Bahaya Pengaruh Penyimpangan dan Perhatian Keluarga
Oleh: Teguh Pamungkas, Warga Muhammadiyah Kalsel dan Penyuluh Keluarga Berencana BKKBN
Perilaku penyimpangan yang dilakukan kaum pelangi membuat masyarakat geram. Bagaimana tidak, kini perilaku menyimpang tak hanya dilakukan sembunyi-sembunyi, bergeser berani secara terang-terangan pula. Hingga pesan atau perilaku bermuatan LGBT pun ditampilkan dalam tayangan dan tontonan.
Mungkin menjadi keanehan, mengapa mereka tidak melihat fitrah sebagai manusia yang normal. Dengan akal sehat menyadari orientasi ketertarikan kepada lawan jenis demi kehidupan mereka. Lantas, bagaimana menghadapi fenomena LGBT yang ada?
Perilaku penyuka sesama jenis dianggap salah satu penyimpangan sosial, karena perilakunya tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Pelaku LGBT memiliki orientasi seksual yang tak normal, yang berbenturan dengan kebiasaan dan tradisi yang berlaku di suatu masyarakat.
Korelasi perilaku dan pemikiran manusia beriringan dengan kebutuhan (tuntutan) masyarakat, baik dalam kehidupan keluarga maupun pada kehidupan sosial. Dalam struktur dan proses sosial, penyuka sesama jenis (homoseksual) juga diartikan sebagai perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan manusia dari sudut pandang masyarakat luas.
Hal tersebut juga dikatakan tidak sesuai dengan tempat pelaku penyimpangan sosial tinggal, yaitu Indonesia memiliki Pancasila. Sila kedua berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Dikatakan menyimpang karena tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Serta adanya kebiasaan-kebiasaan yang muncul dari perilaku namun berbenturan dengan budaya yang berlaku di tempat tinggal maupun dalam suatu kelompok.
Perhatian Keluarga
Menurut Sigmund Freud, bahwa gay biasanya bermula sebagai akibat pola asuh dan kekerasan dari sang ayah. Di mana anak laki-laki mengalami kegagalan di saat mendapatkan figur seorang ayah dalam keluarga. Sehingga mulai muncul rasa mencintai pada dirinya sendiri atau mencintai sosok laki-laki lain.
Sedangkan kondisi biseksual merupakan hasil dari kecenderungan yang mengarah pada suatu keadaan semasa kecil. Hal ini berkembang mulai dari kehidupan anak-anak yang berada dalam lingkungan kehidupan heteroseksual atau pun karena lingkungan tertentu. Sehingga, menurut Freud, gangguan terjadi akibat ketidakmatangan seksual yang menghasilkan kondisi homoseksual ketika dewasa. Secara psikologis maupun sosial, keduanya memiliki pengaruh saling timbal balik.
Sebagai perhatian keluarga, kehadiran interaksi keluarga diperlukan untuk pendidikan dan pendampingan yang baik saat anggota keluarganya pada fase tumbuh kembang. Karena perilaku sosial yang menyimpang akan sulit untuk disembuhkan dari seseorang. Sehingga sangat penting adanya dukungan dari keluarga, orang terdekat, tetangga dan juga lingkungan untuk bisa menjauhkan diri dari perilaku yang menyimpang.
Sementara itu, kepekaan dan kesadaran membangun intuisi terhadap permasalahan sosial perlu diperhatikan pula. Pengaruh kuat dasar dari pembentukan karakter seseorang adalah pendidikan keluarga. Dalam pendidikan keluarga norma dan budaya ditanamkan melalui berbagai cara, bisa praktek secara langsung maupun tak langsung. Dan dengan tetap meletakkan posisi anak pada status gendernya.
Bebas dari pengaruh penyimpangan penuh dengan tantangan, namun harus dilakukan. Seperti, jika memiliki anak laki-laki, maka diberikan kebiasaan sebagai anak laki-laki. Ajarkan berbicara selaku laki-laki dan diberikan pakaian yang jelas-jelas diperuntukkan bagi laki-laki. Begitu pun sebaliknya, apabila ia perempuan, maka perlakukanlah sebagaimana kehidupan yang dilakukan oleh seorang perempuan.
Memblok dari pengaruh penyimpangan sosial juga tidak lepas dari peranan sosial atau masyarakat disekitarnya. Apabila lingkungan sosialnya baik untuk pembentukan mental individu, maka memunculkan figur-figur insan yang memiliki karakter kuat.
Keberhasilan tumbuh kembang adalah tatkala bisa menjauhkan dan membentengi anggota keluarga dari perilaku menyimpang melalui pendidikan gender. Orangtua perlu selalu memperhatikan dan mengawasi kebiasaan anak-anaknya saat di rumah. Mengenal teman-teman bermain serta sebayanya ketika di sekolah maupun di masyarakat. Bagi kita orang dewasa, sebaiknya harus lebih teliti, berhati-hati dalam memilih rekan kerja serta mengamati karakter kehidupan lingkungan kerja.
Kehidupan yang beriringan dengan agama, norma, kesusilaan dan budaya bukan hanya berlaku pada kehidupan sosial masyarakat. Namun kehadiran menjaga adab merupakan pembiasaan diri juga di kehidupan keluarga. Kehidupan yang sehat sebagai manusia bisa meletakkan kodrat dan perannya masing-masing ketika menjalani interaksi sosial.
Sebagai penutup tulisan ini, Rasulullah SAW bersabda, “Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, dan wanita yang menyerupai laki-laki”, (HR. Bukhari).

