Dunia Hadapi Global Catastrophic, ‘Aisyiyah Jawab dengan Dakwah Moderat

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
104

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Denyut nadi gerak dakwah ‘Aisyiyah selama 109 tahun mendapat apresiasi dari banyak pihak, termasuk dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.

Menurutnya, ‘Aisyiyah terus bergerak secara gradual dengan menghadirkan banyak rintisan amal usaha di akar rumput. Yang dari sinilah kemudian memberikan benih manfaat bagi masyarakat secara luas.

“Kami secara khusus juga mengapresiasi langkah gerak 'Aisyiyah yang telah berjalan dalam perjalanan panjang, dan ada banyak terus rintisan di bidang dakwah, amal usaha, dan lain sebagainya,” ujar Haedar, Selasa (19/5) saat Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah di Covention Hall Walidah Dahlan Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu, Haedar memberikan catatan penting terhadap tema milad yang diusung "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian."

Benang merah dari tema ini dengan berpangkal dari perspektif wasathiyah, menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan. “Tetapi dengan perubahan-perubahan yang tidak ekstrem,” tegasnya.

Menurut Haedar, pengalaman sejarah banyak menunjukkan bahwa ekstremitas ketika dihadapi dengan ekstremitas lain akan melahirkan ekstremitas baru.

“Pendekatan kami adalah moderasi beragama dan moderasi berbangsa,” tekannya.

Selain menggunakan perspektif wasathiyah, berikutnya perspektif moderat. Di sini, kata Haedar, tidaklah gampang dilakukan, lebih-lebih di level global. Kenapa?

Publius Flavius Vegetius Renatus, penulis Kekaisaran Romawi mengemukakan, Si vis pacem, para bellum, “Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang.” Menurut Haedar, adagium ini sebetulnya untuk mencegah perang. Tetapi, belakangan ini justru jauh panggang dari api.

“Sekarang yang terjadi justru menciptakan perang karena ada sistem dan pemimpin-pemimpin dunia yang predator untuk menciptakan perang,” terangnya.

Jelaslah kemudian, atas alas itu, kondisi kehidupan bangsa di dunia memperihatinkan. “Kita tidak berdaya ketika terjadi perang Rusia-Ukraina, serangan Amerika ke Irak, apalagi genosida zionis Israel ke Gaza,” ungkapnya.

Akibatnya, dunia dihadapkan oleh realitas “Global Catastrophic”. Yakni prahara global di mana mana pikiran-pikiran modern, bahkan yang liberal sekalipun yang lahir dari renaisans, modernisme, postmodernisme. Maujudnya, merusak relasi sosial harmoni dan damai dalam jagat kehidupan.

“Sehingga saya menyebutnya sebagai jalan buntu dan jalan gelap modernisme dan postmodernisme,” urainya, menandaskan, selalu selektif dalam menyerap pikiran-pikiran Barat, sekalipun yang lahir dari Renaisans, berkembang dalam Aufklärung, dan berakar pada humanisme. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah- Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tirtonirmolo Barat Kasihan Bantul te....

Suara Muhammadiyah

29 July 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) fasilitasi kegiatan ....

Suara Muhammadiyah

28 November 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pada hari ini, tanggal 31 Januari 2025, Majelis Dikdasmen dan PNF P....

Suara Muhammadiyah

31 January 2025

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah - Program 'Bilik Literasi Rabu Krama' dari tim Program Kreativitas Mahasisw....

Suara Muhammadiyah

20 September 2023

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Manusia dan pendidikan adalah dua hal yang saling terkait dan tidak....

Suara Muhammadiyah

2 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah