.
Mengambil sampel tokoh ‘Aisyiyah, Siti Walidah, misalnya. Yang disebut Salmah telah menunjukkan kepada kita bahwa perempuan memiliki peran besar dalam membangun peradaban.
“Sejak awal, Muhammadiyah telah memberikan peluang yang luas bagi perempuan untuk berdakwah melalui pendirian ‘Aisyiyah,” bebernya.
Mendirikan ‘Aisyiyah, lanjut Salmah, bukanlah memisahkan atau mengeluarkan perempuan dari Muhammadiyah, melainkan menyediakan wadah yang baik bagi kaum perempuan untuk berdakwah bersama, membangun peradaban utama.
“Nyai Walidah tidak hanya berdakwah melalui ceramah atau pengajian. Ia juga menggerakkan perempuan dari Mushola Putri Kauman, dari langgar milik KH Ahmad Dahlan di Kauman. Dari tempat sederhana itulah gerakan perempuan dimulai: mengajak perempuan untuk mengkaji ilmu, mencintai ilmu, dan memberdayakan perempuan,” tegasnya.
Krisis Kehidupan Bangsa
Dalam kesempatan ini, Ibu Salmah juga menyoroti berbagai krisis yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Pertama, krisis kesehatan yang berkaitan dengan perubahan gaya hidup dan interaksi sosial.
Misalnya, munculnya berbagai masalah kesehatan akibat gaya hidup yang terlalu bergantung pada gawai, seperti penggunaan telepon seluler dan komputer yang berlebihan.
“Yang penggunaan gawai ini bukan hanya sekedar bermain atau untuk hiburan ya tetapi memang kebutuhan atas pekerjaan misalkan yang mengharuskan kita mengakses gawai terus menerus,” ulasnya.
Kedua, krisis lingkungan yang ditandai dengan berbagai bencana seperti tanah longsor dan kerusakan alam. Banyak orang memandang alam seolah terpisah dari nilai spiritualitas dan nilai-nilai metafisika.
“Akibatnya, peran manusia sebagai khalifah fil ardh tidak dijalankan dengan baik. Padahal jika peran ini dijalankan dengan benar, manusia dapat menjaga bumi dengan penuh tanggung jawab,” urainya.
Dalam situasi ini, ‘Aisyiyah diharapkan mampu hadir sebagai problem solver, bagian dari solusi, menjadi rujukan bagi masyarakat luas, dan mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama mencari jalan keluar dari berbagai persoalan yang kita hadapi. (Suri/Cris)
