Jajaki Kolaborasi Perkuat Kebinekaan dan Pendidikan Lingkungan
JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Sekolah dapat menjadi ruang untuk merawat keberagaman sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Semangat inilah yang mengemuka dalam pertemuan silaturahmi Eco Bhinneka Muhammadiyah dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Abdul Mu’ti, di kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Rabu (28/10).
Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, berbagi pengalaman tentang berbagai inisiatif anak muda lintas iman yang dikembangkan di sejumlah wilayah. Program-program tersebut mencakup pendidikan lingkungan, pengembangan wirausaha ramah lingkungan, kampanye lingkungan, efisiensi dan transisi energi, serta pemberdayaan kelompok difabel. Melalui berbagai kegiatan ini, Eco Bhinneka mengajak anak muda lintas iman untuk bekerja sama mengatasi masalah lingkungan dan membangun masyarakat yang terbuka serta menghargai perbedaan.
“Kami ingin berbagi pembelajaran dari berbagai wilayah sekaligus mendapatkan arahan untuk memperkuat inisiatif yang telah berjalan. Kami berharap upaya membangun kepedulian lingkungan dan merawat keberagaman dapat menjangkau lebih banyak anak muda, termasuk melalui lingkungan sekolah,” ujar Hening.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Abdul Mu’ti menekankan pentingnya membangun budaya ASRI—Aman, Sehat, Resik, dan Indah—di sekolah maupun masyarakat. Menurutnya, kepedulian lingkungan perlu tumbuh melalui kebiasaan sehari-hari, mulai dari mengurangi sampah dan memanfaatkan kembali barang hingga menggunakan energi secara bijak.
Ia mendorong Eco Bhinneka Muhammadiyah untuk memperluas edukasi lingkungan di sekolah, termasuk melalui kegiatan ekstrakurikuler yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengelola sampah dan mengembangkan produk bermanfaat.
“Budaya peduli lingkungan dapat dibangun melalui kegiatan di sekolah, termasuk kegiatan ekstrakurikuler yang mengajak siswa mengelola sampah dan mengolahnya menjadi produk yang bermanfaat,” ujar Prof. Abdul Mu’ti.
Peluang ini sejalan dengan program 1000 Cahaya Muhammadiyah yang dijalankan Eco Bhinneka untuk mendorong efisiensi dan transisi energi. Program tersebut telah melaksanakan pelatihan di 50 sekolah dan direncanakan berlanjut melalui penguatan kapasitas guru serta kerja sama dengan sekolah lintas iman.
Selain kepedulian lingkungan, penguatan karakter dan kebinekaan juga menjadi ruang potensial untuk mengembangkan kerja sama. Kepala Pusat Pengembangan Prestasi dan Pembinaan Karakter Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, menjelaskan bahwa kementerian mengembangkan Forum Perjumpaan Tunas Bhinneka yang diintegrasikan dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), khususnya pada hari pertama.
Forum tersebut mendorong sekolah menjadi ruang perjumpaan bagi peserta didik untuk saling mengenal dan menghargai perbedaan, termasuk perbedaan agama. Menurut Rusprita, pendekatan ini sejalan dengan inisiatif Eco Bhinneka dalam mempertemukan anak muda lintas iman melalui kegiatan bersama.
“Sekolah perlu menjadi ruang perjumpaan bagi anak-anak untuk belajar saling mengenal, menghargai, dan menghormati perbedaan,” ujar Rusprita.
Ia menambahkan, literasi keagamaan serta budaya sekolah yang aman dan nyaman turut berperan penting dalam membangun karakter peserta didik.
Kegiatan ini dihadiri 20 orang tim pengelola program Eco Bhinneka Muhammadiyah dari tingkat nasional dan sembilan wilayah. Agenda ini menjadi langkah awal penjajakan kerja sama dengan Kemendikdasmen untuk memperkuat pendidikan lingkungan dan kebinekaan di sekolah. (diko)