Generasi Muda, Sosial Media, dan Ancaman Penurunan Daya Pikir

Publish

16 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
91
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Generasi Muda, Sosial Media, dan Ancaman Penurunan Daya Pikir 

Oleh: Candra Kusuma Wardana, S.E., MBA, Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta

Hadirnya teknologi selama beberapa dekade terakhir telah mengubah cara manusia berinteraksi, belajar, dan menghibur diri. Sosial media secara khusus, memberikan kemudahan bagi siapapun untuk tidak hanya berkomunikasi, tetapi juga menawarkan berbagai konten, mulai dari ilmu pengetahuan sampai hal-hal receh. Algoritma social media seolah mendorong pengguna untuk terus-menerus mengkonsumsi konten secara berulang. Jika terjadi dalam jangka panjang, dikhawatirkan akan muncul fenomena pembusukan otak atau “brain rot”, yang merujuk pada kondisi dimana individu kehilangan kemampuan untuk fokus, berpikir kritis, dan mempertahankan perhatian. Kondisi tersebut sangatlah serius bagi sebuah bangsa, khususnya generasi muda yang nantinya akan menjadi pemimpin di masa depan.

Walaupun brain rot secara harfiah dapat diartikan sebagai pembusukan otak, namun perlu digarisbawahi bahwa tidak semua konten dapat menyebabkan brain rot. Kondisi brain rot dapat terjadi Ketika seseorang mengkonsumsi konten-konten berkualitas rendah di internet maupun social media secara berlebihan. Pola konsumsi konten atau penggunaan sosial media secara berlebihan ini yang diprediksi dapat memengaruhi Kesehatan kognitif dan mental dalam jangka Panjang. Bahkan dilansir dari BBC, Casper Grathwohl, Presiden dari Oxford Language, menobatkan istilah brain rot sebagai word of the year 2024.

Jika kebiasaan konsumsi berlebih di sosial media atau scrolling tanpa henti ini terus berlangsung, generasi muda adalah kelompok yang paling rentan terdampak. Terdapat beberapa dampak buruk yang mengintai mereka, yaitu

Pertama, terjadi penurunan rentang perhatian (attention span). Pada fase remaja dan dewasa awal, otak yang berperan dalam control diri dan pengambilan Keputusan masih dalam tahan perkembangan. Paparan distraksi intens sejak usia muda akan kemudian mempengaruhi pola regulasi atensi mereka. Akan semakin banyak generasi muda yang attention span-nya pendek, mengakibatkan kesulitan fokus saat membaca artikel penjang atau mengikuti sesi perkuliahan yang membutuhkan konsenstasi dan fokus.

Kedua, dari sisi proses belajar, kebiasaan scrolling di social media khususnya pada konten video pendek mendorong pendangkalan pemrosesan infirmasi (shallow processing). Istilah pemrosesan dangkal atau shallow processing sendiri merujuk pada tingkat pemprosesan informasi yang hanya berfokus pada stimulus fisik atau sensorik yang dangkal, bukan pada makna atau pemahaman komprehensif terhadap suatu informasi. Ketika anak muda sering terpapar video pendek berdurasi 15-60 detik, kemampuan mereka untuk melakukan sintesa atau analisis mendalam terhadap suatu topik bahasan berpotensi menurun.

Ketika, kebiasaan scroll di social media tanpa tujuan juga dapat membentuk preferensi psikologis terhadap kepuasan yang instan. Pengguna social media menjadi terbiasa dengan hiburan cepat, sehingga otak akan mencari instant reward ketika mendapat kesulitan. Padahal, disaat individu sedang merasa kesulitan untuk memahami suatu hal atau mengerjakan suatu pekerjaan, otak sedang dilatih agar dapat mencari koneksi yang mampu menyelesaikan permasalahan.

Bisa dibayangkan ketika anak muda yang sering terpapar video pendek dengan kepuasan instan, mereka akan sangat terbebani dengan beban pemikiran yang butuh fokus lebih seperti menyusun skripsi, membangun keterampilan professional, atau mengembangkan karir. Akan muncul rasa cepat bosan dan ingin segera beralih pada kegiatan yang lebih menyenangkan.

Dalam jangka panjang, ketika anak muda terbiasa scrolling di social media yang mengakibatkan terjadinya fenomena brain rot, daya saing mereka menjadi taruhan. Dunia kerja di masa depan semakin menuntut kemampuan untuk berfikir kritis, kompleks, problem solving, dan fokus yang mendalam. Jika generasi muda memiliki penurunan ketahanan atensi, dangkal dalam memproses informasi, dan cepat bosan ketika mendapat tantangan kognitif, maka kreatifitas dan inovasi juga berpotensi untuk terus menurun.

Demikian, untuk mengatasi agar brain rot dapat diminimalisir dampaknya, maka diperlukan solusi untuk mempertahankan potensi generasi muda. Terdapat dua solusi yang dapat dilakukan oleh anak muda agar dapat mengurangi efek buruk scrolling berlebih, yaitu membangun kesadaran terhadap ancaman brain rot dan manajemen waktu di layar handphone (screen time management).

Untuk solusi pertama, anak muda perlu memiliki alasan yang sangat kuat untuk tidak melakukan kebiasaan buruk konsumsi konten video pendek secara berlebih. Mereka harus teredukasi terkait dengan berbagai ancaman dan kesulitan yang akan dihadapi di masa depan. Setelah memiliki alasan yang kuat, maka diharapkan mereka dapat berkomitmen untuk mencegah agar tidak terjadi brain rot. Kemudian untuk solusi kedua, generasi muda dapat menetapkan batasan-batasan dalam penggunaan handphone atau screen time management.

Contohnya seperti menetapkan batas waktu penggunaan social media per hari, menghindari melihat sosial media satu jam sebelum tidur, atau bahkan mengunduh aplikasi screen time management di Appstore atau Google Playstore agar memudahkan dalam pengelolaan waktu di depan layar. Aplikasi tersebut juga menyediakan fitur blocking, sehingga mencegah pengguna untuk tergoda melanggar aturan pengaturan waktu yang terlah dibuat sebelumnya.

Persoalan brain rot bukan hanya tentang apakah generasi muda harus meninggalkan social media sepenuhnya, tetapi melihat sejauh mana mereka sadar akan bahaya dan mampu mengendalikan risiko yang akan dihadapi di masa depan. Melalui kesadaran dan pola pengaturan penggunaan smartphone yang disiplin, generasi muda diharapkan dapat terus menjaga kualitas berfikir kritis dan mendalam.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Dinamika Lansia Mengadopsi Budaya Digital  Penulis: Amalia Irfani, Kaprodi SAA FUSHA IAIN Pont....

Suara Muhammadiyah

4 January 2026

Wawasan

Praktik Baik Universitas Muhammadiyah Kupang Bina Desa Berkemajuan Oleh: Uslan, Ph.D, Ketua Prodi S....

Suara Muhammadiyah

10 December 2023

Wawasan

Memuliakan Tamu KondanganOleh: Mohammad Fakhrudin/Warga Muhammadiyah Magelang   Topik kajian ....

Suara Muhammadiyah

26 April 2025

Wawasan

Meluruskan Niat dan Tujuan Beribadah Haji Oleh: Mohammad Fakhrudin Setelah menunggu sepuluh tahun ....

Suara Muhammadiyah

7 May 2024

Wawasan

Independensi Polri dalam Spirit Reformasi Konstitusional; Membaca Sikap Prof. Haedar Nashir secara N....

Suara Muhammadiyah

5 February 2026