YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Salah satu kegiatan Muhammadiyah yang mampu menyedot ribuan orang yaitu Muktamar. Dalam implementasinya, selain memilih pimpinan, pada saat yang sama juga menyusun agenda dan program-program yang strategis.
Lebih dari itu, jauh sebelum Muktamar berlangsung, Muhammadiyah sudah memikirkan secara matang kegiatan tersebut.
“3 tahun sebelum Muktamar, sudah kita tetapkan tempatnya di mana, tanggalnya berapa. Jadi kalau Muktamar baru kemudian terpilih pimpinan baru, baru 2 tahun itu kita sudah menetapkan Muktamar yang akan datang,” ujar Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Pemilihan tuan rumah pelaksanaan Muktamar, setiap wilayah mengajukan diri. Tentu untuk menjadi tuan rumah, kata Haedar ada dua kriteria khusus.
Pertama, Muktamar harus di tempat sendiri. Dan yang kedua, harus punya dan membangun gedung yang representatif untuk Muktamirin (peserta yang menghadiri Muktamar).
“Yang jumlah Muktamirinnya cukup banyak, 3500, setidaknya,” kata Haedar, Sabtu (19/9) saat Grand Launching Mentari Bayt Coin (MBC) di SM Tower Malioboro Yogyakarta.
Mencontohkan sejak Muktamar ke-45 di Malang, Jawa Timur tahun 2005, Muhammadiyah mendirikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dome, sebagai arena utama dan tonggak sejarah Muktamar.
“Setelah Malang, Yogyakarta sebagai tuan rumah (Muktamar ke-46 tahun 2010) membangun sportorium juga sangat besar,” tutur Haedar.
Bersambung ke Makassar, Sulawesi Selatan, Muktamar ke-47 tahun 2015, Muhammadiyah membangun gedung representatif sidang utama berlantai empat yang mampu menampung sebanyak 6.000 orang.
Dari Makassar kemudian ke Surakarta, Jawa Tengah (Muktamar ke-48 tahun 2022). Dalam Muktamar ini, Muhammadiyah bangun Edutorium (Universitas Muhammadiyah Surakarta).
“Gedung terbesar itu di Jawa Tengah. Kalau ormas, gedung terbesar milik ormas itu,” beber Haedar.
Dan, yang terdekat, Muktamar ke-49 Muhammadiyah di Medan, Sumatera Utara tahun 2027. Dikemukakan Haedar, saat ini tengah di bangun 3 gedung utama; Gedung Auditorium Berkemajuan, Sport Hall Walidah, serta Masjid KH Ahmad Dahlan.
“Yang sekarang Insyaallah hampir jadi. Dan gedungnya megah semua,” singkapnya.
Semua itu, sebut Haedar, merupakan semangat kemandirian sekaligus semangat berkemajuan yang didengungkan oleh Muhammadiyah, sampai terwujud secara nyata.
“Jadi kalau kami menggelorakan Islam berkemajuan, itu bukan di retorika, bukan sekadar ajaran normatif, tetapi memang menjadi sistem, menjadi ekosistem, menjadi budaya (habit), dan sekaligus juga menjadi ekslempar atau contoh soal bahwa kemajuan itu ya seperti ini,” tegas Haedar. (Cris)

