Kajian Ramadhan di MTs Muhammadiyah Pontren Imam Syuhodo
SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah – Kegiatan Ramadhan Spark Camp 1447 H di MTs Muhammadiyah Pontren Imam Syuhodo diawali dengan berbagai aktivitas pembinaan spiritual bagi para siswa. Rangkaian kegiatan dimulai dengan shalat dhuha berjamaah, dilanjutkan halaqah Al-Qur’an bersama para pendamping, serta kajian keislaman yang menjadi bagian utama dari program pembinaan selama bulan suci Ramadhan.
Kajian yang disampaikan oleh Burhanudin Ahmad mengangkat tema “Gen Z Mencari Jati Diri”, yang menyoroti pentingnya proses menemukan identitas diri bagi generasi muda di tengah perkembangan zaman dan pengaruh teknologi digital.
Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa mencari jati diri merupakan proses menemukan identitas yang sesungguhnya, yang harus didasarkan pada pemahaman tentang hakikat manusia dalam Islam. Ada beberapa hal mendasar yang perlu disadari dalam proses tersebut.
Pertama, manusia harus memahami dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah. Sebagai makhluk, manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan, serta tidak mampu menentukan sendiri awal maupun akhir kehidupannya. Kesadaran ini penting agar manusia tidak bersikap sombong dan selalu bergantung kepada Allah SWT.
Kedua, manusia memiliki unsur akal, hati, hawa nafsu, dan kemampuan memilih. Keempat unsur ini menjadikan manusia memiliki potensi untuk menentukan jalan hidupnya, namun sekaligus menuntut tanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil.
Ketiga, manusia adalah hamba Allah SWT yang memiliki kewajiban utama untuk beribadah dan menaati perintah-Nya. Identitas sebagai hamba Allah menjadi dasar dalam membangun kepribadian yang beriman dan berakhlak.
Keempat, kesadaran sebagai seorang Muslim juga harus menjadi landasan dalam bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial.
Kelima, manusia memiliki amanah sebagai khalifatullah di bumi, yaitu menjadi pemimpin dan pengelola yang membawa kebaikan serta manfaat bagi sesama.
Selain membahas tentang pencarian jati diri, kajian tersebut juga menyinggung fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang banyak dialami oleh generasi muda akibat penggunaan media sosial secara berlebihan. Untuk menghindari dampak negatif tersebut, pemateri menyampaikan beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Pertama, mengurangi bahkan meninggalkan penggunaan media sosial yang tidak bermanfaat. Kedua, mengatur waktu dalam berinteraksi dengan media sosial agar tidak mengganggu kegiatan yang lebih penting seperti belajar dan beribadah. Ketiga, membangun kegiatan baru yang lebih positif, seperti membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian, serta aktivitas pengembangan diri lainnya.
Tekankan Akhlak dan Adab
Memasuki hari kedua yaitu rangkaian kegiatan pembinaan keagamaan bagi para peserta. Kegiatan diawali dengan pelaksanaan shalat dhuha bersama, dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an yang didampingi oleh para pembimbing halaqah.
Setelah itu, peserta mengikuti kajian keislaman yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Azmi, Nur A. dengan tema “Upgrade Akhlak dan Adab Gen Z di Era Digital.”
Dalam kajiannya, Ustadz Azmi menjelaskan bahwa puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus. Ia mengingatkan bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan pahala selain rasa lapar dan dahaga. Hal tersebut terjadi karena puasa tidak disertai dengan menjaga perilaku, seperti menjaga lisan, menahan hawa nafsu, menjaga pandangan, pikiran, serta menjaga hati.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan kemudahan hidup dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Al-Qur’an serta menjaga akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital.
Ustadz Azmi juga mengutip Q.S. Ar-Rum ayat 54 yang menjelaskan bahwa masa remaja merupakan masa keemasan yang berada di antara dua masa kelemahan, yaitu masa kanak-kanak dan masa lanjut usia. Oleh karena itu, masa muda harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Hal tersebut juga diperkuat dengan hadis yang berisi anjuran untuk memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara, yaitu: memanfaatkan masa muda sebelum masa tua, masa sehat sebelum sakit, masa kaya sebelum fakir, waktu luang sebelum sibuk, dan kehidupan sebelum datangnya kematian.
Dalam penutup kajian, ia menyampaikan beberapa cara untuk memperbaiki kualitas hidup seorang muslim, yaitu memperbaiki akidah, melaksanakan ibadah dengan baik dan benar, memiliki akhlak yang baik, menjaga kesehatan tubuh agar tetap kuat, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
