YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memperkuat pengembangan bisnis kuliner melalui peresmian Dapur Sentral UMB Boga oleh PT UMB pada Sabtu (10/10/2026). Fasilitas produksi terintegrasi tersebut dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi operasional, menjaga kualitas produk, dan mendukung pertumbuhan usaha kuliner.
Peresmian tersebut dihadiri Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc.; Direktur Utama PT UMB Boga, Uang Wari, S.E., M.Ek.; serta perwakilan pemegang saham dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Drs. H. A. Dahlan Rais, M.Hum. Sejumlah rektor perguruan tinggi asal Sulawesi turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Direktur Utama PT UMB Boga, Uang Wari, menjelaskan bahwa Dapur Sentral dibangun sebagai pusat produksi untuk mengintegrasikan proses pengolahan makanan dan mendukung operasional berbagai unit bisnis kuliner perusahaan.
“Dapur Sentral UMB Boga kami kembangkan sebagai fasilitas produksi terintegrasi. Dengan alur kerja yang lebih terstruktur dan dukungan peralatan modern, kami berharap operasional menjadi lebih efisien, kualitas produk lebih konsisten, dan pengendalian biaya dapat dilakukan dengan lebih baik,” jelasnya.
Fasilitas tersebut berdiri di atas lahan milik UMY seluas 1.313 meter persegi. Bangunannya memiliki luas 943 meter persegi dan terdiri atas dua lantai. Pembangunan berlangsung selama tujuh bulan untuk pekerjaan konstruksi, kemudian dilanjutkan dengan satu bulan pemasangan peralatan.
Dapur Sentral dirancang dengan alur kerja yang sistematis. Prosesnya mencakup penerimaan dan pemeriksaan bahan baku, penyimpanan, persiapan bahan, pengolahan makanan, pembuatan roti dan minuman, hingga pengemasan serta distribusi.
Selain dilengkapi peralatan modern, fasilitas ini memiliki sarana pendukung untuk menjaga kebersihan dan keamanan pangan. Keberadaannya diharapkan dapat memperkuat standar produksi sekaligus menunjang pengembangan layanan kuliner dan katering.
Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., menekankan pentingnya pengelolaan aset dan unit usaha secara profesional. Menurutnya, unit usaha perlu dikelola agar mampu menghasilkan keuntungan sekaligus memberikan manfaat bagi pengembangan institusi.
“Pengelolaan aset dan unit usaha harus dilakukan secara profesional agar dapat memberikan hasil yang optimal. Bisnis kuliner memiliki peluang yang menjanjikan karena makanan merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat,” ujarnya.
Melalui Dapur Sentral UMB Boga, pengelolaan bisnis kuliner diharapkan semakin terarah dan terintegrasi. Fasilitas ini juga diproyeksikan mendukung perluasan layanan bagi masyarakat di lingkungan kampus maupun pelanggan eksternal.
Penguatan kapasitas produksi tersebut diharapkan membuka peluang pengembangan layanan katering untuk berbagai kebutuhan dan kegiatan. Dengan demikian, fasilitas ini tidak hanya menunjang operasional yang sudah berjalan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperluas pasar usaha kuliner.
Perwakilan pemegang saham dari PP Muhammadiyah, Drs. H. A. Dahlan Rais, M.Hum., menyampaikan apresiasi atas peresmian Dapur Sentral UMB Boga. Ia berharap pengembangan fasilitas tersebut dapat menjadi contoh bagi perusahaan di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah dalam mengelola usaha secara profesional.
“Pengembangan usaha seperti ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi perusahaan-perusahaan di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah. Pengelolaan yang profesional perlu diarahkan untuk menghasilkan pendapatan yang optimal sekaligus mendukung keberlanjutan institusi,” ungkapnya.
Dukungan terhadap pengembangan PT UMB juga menjadi bagian dari upaya memperkuat keberlanjutan usaha. Dalam kegiatan tersebut, turut disampaikan dukungan langsung dari Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Peresmian Dapur Sentral UMB Boga menjadi langkah PT UMB Boga dalam memperkuat fondasi bisnis kuliner melalui integrasi produksi, pengendalian kualitas, dan efisiensi operasional. Ke depan, fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas usaha, memperluas jangkauan layanan, serta memberikan kontribusi yang lebih besar bagi institusi. (Kia)

