YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah, Muh. Amin Parakkasi, MHI, menyatakan rasa bangga dan bahagianya atas peluncuran Batik Kelor Palu dalam rangkaian Resepsi Milad ke-111 Suara Muhammadiyah. Produk kolaborasi ini dianggap sebagai momentum penting untuk memperkenalkan kearifan lokal Sulawesi Tengah ke kancah nasional melalui jaringan Persyarikatan.
Dalam testimoninya, Muh. Amin Parakkasi menjelaskan bahwa pemilihan motif kelor memiliki makna filosofis yang sangat dalam dan selaras dengan napas gerakan Muhammadiyah.
Ketua PWM Sulteng mengungkapkan kelor bukan sekadar tanaman biasa bagi masyarakat Palu, melainkan makanan khas yang memiliki khasiat luar biasa bagi kesehatan. Hal ini, menurutnya, berbanding lurus dengan spirit Muhammadiyah yang selalu memberikan manfaat bagi umat.
"Secara fisik, pohon kelor tumbuh dengan struktur yang sangat teratur—mulai dari batang, cabang, hingga daunnya tersusun rapi," ungkapnya, di Ballroom SMTorium, Yogyakarta (13/8). Karakteristik ini dinilai sangat relevan dengan program Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sedang gencar mencanangkan ketertiban organisasi melalui sistem SatuMU dan DOM.

Muh. Amin menekankan bahwa Tanwir Muhammadiyah 2026 di Kota Palu akan menjadi target utama tercapainya ketertiban organisasi yang modern dan rapi. PWM Sulawesi Tengah berkomitmen penuh untuk mengikuti "irama" penertiban organisasi tersebut yang tercermin dalam nilai filosofi pohon kelor.
Ia mencatat bahwa pengumuman peluncuran batik ini langsung memicu antusiasme besar (heboh) di Kota Palu. Untuk pertama kalinya, ciri khas tradisional Palu diperkenalkan ke seluruh Indonesia sebagai simbol identitas melalui Batik Kelor Tanwir.
Mengakhiri sambutannya, Muh. Amin Parakkasi secara resmi mengundang seluruh pimpinan dan warga Muhammadiyah untuk hadir dalam agenda Tanwir Muhammadiyah di Kota Palu yang dijadwalkan berlangsung pada 18 hingga 21 November 2026 mendatang. Beliau berharap semangat filosofi kelor ini dapat terus menginspirasi gerak langkah Muhammadiyah, khususnya di Sulawesi Tengah. (RIz)

