Ber-Muhammadiyah, Bukan Sekadar KTAM

Suara Muhammadiyah

5 October 2026

186
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Ber-Muhammadiyah, Bukan Sekadar KTAM

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Ketua PDM Jakarta Timur

Memiliki Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) tentu merupakan bagian penting dari identitas seseorang sebagai anggota Persyarikatan. KTAM menjadi bukti administratif bahwa seseorang telah menyatakan diri sebagai bagian dari Muhammadiyah. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah menjadi anggota Muhammadiyah cukup hanya dengan memiliki KTAM?

Muhammadiyah bukan sekadar organisasi tempat seseorang terdaftar sebagai anggota. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang memiliki pandangan hidup, ideologi, tujuan, nilai, dan tradisi perjuangan yang harus dihidupkan dalam perilaku para anggotanya. 

Karena itu, keber-Muhammadiyahan tidak berhenti ketika seseorang memperoleh KTAM. Justru, KTAM semestinya menjadi titik awal untuk memasuki proses panjang menjadi kader dan penggerak Persyarikatan.

Ada perbedaan mendasar antara memiliki status sebagai anggota Muhammadiyah dan menghidupkan nilai-nilai Muhammadiyah dalam kehidupan. Kondisi yang pertama bersifat administratif, sedangkan yang kedua menyangkut kesadaran, komitmen, keteladanan, dan kontribusi.

Meluruskan Niat Sejak Awal

Ber-Muhammadiyah yang baik semestinya dimulai dengan meluruskan niat. Jika seseorang masuk Muhammadiyah semata-mata karena kepentingan jabatan, akses, jaringan, pekerjaan, status sosial, atau kepentingan pribadi lainnya, maka fondasi keber-Muhammadiyahannya akan mudah rapuh ketika kepentingan tersebut tidak lagi tersedia.

Muhammadiyah sejak awal dibangun sebagai gerakan dakwah dan tajdid. Menjadi bagian dari Persyarikatan berarti bersedia mengambil bagian dalam ikhtiar untuk menghadirkan Islam yang mencerahkan kehidupan. Karena itu, orientasi pertama seorang anggota bukanlah "apa yang saya dapatkan dari Muhammadiyah?", melainkan "apa yang dapat saya kontribusikan bagi Muhammadiyah?"

Pertanyaan tersebut penting karena penyakit organisasi sering kali muncul ketika orientasi untuk mendapatkan menjadi lebih dominan daripada orientasi untuk memberi. Muhammadiyah membutuhkan anggota yang hadir bukan karena ingin dilayani, melainkan karena memiliki kesadaran untuk melayani umat dan mengembangkan Persyarikatan.

Aktif, Bukan Sekadar Terdaftar

Setelah niat diluruskan, keber-Muhammadiyahan perlu diwujudkan melalui keaktifan. Tidak cukup seseorang memiliki KTAM, tetapi tidak pernah hadir dalam kegiatan Persyarikatan. Tidak cukup namanya tercatat dalam daftar anggota, tetapi keberadaannya tidak pernah dirasakan oleh jamaah dan lingkungan sekitarnya.

Muhammadiyah hidup karena aktivitas para anggotanya. Pengajian, rapat, kajian, kegiatan sosial, pelayanan masyarakat, kegiatan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pengembangan masjid, kegiatan pemuda, perempuan, mahasiswa, hingga berbagai aktivitas di amal usaha merupakan ruang tempat nilai-nilai Muhammadiyah diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Aktif dalam persyarikatan tidak berarti setiap orang harus hadir dalam semua kegiatan. Setiap orang memiliki profesi, keluarga, dan keterbatasan waktu. Namun, seorang anggota perlu menemukan ruang untuk berkontribusi.

Ada yang kuat dalam bidang dakwah. Ada yang memiliki kemampuan akademik. Ada yang bergerak di bidang ekonomi. Ada yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan. Ada yang ahli mengelola organisasi. Ada yang mampu membangun jaringan. Ada pula yang mungkin hanya memiliki waktu dan tenaga. Karena itu, persoalannya bukan apakah seseorang memegang jabatan atau tidak, melainkan apakah keberadaannya memberikan manfaat bagi gerakan.

Belajar Memahami Ideologi Muhammadiyah

Keaktifan tanpa pemahaman juga dapat menimbulkan persoalan. Seseorang bisa sangat aktif dalam kegiatan Muhammadiyah, tetapi belum tentu memahami mengapa kegiatan tersebut dilakukan dan nilai-nilai apa yang mendasarinya. Di sinilah pentingnya belajar.

Ber-Muhammadiyah berarti bersedia memahami ideologi dan manhaj Persyarikatan. Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Khittah Perjuangan, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, serta berbagai keputusan dan dokumen ideologis Persyarikatan bukan sekadar bahan bacaan dalam kegiatan kaderisasi.

Dokumen-dokumen tersebut merupakan bagian dari fondasi pemikiran warga Muhammadiyah. Tanpa pemahaman ideologi, seseorang berpotensi menjadikan Muhammadiyah sekadar wadah aktivitas. Akibatnya, orientasi gerakan dapat bergeser mengikuti kepentingan pribadi, pragmatisme, bahkan kepentingan jangka pendek.

Karena itu, menjadi anggota Muhammadiyah seharusnya juga berarti menjadi pembelajar Muhammadiyah. Belajar tidak harus selalu melalui forum formal. Membaca, mengikuti kajian, berdiskusi dengan kader senior, memahami sejarah Persyarikatan, mempelajari keputusan organisasi, dan mengamati praktik para tokoh Muhammadiyah merupakan bagian dari proses tersebut.

Lebih penting lagi, pemahaman itu harus diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Ideologi Muhammadiyah tidak seharusnya berhenti di ruang pengajian. Ia harus terlihat berintegritas ketika bekerja, jujur ketika berbisnis, disiplin dalam menjalankan amanah, peduli terhadap masyarakat, sederhana dalam kehidupan, serta berani memperjuangkan kemaslahatan.

Siap Menerima Amanah di Mana Pun Dibutuhkan

Dalam kehidupan Persyarikatan, tidak semua orang harus menjadi pemimpin. Justru salah satu ukuran kedewasaan dalam ber-Muhammadiyah adalah kesediaan menerima amanah sesuai dengan kebutuhan organisasi dan kemampuan diri.

Ada kalanya seseorang dipercaya menjadi pimpinan di tingkat pusat. Pada kesempatan lain, ia mungkin diminta membantu di tingkat wilayah, daerah, cabang, ranting, atau bahkan sekadar menghidupkan kegiatan di masjid dan di lingkungan tempat tinggal.

Jangan sampai muncul pandangan bahwa amanah di tingkat tertentu lebih bergengsi daripada amanah di tingkat lainnya. Padahal, kekuatan Muhammadiyah justru terletak pada struktur organisasi yang bertingkat dari pusat hingga akar rumput.

Seorang anggota yang bersedia menghidupkan ranting tidak memiliki kontribusi yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang berada pada struktur yang lebih tinggi. Bahkan, dalam konteks penguatan basis Persyarikatan, ranting merupakan ruang yang sangat strategis karena di sanalah Muhammadiyah bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Karena itu, amanah tidak seharusnya dipilih berdasarkan gengsi, melainkan berdasarkan kebutuhan Persyarikatan dan kemampuan untuk memberikan manfaat.

Jika suatu saat diminta untuk memimpin, saya siap. Jika diminta menjadi anggota majelis, saya siap. Jika diminta membantu administrasi, siap. Jika diminta untuk mengurus kegiatan sosial, saya siap. Jika hanya diminta menjadi penggerak pengajian di lingkungan, juga harus siap. Inilah budaya siap berkhidmat yang perlu terus dirawat.

Mengembangkan Muhammadiyah dari Akar Rumput

Muhammadiyah tidak boleh hanya kuat di gedung-gedung besar, amal usaha, kantor pimpinan, atau forum-forum nasional. Muhammadiyah harus kuat di akar rumput. Sebab, di sanalah wajah Muhammadiyah sesungguhnya diuji.

Apakah masyarakat merasakan manfaat keberadaan Muhammadiyah? Apakah ranting hidup? Apakah masjid menjadi pusat pembinaan umat? Apakah kader muda tumbuh? Apakah kegiatan sosial berjalan? Apakah warga sekitar mengenal Muhammadiyah bukan hanya dari namanya, tetapi juga dari manfaat yang diberikannya?

Jumlah anggota memang penting. Namun, anggota yang aktif, berideologi, berintegritas, dan produktif jauh lebih penting bagi keberlanjutan gerakan. Karena itu, setiap warga Muhammadiyah perlu menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari ekosistem Persyarikatan. Tidak harus menunggu instruksi pimpinan untuk bertindak. Dengan cara demikian, Muhammadiyah akan tumbuh bukan karena instruksi dari atas, melainkan karena kesadaran dan inisiatif dari bawah.

Iuran: Kontribusi yang Sering Dianggap Sepele

Ada satu hal lain yang sering kali dianggap kecil, padahal penting dalam kehidupan organisasi: iuran keanggotaan. Dalam organisasi, iuran bukan sekadar persoalan nominal. Iuran merupakan bentuk tanggung jawab dan rasa memiliki.

Membayar iuran berarti menyadari bahwa Persyarikatan membutuhkan dukungan anggotanya untuk menjalankan berbagai aktivitas. Dakwah, kaderisasi, pembinaan jamaah, kegiatan sosial, pengembangan organisasi, hingga berbagai aktivitas di tingkat ranting membutuhkan sumber daya. Karena itu, jangan sampai kita memiliki KTAM, aktif menggunakan identitas Muhammadiyah, tetapi lupa akan kewajiban kita sebagai anggota.

Dalam konteks transformasi administrasi keanggotaan, warga Muhammadiyah juga perlu mengikuti perkembangan digital, termasuk melakukan migrasi KTA melalui aplikasi MASA sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan oleh Persyarikatan.

Hal ini mungkin tampak administratif. Namun, administrasi yang tertib merupakan bagian dari budaya organisasi yang sehat. Digitalisasi keanggotaan juga seharusnya tidak hanya dilihat sebagai perubahan teknis. Ia merupakan bagian dari upaya membangun basis data anggota yang lebih akurat, tertib, dan mampu mendukung pengelolaan Persyarikatan di era digital.

Saatnya Mengubah KTAM Menjadi Gerakan

Karena itu, setelah memiliki KTAM, jangan berhenti pada status anggota. Jadikan KTAM bukan sekadar kartu identitas yang tersimpan di dompet atau data yang tercatat dalam sistem, tetapi sebagai pengingat bahwa ada tanggung jawab yang melekat padanya. Mari mulai dari hal-hal konkret.

Pertama, luruskan kembali niat ber-Muhammadiyah. Tanyakan pada diri sendiri: Mengapa saya berada di Muhammadiyah? Apa yang ingin saya perjuangkan? Apa manfaat yang ingin saya berikan? Jangan biarkan kepentingan pribadi menjadi alasan utama dalam berkhidmat di Persyarikatan.

Kedua, pilih satu ruang untuk diaktifkan. Tidak harus menunggu untuk menjadi pemimpin. Hadirilah pengajian, rapat, kegiatan sosial, kegiatan kaderisasi, aktivitas masjid, atau program Persyarikatan di lingkungan masing-masing. Kalau selama ini hanya terdaftar, mulailah hadir. Kalau sudah hadir, mulailah mengambil peran.

Ketiga, luangkan waktu untuk mempelajari Muhammadiyah. Bacalah dokumen ideologi Persyarikatan. Ikuti kajian dan perkaderan. Diskusikan pemikiran Muhammadiyah dengan sesama anggota. Jangan sampai kita mengaku sebagai warga Muhammadiyah, tetapi cara berpikir dan cara bertindak kita tidak pernah melalui proses dalam tradisi intelektual dan ideologis Muhammadiyah.

Keempat, jangan memilih-milih amanah. Jika dibutuhkan di ranting, jangan merasa terlalu besar untuk berada di sana. Jika dibutuhkan untuk mengurus administrasi, jangan anggap itu sebagai pekerjaan kecil. Jika diminta untuk membantu kegiatan sosial, hadir dan kerjakan. Jika diberi amanah untuk memimpin, jalankan dengan sungguh-sungguh. Tidak semua orang harus berada di posisi yang sama, tetapi setiap orang dapat berkontribusi.

Kelima, lakukan setidaknya satu aksi nyata untuk memperkuat Muhammadiyah di akar rumput. Hidupkan kembali ranting yang vakum. Ajak anak muda untuk bergabung dalam kegiatan. Bantu mengembangkan masjid. Bangun kegiatan pendidikan. Dampingi masyarakat yang membutuhkan. Kembangkan usaha produktif warga. Atau cukup mulai dengan mengajak beberapa orang untuk menghidupkan kembali kegiatan pengajian. Jangan menunggu program besar. Gerakan besar sering kali dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Keenam, tunaikan kewajiban sebagai anggota. Bayar iuran keanggotaan sesuai ketentuan yang berlaku. Jangan hanya menikmati fasilitas dan identitas Persyarikatan, tetapi abaikan kewajiban sebagai anggota. Bersamaan dengan itu, tertibkan administrasi keanggotaan dengan melakukan migrasi KTA melalui aplikasi MASA.

Pada akhirnya, setiap anggota Muhammadiyah harus memiliki kontribusi yang dapat disebutkan dengan jelas. Semakin lama seseorang berada di Muhammadiyah, semestinya semakin besar pula rasa tanggung jawabnya. Semakin tinggi posisi yang diterima, semestinya semakin besar pula kesediaannya untuk melayani. Semakin luas pengetahuan yang dimiliki, semestinya semakin banyak pula manfaat yang dapat diberikan.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Edukasi, Wayang, dan Perkebunan Sebagai Benteng Ekologi Oleh: Muhammad AL-Fatih Eco Bhinneka Muh....

Suara Muhammadiyah

22 October 2025

Wawasan

Demokrasi, Kebebasan, dan Hukum: Menjaga Ruang Publik dari Kekacauan Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Lit....

Suara Muhammadiyah

2 October 2025

Wawasan

Spirit Fastabiqul Khairat Oleh: Muhammad Zaini, SHI. MSI., Ketua Majelis Tabligh PDM Pamekasan Jar....

Suara Muhammadiyah

23 April 2024

Wawasan

Meniti Jalan Kehidupan dengan Ilmu dan Iman Oleh: Suko Wahyudi,  PRM Timuran Yogyakarta  ....

Suara Muhammadiyah

1 February 2025

Wawasan

Menemukan Arah di Atas Sajadah: Bagaimana Shalat Mengubah Hidup Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fak....

Suara Muhammadiyah

2 October 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah