YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir, MSi, secara langsung meresmikan Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Yogyakarta. Haedar menegaskan bahwa kehadiran gedung megah berstandar internasional ini merupakan perwujudan dari "Etos Kemajuan" yang menjadi jati diri Muhammadiyah untuk terus mentransformasi dunia pendidikan nasional.
Haedar menjelaskan bahwa pembangunan MSUS yang berlangsung kurang dari satu tahun merupakan hasil dari stimulasi etos kemajuan yang selama ini menjadi potensi laten di dalam persyarikatan. Mengutip sosiolog Robert K. Merton, ia menekankan pentingnya aktor atau subjek yang bertindak untuk mengubah potensi yang terpendam menjadi nyata atau manifest.
"Muhammadiyah sejak KH Ahmad Dahlan telah mendobrak kemapanan. Beliau tidak ingin kelangenan atau sekadar menjaga status quo, tetapi menginginkan perubahan karena itulah jiwa Islam," ujar Haedar, Sabtu (4/7). Ia mengingatkan agar sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak terjebak dalam zona nyaman atau merasa bangga dengan ketertinggalan karena memiliki pasar yang pasti (captive market). MSUS ditegaskannya sebagai sebuah transformasi dari SD Muhammadiyah Sapen yang sudah legendaris agar tetap menjadi pelopor di tengah perubahan zaman.
Dalam amanatnya, Haedar juga memberikan catatan kritis terhadap arah pendidikan nasional yang sering kali kehilangan strategi jangka panjang akibat pergantian rezim. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab konstitusional yang sangat berat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga tidak boleh disalahartikan sebagai alat kekuasaan atau sekadar mencari materi.
"Salah kalau kita menempatkan pendidikan sebagai faktor kekuasaan dan faktor uang. Siapapun yang mendapat amanat, itu bukan urusan jabatan, tapi soal tanggung jawab kemanusiaan untuk mendidik anak manusia menjadi utuh," tegasnya. Ia juga berpesan kepada warga Muhammadiyah agar tidak bereuforia terhadap jabatan-jabatan strategis di pemerintahan, melainkan tetap fokus pada pengabdian mencerdaskan bangsa.
Saat sesi konferensi pers, Prof Haedar menambahkan bahwa MSUS dirancang dengan pendekatan holistik, mulai dari ekosistem, sarana prasarana, hingga proses pembelajaran untuk menjadi sekolah berlevel ASEAN dan internasional. Hal ini sekaligus menjawab tingginya minat masyarakat terhadap SD Muhammadiyah Sapen yang selama ini mengalami antrean panjang pendaftaran.
Ia juga menyinggung pentingnya kebijakan pendidikan yang moderat dan terpadu, serta menolak adanya militerisasi di berbagai aspek kehidupan sipil, termasuk pendidikan. "Bangun Indonesia ini dengan moderat saja. Pancasila itu ideologi moderat. Tempatkan sesuatu pada tempatnya," tuturnya.
Sebagai penutup, Haedar menjabarkan bahwa visi pendidikan Muhammadiyah harus mencakup dua dimensi: mencetak manusia sebagai Abdullah yang taat beribadah dan bertauhid, sekaligus sebagai Khalifah fil ard yang mampu memakmurkan bumi melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Maka pandangan keagamaan di sekolah Muhammadiyah harus adaptif terhadap dua dimensi ini. Tidak cukup saleh semata-mata, tapi juga harus menjadi pelaku kemajuan untuk mengolah semesta alam," pungkasnya.

