Camp Qur’an ‘Aisyiyah Memperkuat Kualitas Pembelajaran Kader

Suara Muhammadiyah

24 August 2026

278
Istimewa

Istimewa

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Semarang menyelenggarakan Camp Qur’an Ibu-Ibu ‘Aisyiyah pada Sabtu–Minggu, 22–23 Agustus 2026, di Bandungan, Kabupaten Semarang. 
 
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas kader ‘Aisyiyah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya melalui pembelajaran tahsin.
 
Salah satu materi utama disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. H. Fachrur Rozi, M.Ag., dengan tema “Tahsin: Kewajiban, Bukan Pilihan (Perjalanan Seumur Hidup Menuju Cinta Al-Qur’an)”. 
 
Melalui materi tersebut, ia menekankan bahwa tahsin bukan sekadar upaya memperindah bacaan, melainkan kebutuhan sekaligus kewajiban seorang muslim dalam menjaga amanah membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai tuntunan.
 
Penekanan tersebut juga berkaitan dengan perintah Allah untuk membaca Al-Qur’an secara tartil sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Muzzammil ayat 4. 
 
Menurut Fachrur Rozi, tartil tidak hanya berarti membaca secara perlahan, tetapi juga membaca dengan benar, tertib, dan penuh penghayatan.
 
Karena itu, ia mengajak peserta untuk tidak merasa malu dalam proses belajar memperbaiki bacaan. Kesalahan dan keterbatasan dalam membaca seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar.
 
“Jangan malu dan jangan gengsi untuk belajar Al-Qur’an. Mereka yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata pun mendapatkan dua pahala,” pesannya, merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Muslim.
 
Semangat memperbaiki bacaan tersebut, lanjutnya, memiliki dampak yang lebih luas, terutama karena kader ‘Aisyiyah memiliki posisi strategis dalam membangun generasi Qur’ani. 
 
Ibu-ibu ‘Aisyiyah tidak hanya berperan sebagai pendidik dalam keluarga, tetapi juga sebagai penggerak masyarakat dan bagian dari kepemimpinan umat.
 
“Kalau satu ibu memperbaiki bacaan Al-Qur’annya, dampaknya tidak berhenti pada dirinya. Ada anak, keluarga, dan lingkungan yang ikut mendapatkan pengaruh. Inilah efek domino menuju lahirnya generasi Qur’ani,” jelasnya.
 
Untuk itu, Fachrur Rozi mendorong peserta Camp Qur’an menjadikan tahsin sebagai bagian dari perjalanan belajar seumur hidup. 
 
Kesungguhan yang dibangun selama camp diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan berakhir, tetapi dilanjutkan melalui kebiasaan membaca dan belajar Al-Qur’an secara konsisten.
 
Peserta juga didorong untuk menyediakan waktu khusus setiap hari untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. 
 
Fokusnya tidak semata-mata mengejar jumlah halaman atau target khatam, tetapi juga memastikan kualitas bacaan terus mengalami perbaikan.
 
Dalam proses tersebut, keterbukaan terhadap koreksi menjadi hal penting. Membaca Al-Qur’an dengan disimak dan dikoreksi oleh orang lain merupakan bagian dari proses belajar yang membantu seseorang mengetahui dan memperbaiki kesalahan bacaannya.

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SIDRAP, Suara Muhammadiyah — Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Universitas Mu....

Suara Muhammadiyah

24 September 2026

Berita

Jelang Ramadhan Penutupan Putaran Pengajian Ahad Pagi PCM Pekajangan Berlangsung Spektakuler dan An....

Suara Muhammadiyah

1 February 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Mahasiswa prodi Teknologi Pangan UM Bandung Imanda Tsabita Madha....

Suara Muhammadiyah

9 January 2025

Berita

KDEKS Riau Raih Enam Penghargaan Anugerah Adinata Syariah 2026, Perkuat Peran Strategis Riau dalam E....

Suara Muhammadiyah

7 July 2026

Berita

Foto Bersama antara Rektor UMPR dan Rektor UMMU didampingi oleh Tim FKG UMPR dan Tim FKG UMMU di Ged....

Suara Muhammadiyah

28 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah