Bertumbuh Tanpa Kehilangan Diri

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
114
Foto Ilustrasi Freepik

Foto Ilustrasi Freepik

Bertumbuh Tanpa Kehilangan Diri

Oleh M. Saifudin, Pengasuh Pondok Modern Muhammadiyah Sangen, Sukoharjo

Ada satu pertanyaan mendasar yang kerap terlewat ketika sebuah organisasi tumbuh besar dan mapan, “apakah ia masih bergerak karena visi, atau sekadar berjalan karena kebiasaan?” Pertanyaan ini relevan bukan hanya bagi Muhammadiyah, tetapi bagi semua organisasi sosial-keagamaan yang telah lama berkiprah dan memiliki jaringan luas. Ketika rutinitas menguat, sering kali kesadaran tujuan justru melemah.

Muhammadiyah adalah organisasi besar dengan amal usaha di berbagai bidang—pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah. Kebesaran ini patut disyukuri. Namun justru di situlah tantangannya. Organisasi yang membesar selalu menghadapi risiko kehilangan arah, bukan karena niat menyimpang, melainkan karena tujuan perlahan tertutup oleh kesibukan administratif dan tuntutan kinerja sehari-hari.

Baitul Arqam yang diselenggarakan oleh MKP-SDI PCM Weru pada 31 Januari 2026 menarik dibaca dalam kerangka itu. Ia bukan sekadar agenda rutin. Forum ini ditujukan bagi warga Muhammadiyah—guru, pengelola amal usaha, kader, dan pimpinan—sebagai ruang untuk berhenti sejenak, lalu bertanya: masihkah kita bergerak dengan kesadaran ideologis, atau hanya menjalankan peran teknis semata?

Dalam tradisi Muhammadiyah, Baitul Arqam adalah ruang bercermin. Ia bukan tempat merayakan keberhasilan, melainkan ruang introspeksi. Di tengah kesibukan mengelola sekolah, pesantren, masjid, dan berbagai AUM lainnya, ruh perjuangan bisa terkikis perlahan tanpa disadari. Karena itu, penguatan pemahaman agama dan manhaj tarjih menjadi penting, sebagaimana ditekankan Dr. Yayan Suryana, agar keberagamaan warga Muhammadiyah tetap jernih, rasional, dan berpijak pada dalil—bukan sekadar tradisi.

Nama Baitul Arqam sendiri mengandung pesan sejarah yang kuat. Ia merujuk pada rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam di Makkah, tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membina para sahabat pada fase awal Islam. Dari ruang yang sederhana itulah lahir generasi tangguh yang kelak mengubah arah peradaban. Sebuah pelajaran bahwa perubahan besar selalu berawal dari pembinaan yang sunyi, sungguh-sungguh dan konsisten.

Spirit itulah yang dirawat Muhammadiyah. Sebab gerakan tidak cukup dibesarkan oleh struktur dan aset, melainkan oleh kesadaran ideologis warganya. Tanpa fondasi itu, organisasi mungkin tetap berjalan, tetapi kehilangan substansinya. Ia hidup secara administratif, namun melemah secara makna. Karena itu, memahami ideologi Muhammadiyah—sebagaimana ditegaskan Dr. Ikhwan Ahada—bukan urusan wacana, melainkan kebutuhan agar Persyarikatan tidak tercerabut dari cita-cita awalnya.

KH Ahmad Dahlan sejak awal telah mengingatkan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada konsistensi ideologinya. Dan pesannya yang tersirat agar warga Muhammadiyah tidak menduakan pandangan Persyarikatan dengan perkumpulan lain, bukan berarti ajakan eksklusivisme, melainkan peneguhan identitas. Organisasi tanpa kesetiaan mungkin tampak besar, tetapi rapuh dari dalam.

Dalam Islam, sumber utama adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, sementara ideologi berada pada ranah ijtihad atau tafsir praksis—bagaimana ajaran itu dihidupkan dalam realitas. Muhammadiyah merumuskan ideologi agar Islam dapat dijalankan secara utuh, dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Di sinilah konsep Islam Berkemajuan menemukan maknanya, bertauhid murni, terbuka pada ijtihad, moderat, dan menghadirkan kemaslahatan nyata.

Agar nilai tidak berhenti sebagai slogan, Muhammadiyah merumuskannya dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Sebagaimana ditegaskan Dr. Ridwan Furqoni, pedoman ini menuntun warga agar Islam hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari, di keluarga, di tempat kerja, di amal usaha, hingga di ruang digital. Islam tidak berhenti pada ibadah mahdhah, tetapi menjelma sebagai cara hidup.

Kepribadian Muhammadiyah juga menuntut kesatuan iman, ilmu, amal, dan perjuangan. Sebagaimana ditegaskan M. Saifudin, ketaatan pada putusan Persyarikatan bukanlah pengekangan kebebasan berpikir, melainkan tanda kedewasaan berorganisasi. Ijtihad kolektif demi maslahat bersama lebih dekat pada kebenaran dibandingkan pendapat personal yang berdiri sendiri.

Dalam ibadah, pendekatan tarjih menjaga agar praktik keagamaan tetap otentik sekaligus relevan, melalui kajian yang rasional dan kontekstual, sebagaimana ditegaskan Dr. Syakir Jamaluddin.

Pada titik inilah Baitul Arqam menemukan relevansinya. Ia adalah pengingat arah—penjaga agar profesionalisme tidak tercerabut dari nilai, dan kemajuan tidak kehilangan ruh. Selama ruang-ruang penyadaran semacam ini terus dirawat, Muhammadiyah akan tetap hidup, bukan sekadar sebagai organisasi besar, tetapi sebagai gerakan yang terus bermakna bagi umat, bangsa, dan semesta.

Nasrun minallahi wa fatḥun qarib


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pemuda dan Kejayaan Islam: Refleksi Hari Sumpah Pemuda Oleh: Muhammad Fitriani  Hampir satu a....

Suara Muhammadiyah

28 October 2023

Wawasan

Oleh: Bahrus Surur-Iyunk Anggota LPCRPM PWM Jatim, alumni Pondok Modern Muhammadiyah Paciran Lamong....

Suara Muhammadiyah

13 March 2024

Wawasan

Oleh: Muhammad Qorib, Dekan FAI UMSU/ Bendahara PWM Sumut   Ibadah haji merupakan salah satu ....

Suara Muhammadiyah

15 May 2025

Wawasan

Regenerasi Kepemimpinan Muhammadiyah di Tengah Krisis Keteladanan Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif....

Suara Muhammadiyah

19 December 2025

Wawasan

Memaknai Basmalah sebagai Fondasi Ilmu-Adab Oleh: Piet Hizbullah Khaidir, Ketua STIQSI Lamongan; Se....

Suara Muhammadiyah

15 October 2025