Judul Buku : Di Bawah Cakrawala Islam Berkemajuan: Pengalaman Mahasiswa Kristiani di Kampus Muhammadiyah
Penulis : Dr. Ahmad Jais, S.Ag., M.Ag.
Penerbit : CV Bintang Semesta Media
Tahun Terbit : 2026
Tebal : xviii + 142 halaman
ISBN : 978-634-314-032-0
Mampukah institusi pendidikan berbasis agama menjadi ruang aman bagi mereka yang berbeda iman? Pertanyaan ini menggema di tengah menguatnya polarisasi identitas dan kecenderungan eksklusivisme beragama di Indonesia. Buku Di Bawah Cakrawala Islam Berkemajuan hadir sebagai jawaban reflektif atas kegelisahan tersebut. Dengan jujur dan bernas, Dr. Ahmad Jais yang merupakan mantan Ketua PWM Kalbar (2010-2015) menuturkan pengalaman mahasiswa Kristiani di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah—sebuah narasi yang menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat menjadi ruang perjumpaan yang mencerahkan, bukan menakutkan.
Buku ini lahir dari pengalaman pedagogis penulis saat mengampu mata kuliah Multireligi, Etika Orang Beriman, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Pontianak serta beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya. Di ruang-ruang kelas itulah penulis menyaksikan secara langsung perjalanan mahasiswa Kristiani dari prasangka menuju kepercayaan.
Dari Bayangan Menuju Pengalaman Nyata
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya menangkap fase paling awal perjumpaan lintas iman. Bagi sebagian besar mahasiswa Kristiani, Muhammadiyah pada mulanya hadir sebagai "bayangan"—sebuah citra yang dibentuk oleh cerita sosial, media, dan imajinasi kolektif, bukan oleh pengalaman langsung.
Penulis dengan cermat memetakan bagaimana stigma tentang fanatisme, intoleransi, dan kekhawatiran akan misi keagamaan terselubung menjadi bagian dari imajinasi awal. Namun, buku ini tidak berhenti pada penggambaran prasangka. Ia justru menunjukkan bagaimana pengalaman konkret di ruang kelas, pertemanan sehari-hari, dan keteladanan dosen perlahan membongkar bayangan-bayangan tersebut.
Data survei yang disajikan penulis memperkuat narasi ini. Bahwa sebagian besar persepsi awal mahasiswa Kristiani terbentuk dari sumber tidak langsung—media, cerita teman, dan narasi keluarga—menegaskan betapa pentingnya perjumpaan nyata dalam membangun kesalingpahaman.
Islam Berkemajuan sebagai Etika Hidup Bersama
Judul buku ini bukan sekadar metafora puitik. "Cakrawala" melambangkan keluasan pandang, ruang terbuka tempat manusia melihat melampaui prasangka. "Islam Berkemajuan" merepresentasikan semangat pencerahan yang menjadi ruh gerakan Muhammadiyah.
Penulis menempatkan Islam Berkemajuan sebagai horizon etis yang menuntun cara beragama, bersikap, dan membangun relasi sosial secara beradab. Dalam kerangka ini, kesalehan pribadi tidak berhenti pada ritual, tetapi berbuah dalam kepedulian sosial. Dakwah tidak dipahami sebagai konversi, melainkan sebagai keteladanan. Pendidikan inklusif bukan sekadar strategi adaptif terhadap pluralitas, melainkan manifestasi dari etika Islam itu sendiri.
Pengalaman mahasiswa Kristiani di kampus Muhammadiyah menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam hadir bukan sebagai ancaman identitas, tetapi sebagai atmosfer etis yang memungkinkan setiap mahasiswa merasa aman, dihargai, dan diperlakukan setara.
Kampus sebagai Laboratorium Kebangsaan
Dalam konteks kebangsaan yang semakin terfragmentasi, buku ini menegaskan peran strategis kampus sebagai laboratorium kebangsaan. Di sanalah mahasiswa belajar bahwa kebinekaan bukan wacana abstrak, melainkan realitas konkret yang menuntut sikap etis. Di sanalah perbedaan iman tidak dihapuskan, tetapi ditempatkan dalam kerangka penghormatan terhadap martabat manusia.
Penulis mengingatkan bahwa masa depan Indonesia tidak dibangun oleh keseragaman identitas, tetapi oleh keberanian merawat keberagaman dengan hati yang terbuka. Kampus Muhammadiyah, melalui praksis pendidikannya yang terbuka, menjadi salah satu contoh ruang perjumpaan yang sehat—tempat warga dari latar identitas berbeda bertemu secara wajar, membangun relasi yang manusiawi, dan bertumbuh dalam kesalingpahaman.
Pelajaran untuk Masa Depan
Buku ini menawarkan beberapa pelajaran penting. Pertama, iman yang dewasa tidak merasa terancam oleh perbedaan. Justru sebaliknya, keteguhan iman tampak dalam ketenangan dan keterbukaan saat berjumpa. Kedua, kepercayaan lintas iman tidak lahir dari slogan atau retorika, tetapi dari pengalaman hidup bersama yang nyata, berulang, dan konsisten. Ketiga, pendidikan yang memanusiakan tidak meniadakan perbedaan, tetapi mengelolanya secara dialogis.
Di bawah cakrawala Islam Berkemajuan, ruang kelas bukan lagi sekadar tempat transfer ilmu, melainkan ruang perjumpaan tempat prasangka diuji, stereotipe dipatahkan, dan kepercayaan perlahan dibangun. Buku ini menjadi kesaksian bahwa perbedaan iman bukanlah ancaman, melainkan ruang perjumpaan kemanusiaan yang memperkaya.
Di Bawah Cakrawala Islam Berkemajuan adalah bacaan penting bagi siapa pun yang peduli pada pendidikan multikultural, dialog antariman, dan masa depan kebangsaan Indonesia. Dengan pendekatan reflektif-fenomenologis, buku ini tidak hanya menyajikan data, tetapi juga menghadirkan suara-suara autentik mahasiswa Kristiani yang mengalami langsung dinamika hidup bersama di lingkungan Muhammadiyah.
Lebih dari sekadar catatan pengalaman, buku ini adalah cermin bersama tentang bagaimana pendidikan dapat menjadi jalan untuk merawat keberagaman, mematangkan iman, dan memperkuat solidaritas kemanusiaan. Sebagaimana cakrawala selalu menghadirkan keluasan pandang, buku ini membuka harapan bahwa perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk saling mengenal, saling belajar, dan bersama-sama merawat kehidupan yang lebih inklusif, adil, dan berkeadaban.
Ahmad Norma Permata, Dosen UIN Sunan Kalijaga, Dewan Pakar LHKP PP Muhammadiyah.

