Cabang dan Ranting: Penentu Arah Muhammadiyah Masa Depan?
Oleh Akhmad Faozan, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mayong Jepara
Benarkah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) menjadi penentu arah persyarikatan Muhammadiyah? Dalam konteks kekinian, jawabannya benar. Dapat dikatakan Muhammadiyah maju dan berkembang serta eksis, jika nampak jelas geliat pergerakan di tingkat akar rumput atau Cabang dan Ranting. Dalam suatu slogan selalu digaungkan oleh Lembaga pengembangan cabang dan ranting, “Cabang harus berkembang, ranting itu penting”. Dengan demikian, tidak berlebihan kalau PCM dan PRM bergerak masif yang menjadikan makin eksisnya keberadaan Muhammadiyah.
PCM dan PRM merupakan denyut nadi pergerakan utama kehidupan persyarikatan. Di level inilah Muhammadiyah benar-benar hadir, sehingga dirasakan, dan dihidupkan oleh dan untuk jamaah. Keberadaan Muhammadiyah tidak semata diukur dari besarnya Amal Usaha atau kuatnya struktur pusat sampai daerah, melainkan dari seberapa hidup pengajian, dakwah, jejak tapak manfaat dan maslahat, dan pergerakan pelayanan bagi umat di cabang dan ranting. Muhammadiyah ada karena cabang dan ranting bergerak. Bila PCM dan PRM tidak berjalan, Muhammadiyah berisiko hanya tinggal papan nama tanpa ruh gerakan.
Inilah gerakan nyata di akar rumput. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam yang membumi dan berorientasi pada amal nyata bukan teori. KH Ahmad Dahlan menegaskan bahwa beragama tidak cukup berhenti pada pemahaman, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan (action). Spirit inilah yang seharusnya nampak terlihat di cabang dan ranting. Di sanalah dakwah amar ma’ruf nahi munkar berhadapan langsung dengan persoalan umat, dan di sana pula wajah Muhammadiyah dipersepsikan oleh masyarakat.
Kemajuan Organisasi dan Tantangan SDM
Saat ini Muhammadiyah berkembang sangat pesat dan modern dengan dukungan sistem organisasi yang semakin rapi. Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan tumbuh signifikan, ribuan sekolah dan rumah sakit,, ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Asiyiyah (PTMA) ditopang oleh Unit Pembantu Pimpinan (UPP) dan lembaga strategis filantropis seperti LazisMu dan MDMC yang telah berstandar nasional bahkan internasional. Namun, kemajuan ini akan kehilangan ruh jika tidak diiringi dengan kualitas sumber daya manusia terutama AUM yang berada di bawah naungan PCM dan PRM.
Seperti contoh PCM-PCM yang ada di Jawa Tengah, hampir di setiap daerah-daerah di Jawa Tengah ini yang memiliki AUM, baik Kesehatan maupun Pendidikan. Disadari atau tidak, bahwa sumber daya manusia (SDM) menjadi penentu keberlangsungan AUM. Bila tidak didasarkan pada kualitas SDM dan kokohnya tekad perjuangan dengan dasar iman serta hanya berniat beribadah kepada Allah Swt., bisa jadi ada bergesernya niat tanpa disadari yang akan merusak tatanan dan sistem dalam pengelolaan AUM. Banyak cerita AUM yang kolap dan bermasalah karena bermula dari kompleksnya persoalan kesalahan manajemen dan rendahnya berkesadaran kolektif kolegial dalam diri pemangku kebijakan dan pengelolaan di lapangan.
Nah disinilah letak pentingnya sosok kader ideologis dan militan, bukan Kader Instan. Muhammadiyah membutuhkan kader ideologis yang militan, bukan kader karbitan yang hanya hadir karena kepentingan sesaat. Dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) ditegaskan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah serta berorientasi pada tajdid.
Pimpinan yang tidak berakar pada ideologi persyarikatan berpotensi membawa misi pribadi atau paham lain yang secara perlahan mengaburkan arah gerakan. Tantangan besar Muhammadiyah inilah ketika bersinggungan dengan jamaah dengan latar belakang pengalaman beragama yang berbeda. Level yang sangat bersinggungan dengan karakter seperti ini adalah di level terendah yaitu masjid dan musholla di tingkat cabang dan ranting Pimpinan dan anggota yang sekaligus menjadi Jamaah masjid PCM dan PRM sebagai struktur terdepan di Muhammadiyah ini sangat bersentuhan langsung dengan jamaah.
Di sinilah letak dinamikanya sekaligus memunculkan kerentanan. Tanpa pimpinan yang kokoh ideologinya, ranting bisa menjadi pintu masuk berbagai paham yang tidak sejalan dengan manhaj Muhammadiyah. Kondisi ini tentu menjadi keprihatinan tersendiri, karena penyimpangan di level bawah sering kali terjadi secara halus dan tidak disadari. Nah dari sinilah, betapa pentingnya membangun dan mencetak sosok kader ideal di PCM dan PRM.
Sosok pimpinan di PCM dan PRM seharusnya memiliki pemahaman ideologi Muhammadiyah yang kuat, sebagaimana tertuang dalam MKCH, Muqaddimah AD/ART, dan keputusan persyarikatan. Pola pikir dan geraknya harus sejalan dengan misi dakwah dan tajdid Muhammadiyah. Ia dituntut memiliki jiwa kepemimpinan dan manajerial yang berlandaskan aqidah yang lurus, iman yang kokoh, serta ketaatan kepada Allah Swt yang tercermin dalam aktivitas kesehariannya.
Muhammadiyah adalah gerakan pembaruan. Oleh karena itu, pimpinan di cabang dan ranting harus memiliki semangat pengembangan dan keberanian melawan kejumudan. KH Ahmad Dahlan mengajarkan agar umat Islam tidak terjebak pada rutinitas tanpa makna, tetapi terus bergerak, memperbaiki keadaan dan bermindset maju dan unggul. Dari PCM dan PRM yang hidup dan progresif inilah Muhammadiyah dapat terus memainkan perannya sebagai gerakan Islam berkemajuan.
Di beberapa wilayah, seperti PWM Jawa Tengah, telah dikembangkan barometer kemajuan Muhammadiyah melalui model Key Performance Indicator (KPI) yang jelas dan terukur. Ini merupakan langkah maju menuju tata kelola organisasi yang modern. Namun, kebijakan yang baik harus diiringi oleh kesiapan SDM dan pimpinan yang sevisi dan sejalan dengan Muhammadiyah. Tanpa itu, akan terjadi kesenjangan antara konsep dan praktik—jauh panggang dari api.
Pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah tidak ditentukan oleh seberapa megah gedung yang dimiliki atau seberapa banyak amal usaha yang berdiri, melainkan oleh seberapa hidup cabang dan rantingnya. PCM dan PRM adalah ruang paling nyata tempat ideologi Muhammadiyah diuji, apakah benar-benar dipahami dan diperjuangkan, atau sekadar dihafalkan dalam dokumen resmi. Di sinilah pertaruhan besar itu berlangsung.
Jika pimpinan di cabang dan ranting kehilangan orientasi ideologis, maka Muhammadiyah akan terjebak dalam rutinitas organisasi yang rapi tetapi tanpa marwah. Gerakan bisa terus berjalan secara administratif, tertib dan rapi, namun perlahan akan menjauh dari cita-cita tajdid dan misi profetiknya. Pada titik inilah Muhammadiyah bukan lagi gerakan pembaruan, melainkan sekadar institusi besar yang berjalan di tempat.
Sebaliknya, ketika PCM dan PRM digerakkan oleh pimpinan yang beriman, berilmu, berideologi kokoh dan berpengalaman, Muhammadiyah akan tetap hidup, relevan, dan berdaya dobrak. Dari ranting yang bergerak itulah lahir perubahan sosial, penguatan jamaah, dan pembentukan peradaban Islam berkemajuan. Maka pertanyaannya bukan lagi seberapa hebat Muhammadiyah di pusat, tetapi seberapa serius kita menyiapkan dan menjaga kualitas kepemimpinan di akar rumput. Sebab dari sanalah Muhammadiyah akan terus hidup dan menyinari bumi dengan nilai-nilai masif yang maslahat dan manfaat. Wallahu a’lam.

