Bulan Ramadhan: Media Membangun Karakter Mental Pemenang Sejati
Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM Troketon, Pedan, Klaten
"Ramadhan merupakan wahana transformasi dari ritual menjadi aplikasi ilmu dan amal."
Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci nan agung serta bulan yang sangat dimuliakan oleh Allah. Karena di balik bulan Ramadhan itu banyak sekali hikmah yang telah dijanjikan oleh Allah sendiri. Bahwa di balik semuanya itu, bulan suci Ramadhan merupakan sebuah media dan wahana untuk menjadikan umat yang bertauhid benar-benar digembleng, baik secara ruhani maupun jasmani, dengan ritme yang pas.
Kalau mengambil dari sebuah ungkapan Cak Nun (Emha Ainun Najib), seorang budayawan, beliau mengatakan, “Puasa adalah mengatur dosis yang pas pada umat yang bertauhid.” Oleh karena itulah, puasa di bulan Ramadhan merupakan laku spiritual seorang insan manusia yang mengaku beriman dan bertauhid, agar dalam beragama itu secara kafah (menyeluruh).
Oleh karena itulah, momentum puasa di bulan Ramadhan ini kita harus berani untuk introspeksi diri dengan membangun sebuah kesadaran untuk “menata ulang” kehidupan kita, baik secara pribadi dengan i’da’bi nafsi dalam memainkan peran sebagai pribadi sosial. Oleh karena itu, pentingnya mentadaburi setiap apa yang kita rasakan, lihat, dengarkan, dan apa yang kita alami.
Yang paling penting adalah kita harus membangun kultur atau budaya yang harus menjadi ciri kita sebagai insan yang bertauhid. Karena kemenangan itu sangat nyata dan benar adanya jika kita mampu mencarinya.
Lima Kesadaran dalam Menggapai Kemenangan
Adapun lima kesadaran tersebut adalah:
1. Kesadaran akan pentingnya “Berketuhanan Yang Maha Esa”.
Yaitu bahwa inti kehidupan ini diawali dari sebuah keyakinan bahwa Tuhan adalah Dzat yang tunggal. Kehidupan di dunia ini atas kuasa Allah, maka Dialah Dzat yang wajib diibadahi, Dzat yang tidak ada tandingannya dengan makhluk di muka bumi. Hal ini ditegaskan dalam Surat Al-Ikhlas ayat 1–3. Kita juga harus membangun rasa ketundukan kepada Allah dan tidak boleh menyombongkan diri, karena kita adalah makhluk yang lemah.
2. Kesadaran akan memanusiakan manusia dengan keadaban Islam.
Islam mengajarkan pentingnya memperlakukan ciptaan-Nya dengan baik, baik sesama manusia, tumbuhan, binatang, maupun ciptaan-Nya yang lain. Karena di balik semuanya mempunyai nilai-nilai yang begitu berharga dan memberikan nilai tambah dalam kehidupan. Kita sadar bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon social) dengan penuh kasih sayang. Jika tidak demikian, maka kita termasuk orang yang mendustakan agama (Surat Al-Ma’un).
3. Kesadaran akan pentingnya rasa persatuan (ukhuwah) yang holistik dan komprehensif.
Dalam hal berkeyakinan, beragama, berbangsa, dan bernegara, kita harus menanggalkan ego sentris. Walaupun berbeda latar belakang suku, ekonomi, sosial, politik, dan budaya, yang menyatukan kita adalah tauhid. Tuhan kita sama, kitab suci kita sama, nabi kita sama. Hanya cara pandang dan pemahaman yang berbeda, tetapi tujuannya sama. Karena perbedaan dalam hal apa pun adalah fitrah kehidupan manusia.
Hal ini ditegaskan dalam Surat Ali Imran ayat 103:
"Wa'tashimû bihablillâhi jamî‘an wa lâ tafarraqû..."
4. Kesadaran akan pentingnya merawat dan menjaga budaya bermusyawarah dengan penuh hikmah dan lemah lembut.
Hal ini ditegaskan dalam Surat Ali Imran ayat 159.
5. Kesadaran akan pentingnya berlaku adil dengan nilai-nilai sosial.
Untuk sesama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan nilai-nilai yang memberikan keadilan secara terukur. Baik sebagai pemangku kekuasaan maupun rakyat, hak dan kewajiban harus sama, tidak boleh jomplang. Hal ini ditegaskan dalam Surat Al-Maidah ayat 8.
Manakala lima kesadaran tersebut sudah menjadi bagian dalam hidup kita di dunia ini, maka kemenangan sejati itu akan tampak. Allah telah mengutus seorang kekasih-Nya dengan menurunkan sebuah kitab sebagai penyempurna dari kitab terdahulu, yaitu Al-Qur’an. Dengan iqra, akan terbuka kesadaran manusia yang sebelumnya tidak memahami hakikat hidup di dunia ini, yaitu:
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un."
(Semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah).
Hal ini ditegaskan Allah dalam Surat Al-Fath ayat 28:
هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا ٢٨
Huwalladzî arsala rasûlahû bil-hudâ wa dînil-ḥaqqi liyuzhhirahû ‘alad-dîni kullih, wa kafâ billâhi syahîdâ.
Artinya:
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi.
Ayat di atas begitu jelas bahwa Allah akan memberikan kemenangan sejati kepada umat yang bertauhid. Karena Allah telah mengutus Rasul-Nya sebagai teladan yang baik dengan akhlakul karimah. Beliau menjadi penerang dan cahaya bagi seluruh alam semesta melalui agama yang benar dan diridhai Allah, yaitu Islam.
Agar umat manusia menjaga dan mengunggulkan agama yang benar tersebut. Allah pula yang menjadi pelindung serta saksi atas apa yang kita lakukan di dunia ini.
Semoga bulan Ramadhan yang sebentar lagi meninggalkan kita memberikan pantulan cahaya kepada insan yang benar-benar mengesakan Tuhan dengan ruhani dan jasmani yang seimbang. Sehingga kita menjadi umat yang sadar dari tidur yang panjang akan hakikat hidup ini.
