Kado Hari Koperasi ke-79: Ketika Transformasi Melahirkan Ekosistem Umat

Suara Muhammadiyah

13 July 2026

328
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Kado Hari Koperasi ke-79: Ketika Transformasi Melahirkan Ekosistem Umat

Oleh: Pepi Januar Pelita, Ketua Koperasi Sekunder Khairu Ummah Surya Madani dan Dosen FKIP UMBARA

"Koperasi bukan lagi diukur dari besarnya Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dibagikan, tetapi dari luasnya kemaslahatan yang mampu diciptakan bagi anggota dan masyarakat."

Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 tahun ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali khitah gerakan ekonomi rakyat. Di tengah kepungan arus kapitalisme global dan disrupsi digital yang kian masif, koperasi dituntut tidak sekadar bertahan hidup. Koperasi harus bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi yang profesional, modern, sekaligus setia pada nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Bagi Muhammadiyah, prinsip tolong-menolong ini merupakan perintah suci. “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa...”(QS. Al-Ma'idah: 2). Ayat ini menjadi fondasi teologis dalam membangun kehidupan sosial-ekonomi yang berkeadilan. Haedar Nashir, (2017) mengingatkan bahwa kemandirian ekonomi adalah prasyarat mutlak terwujudnya masyarakat utama. Abdul Mu'ti (2025) memperkuat bahwa dakwah ekonomi harus ditempatkan sebagai pilar ketiga gerakan Muhammadiyah setelah pilar pendidikan dan kesehatan. Sebab, kejayaan umat tidak akan tercapai tanpa kemandirian finansial yang kokoh.

Dari Rp1,5 Juta Menuju Daulat Ekonomi

Ikhtiar membumikan Islam Berkemajuan tampak nyata pada gerak langkah Koperasi Khairu Ummah Grup di Leuwiliang, Bogor. Didirikan tahun 1994, koperasi ini bermula dari gotong royong warga Muhammadiyah dengan modal Rp1,5 juta. Secara nominal angka itu sangat kecil, namun secara spiritual nilainya tak terhingga karena lahir dari ketulusan dan rasa saling percaya antar-warga persyarikatan.

Ini adalah pengejawantahan riil teologi Al-Ma'un yang diwariskan KH Ahmad Dahlan, yang mengajarkan bahwa kesalehan teologis harus berbuah kesalehan sosial, membela kaum dhuafa melalui institusi nyata. Spirit ini berkelindan erat dengan pemikiran luhur Bapak Koperasi, Mohammad Hatta (1954), yang menempatkan koperasi sebagai alat perjuangan untuk menegakkan demokrasi ekonomi sesuai Pasal 33 UUD 1945.

Model gerakan moral ini divalidasi peraih Nobel Ekonomi, Elinor Ostrom (1990). Risetnya membuktikan bahwa organisasi berbasis kepemilikan bersama yang dirawat dengan modal sosial berupa kepercayaan (trust) dan partisipasi aktif akan memiliki daya tahan jauh lebih kokoh ketimbang entitas yang melulu mengejar profit materi.

Kepercayaan jamaah itulah yang mengantar Khairu Ummah bertumbuh dari unit simpan pinjam kecil menjadi gurita kebaikan. Portofolionya kini merambah dari sektor keuangan syariah (USPPS), pilar kesehatan lewat tiga Klinik Pratama Rawat Inap PKU Muhammadiyah di Leuwiliang, Leuwisadeng, dan Ciampea, hingga sektor ritel WargaKHU an WarkopKHU (Republika, 24/1/2026). Kunci keberlanjutan ini terletak pada komitmen kepemimpinan yang transparan, akuntabel, serta istiqomah dalam menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT).

Menghadirkan 'Falah' dan Misi Sosial

Tahun 2025, Khairu Ummah melakukan ijtihad organisasi melalui aksi spin-off. Melalui Koperasi Sekunder Khairu Ummah Surya Madani, paradigma usaha diubah secara radikal. Koperasi tidak lagi sekadar menjadi pusat pemburu laba, melainkan jangkar pengembang ekosistem umat. Pendekatan ini selaras dengan konsep learning organization dari Peter Senge (1990), yakni institusi yang terus bertumbuh lewat pembelajaran kolektif dan inovasi tiada henti.

Buah manis dari transformasi ini tercermin dalam Laporan Kinerja Semester I Tahun 2026, yang sukses membukukan total aset sebesar Rp216,06 miliar, omzet Rp13,61 miliar, serta SHU grup mencapai Rp882,74 juta. Keberkahan ini dinikmati oleh 15.306 anggota yang dilayani dengan hati oleh 161 SDM profesional di 11 unit layanan. Lebih jauh, pada paruh pertama 2026 ini, Khairu Ummah Grup telah merealisasikan investasi strategis sebesar Rp31,10 miliar serta anggaran pengembangan organisasi Rp2,39 miliar untuk penguatan digitalisasi.

Langkah taktis ini sangat segaris dengan konsep maqashid syariah yang digagas ekonom M. Umer Chapra (2000), bahwa tujuan sejati ekonomi Islam adalah mewujudkan falah (kesejahteraan paripurna) melalui keadilan, perlindungan harta, dan penguatan kualitas manusia.

Di level makro, data BPS (2025) menegaskan bahwa sektor koperasi tetap menjadi penyelamat utama dalam memperluas akses pembiayaan UMKM di akar rumput. Bagi Muhammadiyah, penguatan koperasi sesungguhnya bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari dakwah pemberdayaan. Koperasi menjadi ruang untuk menumbuhkan amanah, kejujuran, gotong royong, profesionalisme, dan keadilan sosial. Karena itu, transformasi kelembagaan tidak hanya melahirkan efisiensi bisnis, tetapi juga memperkuat misi sosial dalam membangun kemandirian ekonomi umat.

Pusat Pemberdayaan yang Berkelanjutan

Perjalanan tersebut belum berakhir. Tantangan peningkatan daya saing, inovasi digital, penguatan tata kelola, regenerasi SDM, hingga adaptasi terhadap perubahan perilaku pasar masih harus terus dijawab. Namun, pengalaman lebih dari tiga dekade menunjukkan bahwa koperasi yang berpegang pada nilai, menjaga kepercayaan anggota, dan berani melakukan pembaruan akan memiliki fondasi yang kokoh untuk terus berkembang.

Momentum Hari Koperasi menjadi pengingat bahwa masa depan koperasi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset dan masifnya pendirian, tetapi oleh kemampuannya membangun ekosistem ekonomi yang saling menguatkan. Khairu Ummah Grup memberikan pelajaran bahwa transformasi kelembagaan, sinergi antarusaha, investasi pada SDM, dan inovasi berkelanjutan mampu melahirkan koperasi yang tidak sekadar menjadi tempat berusaha, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Selamat Hari Koperasi.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko LPCRPM PP Muhammadiyah, Pemberdayaan Ekonomi Seni Dan Budaya Memenu....

Suara Muhammadiyah

22 March 2024

Wawasan

Pendidikan Bermutu Meretas Ketimpangan Oleh: Rizki Putra Dewantoro, Kader Muhammadiyah Di balik ge....

Suara Muhammadiyah

25 May 2025

Wawasan

Oleh: H Akhmad Khairudin, SS., MBA, Anggota Majlis Ekonomi PCM Turi Dampak Ekonomi Bagi Negara Peng....

Suara Muhammadiyah

28 June 2024

Wawasan

Membedah Makna di Balik Godaan Nabi Yusuf Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universit....

Suara Muhammadiyah

22 September 2025

Wawasan

Presiden Prabowo, Himbara dan Tantangan Lapangan Kerja  Oleh: Buya Anwar Abbas  Angka pe....

Suara Muhammadiyah

7 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah