Dunia Hadapi Global Catastrophic, ‘Aisyiyah Jawab dengan Dakwah Moderat

Suara Muhammadiyah

19 May 2026

393

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Denyut nadi gerak dakwah ‘Aisyiyah selama 109 tahun mendapat apresiasi dari banyak pihak, termasuk dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.

Menurutnya, ‘Aisyiyah terus bergerak secara gradual dengan menghadirkan banyak rintisan amal usaha di akar rumput. Yang dari sinilah kemudian memberikan benih manfaat bagi masyarakat secara luas.

“Kami secara khusus juga mengapresiasi langkah gerak 'Aisyiyah yang telah berjalan dalam perjalanan panjang, dan ada banyak terus rintisan di bidang dakwah, amal usaha, dan lain sebagainya,” ujar Haedar, Selasa (19/5) saat Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah di Covention Hall Walidah Dahlan Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu, Haedar memberikan catatan penting terhadap tema milad yang diusung "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian."

Benang merah dari tema ini dengan berpangkal dari perspektif wasathiyah, menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan. “Tetapi dengan perubahan-perubahan yang tidak ekstrem,” tegasnya.

Menurut Haedar, pengalaman sejarah banyak menunjukkan bahwa ekstremitas ketika dihadapi dengan ekstremitas lain akan melahirkan ekstremitas baru.

“Pendekatan kami adalah moderasi beragama dan moderasi berbangsa,” tekannya.

Selain menggunakan perspektif wasathiyah, berikutnya perspektif moderat. Di sini, kata Haedar, tidaklah gampang dilakukan, lebih-lebih di level global. Kenapa?

Publius Flavius Vegetius Renatus, penulis Kekaisaran Romawi mengemukakan, Si vis pacem, para bellum, “Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang.” Menurut Haedar, adagium ini sebetulnya untuk mencegah perang. Tetapi, belakangan ini justru jauh panggang dari api.

“Sekarang yang terjadi justru menciptakan perang karena ada sistem dan pemimpin-pemimpin dunia yang predator untuk menciptakan perang,” terangnya.

Jelaslah kemudian, atas alas itu, kondisi kehidupan bangsa di dunia memperihatinkan. “Kita tidak berdaya ketika terjadi perang Rusia-Ukraina, serangan Amerika ke Irak, apalagi genosida zionis Israel ke Gaza,” ungkapnya.

Akibatnya, dunia dihadapkan oleh realitas “Global Catastrophic”. Yakni prahara global di mana mana pikiran-pikiran modern, bahkan yang liberal sekalipun yang lahir dari renaisans, modernisme, postmodernisme. Maujudnya, merusak relasi sosial harmoni dan damai dalam jagat kehidupan.

“Sehingga saya menyebutnya sebagai jalan buntu dan jalan gelap modernisme dan postmodernisme,” urainya, menandaskan, selalu selektif dalam menyerap pikiran-pikiran Barat, sekalipun yang lahir dari Renaisans, berkembang dalam Aufklärung, dan berakar pada humanisme. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

AUSTRALIA, Suara Muhammadiyah - Bagi masyarakat Mandar Sulawesi Barat, khususnya diaspora yang bermu....

Suara Muhammadiyah

16 December 2023

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Prof. DR. H....

Suara Muhammadiyah

21 May 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Langkah serius penguatan sertifikasi profesi zakat nasional ditu....

Suara Muhammadiyah

20 January 2026

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah yang digelar Pimpinan Daerah Mu....

Suara Muhammadiyah

30 November 2025

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Sebagai bentuk komitmen dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan ....

Suara Muhammadiyah

7 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah