Bung Hatta, Sila Ketuhanan yang Maha Esa, dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Bernegara

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
63
Bung Hatta

Bung Hatta

Bung Hatta, Sila Ketuhanan yang Maha Esa, dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Bernegara 

Oleh: Buya Anwar Abbas 

Sila pertama dalam Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama ini kata Bung Hatta, harus menjadi dasar yang memimpin cita-cita kenegaraan kita untuk menyelenggarakan segala yang baik bagi rakyat dan masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu kata Bung Hatta, pengakuan kita akan berpegang kepada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa akan bermasalah dan atau tidak akan ada artinya apabila kita tidak bersedia berbuat dalam praktik hidup menurut sifat-sifat yang dipujikan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seperti kasih, sayang, serta adil.

Karena itu implikasi logis dari pengakuan kita terhadap dasar Ketuhanan Yang Maha Esa menurut Bung Hatta, mewajibkan kita untuk membangun persahabatan dan persaudaraan antara manusia dan bangsa.

Di samping itu pengakuan kita terhadap sila pertama tersebut juga mewajibkan kita untuk membela kebenaran dan keadilan. Serta berbuat baik, memiliki sifat jujur dan suci, serta mencintai keindahan.

Ini artinya kalau kita ingin menjadikan diri kita menjadi insan Pancasilais maka kita diminta dan dituntut untuk menentang segala bentuk kedustaan dan  kezaliman, serta berusaha untuk memperbaiki segala kesalahan, mau membasmi segala bentuk kecurangan dan perbuatan kotor lainnya serta meniadakan segala hal yang buruk.

Untuk itu, kata Bung Hatta, kita harus mau menerima bimbingan dari Dzat Yang Maha sesempurna-sempurnanya.

Jika itu dapat kita lakukan maka akan bisa membentuk dan melahirkan diri kita menjadi manusia-manusia Indonesia yang memiliki karakter yang baik, mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi.

Hal inilah tampaknya yang sudah kelihatan menghilang atau menipis dan memudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri kita saat ini. Karena rakyatnya, terutama para pemimpinnya tidak lagi menjadikan ajaran dari agamanya atau Tuhannya sebagai pedomannya tetapi hawa nafsu dan kepentingan diri. Serta kelompoknyalah yang lebih mengemuka dan yang memimpin perilakunya.

Sehingga terjadilah berbagai praktek tidak terpuji yang tidak kita harapkan seperti bersimaharajalelanya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), politik uang, egoisme golongan, tunduk kepada kepentingan pemilik modal bukan kepada kebenaran dan keadilan, kurangnya transparansi dan akuntailitas serta hal-hal yang tidak terpuji dan terlarang lainnya.

Untuk itu ada peribahasa orang Minangkabau dan Melayu yang perlu kita camkan dan terapkan dengan baik. Katanya, bila sesat diujung jalan maka surut atau kembalilah ke pangkalnya. Artinya bila kita telah terlanjur melakukan kesalahan atau melangkah terlalu jauh ke arah yang salah, maka langkah terbaik yang harus kita lakukan adalah kembali ke awal atau ke sila pertama dari falsafah bangsa kita yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Serta menjadikan sila tersebut sebagai dasar yang akan memimpin dan membimbing kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri yang sama-sama kita cintai ini.

Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan & Ketua PP Muhammadiyah.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

(Catatan Ketiga, Business Gathering Suryaganic MNU) Oleh: Khafid Sirotudin   Sebagaimana man....

Suara Muhammadiyah

6 June 2025

Wawasan

Islam yang Utuh, Islam yang Mencerahkan Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Ja....

Suara Muhammadiyah

26 May 2026

Wawasan

Self-Regulated Learning, Pembelajar Sejati di Awal Semester Digital Penulis: Nur Ngazizah, Mahasisw....

Suara Muhammadiyah

5 January 2026

Wawasan

Oleh: Karim Muhammad Perdana Kusuma. Siswa Kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta Saya sangat setu....

Suara Muhammadiyah

21 September 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Dalam diskursus keagamaan, seri....

Suara Muhammadiyah

17 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah