Berbeda Tetapi Bersatu

Publish

25 May 2024

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1739
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Berbeda Tetapi Bersatu

Oleh: Dr Masud HMN, Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta

Setelah usainya pemilihan umum (pemilu), banyak perbedaan tidak relevan lagi diteruskan. Hanya dipakai ketika zaman kampanye dulu. Setelah selesai pemilihan umum, itu berhenti digunakan.

Tidak relevannya sebab bukan masanya lagi demikian. Perlu ditinggalkan, tidak dipakai lagi. Musim telah berlalu, keadaan telah berubah kepada yang baru. Sekali air banjir, begitu pula tepian tempat mandi berubah.

Karenanya, marilah kita berpikir ulang. Artinya, tidak sepanjang masa demikian harus digunakan. Misalkan memilih figur A dan menolak figur B. Figur yang ditentang, yang jelek, dibukakan sisi yang jelek itu untuk memenangkan calon yang dipilih.

Dengan perspektif itu, maka perlu kita pikirkan ada masa saling mengkaji ulang. Berbeda tapi satu jua. Ada masa bertengkar mulut, namun ada masa damai dan saling menerima dengan damai, duduk bersama.

Apa intinya kita bersama? Apa intinya kita berbeda dan apa artinya semua itu? Mari kita coba merenungkan secara mendalam. Ada ungkapan “unity in diversity” yaitu satu dan berbeda. Dalam kaitan masyarakat, dipahami bersama, seiring jalan tetapi tujuan berbeda. Itu biasa dan niscaya terjadi, dalam rumah tangga atau dalam lingkungan yang lebih luas.

Yang diutamakan maksudnya apa? Bukankah kita ingin mengabdi kepada bangsa dan negara? Karena itu, marilah mengutamakan makna persatuan atau sering kita sebut dengan rekonsiliasi. Kita bersatu dalam perbedaan.

Bersilang kayu di tungku maka nasinya bisa masak, kata orang tua kita. Kata itu dimaksudkan dengan bersilang kayu terbakar di bawah tungku, api pun menyala, kemudian nasi cepat matang. Bersengketa bukan untuk berpecah belah, bercerai berai negatif.

Identik dengan kata “Bhinneka Tunggal Ika,” berbeda tapi satu jua. Tercantum di bawah burung Garuda lambang negara. Ungkapan itu menjadi pemersatu bangsa kita.

Dengan tiga kata filsafat di muka tadi yaitu (1) "unity in diversity," (2) bersilang kayu di bawah tungku, dan (3) Bhinneka Tunggal Ika, mengandung makna yang dalam untuk kita renungkan. Renungannya adalah agar kita bersatu dan bekerja sama untuk negara bangsa dengan tujuan Indonesia ke depan bertambah kuat dan berkemajuan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh : Hakim Muttaqie Azka, Ketua Advokasi dan Kebijakan Publik Pimpinan Daerah IPM Kota Tasikmalaya....

Suara Muhammadiyah

6 May 2025

Wawasan

Menguji Toleransi di Ruang Publik Sebagai Ruang Bersama  Oleh: Yana Fajar FY. Basori (1) dan A....

Suara Muhammadiyah

1 April 2026

Wawasan

Ketika Proses yang Buruk Dianggap Jalan Kebaikan Oleh: Rusydi Umar, Dosen FTI UAD, Anggota MPI PPM ....

Suara Muhammadiyah

30 November 2025

Wawasan

Oleh: Prof Dr Drs A Hilal Madjdi, MPd, Wakil Ketua PDM Kudus   Gegap gempita selamat dan syuk....

Suara Muhammadiyah

14 May 2025

Wawasan

Zakat dan Wakaf: Pilar Ekonomi Umat yang Melampaui Kewajiban Ritual Mendorong Pertumbuhan Inklusif ....

Suara Muhammadiyah

7 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah