Keajaiban dalam Rahim

Publish

10 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
53
Foto oleh pikisuperstar di Freepik

Foto oleh pikisuperstar di Freepik

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Al-Qur'an bukan sekadar kitab hukum atau kumpulan kisah masa lalu; ia adalah mukjizat intelektual yang terus menantang batas pemahaman manusia lintas zaman. Salah satu bagian yang paling mempesona untuk dikaji dalam perspektif sains modern adalah Surah Al-Mu'minun (23), ayat 12 hingga 14. Ayat-ayat ini memberikan gambaran kronologis mengenai asal-usul manusia, sebuah perjalanan dari sari pati tanah hingga menjadi sosok ciptaan yang sempurna.

Teks Suci: Sebuah Cetak Biru Penciptaan
Dalam terjemahan yang sering dirujuk dalam dunia akademik maupun dakwah modern, seperti Sahih International, ayat tersebut berbunyi:

"Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (nutfa) yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah ('alaqah), lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging (mudghah), dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (bentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik."

Membaca teks ini hari ini memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan seribu tahun lalu. Saat ini, kita membaca teks ini dengan "kacamata" mikroskop dan USG 4-dimensi. Namun, untuk benar-benar menghargai keagungan ayat ini, kita harus menyadari betapa terbatasnya pemahaman manusia di masa lalu mengenai apa yang terjadi di dalam rahim.

Jurang Pemahaman: Antara Klasik dan Modern
Para mufasir (ahli tafsir) klasik adalah orang-orang hebat pada zamannya. Namun, mereka hidup dalam dunia "pra-ilmiah". Mereka tidak memiliki alat untuk melihat ke dalam kegelapan rahim. Akibatnya, pemahaman mereka terhadap istilah-istilah seperti 'alaqah atau mudghah sangat dipengaruhi oleh intuisi dan pengamatan mata telanjang terhadap dunia sekitar.

Baru pada beberapa abad terakhir inilah umat manusia mulai memahami dinamika biologis embriologi. Sebelum penemuan mikroskop canggih, spekulasi liar mendominasi dunia kedokteran, bahkan di Eropa. Pada abad ke-18, teori "Preformasionisme" sangat populer. Para ilmuwan saat itu percaya bahwa di dalam sperma laki-laki terdapat sosok manusia kecil yang sudah terbentuk sempurna (disebut homunculus). Menurut mereka, rahim hanyalah "oven" atau tanah tempat bibit kecil ini tumbuh membesar tanpa ada perubahan bentuk yang fundamental.

Kelompok lain berpendapat sebaliknya: manusia kecil itu ada di dalam sel telur wanita, dan sperma laki-laki hanyalah pemantik atau katalis, mirip seperti ragi yang membantu adonan roti mengembang atau rennet yang menggumpalkan susu menjadi keju. Mereka sama sekali tidak membayangkan adanya fusi genetika—sebuah penyatuan dua sel yang membentuk entitas baru yang unik.

Pentingnya Melibatkan Sains dalam Tafsir
Kita tidak bisa menyalahkan para pendahulu atas keterbatasan pengetahuan mereka. Namun, menjadi sebuah kesalahan besar bagi kita yang hidup di abad ke-21 jika kita menolak menggunakan pengetahuan pemberian Tuhan (sains) untuk memahami firman-Nya. Kita sering mendengar argumen, "Kita harus memahami Al-Qur'an sebagaimana para sahabat memahaminya."

Tentu, dalam hal akidah dan ibadah pokok, itu benar. Namun dalam hal fenomena alam, Al-Qur'an seringkali menggunakan bahasa yang melampaui zaman mereka. Dr. Shabir Ally menekankan bahwa kita sering kali hanya memiliki "narasi" tentang apa yang kita pikir mereka pahami. Padahal, sejarah lisan dan tulisan terkadang bisa mengalami bias. Jika kita hanya terpaku pada penafsiran abad ke-7 untuk menjelaskan biologi abad ke-21, kita sebenarnya sedang mengecilkan cakupan mukjizat Al-Qur'an itu sendiri.

Mari kita bedah secara mendalam. Ayat tersebut menyebutkan Nutfa, sebuah tetesan kecil yang ditempatkan di tempat yang kokoh (Qararin Makin). Kini kita tahu betapa kokohnya rahim dan cairan ketuban melindungi janin dari guncangan luar.

Tahap berikutnya adalah 'Alaqah. Secara bahasa, 'alaqah bisa berarti segumpal darah, sesuatu yang menempel, atau bahkan lintah. Jika kita melihat foto mikroskopis embrio pada usia sekitar 7–24 hari, embrio tersebut tampak secara harfiah "menempel" dan bergantung pada dinding rahim untuk menyerap nutrisi. Bentuknya pun, secara visual, sangat mirip dengan lintah. Bagaimana seorang pria di gurun pasir abad ke-7 bisa memilih kata yang begitu presisi secara visual dan fungsional jika bukan karena wahyu Ilahi?

Kemudian, embrio berubah menjadi Mudghah atau "segumpal daging yang tampak seperti bekas kunyahan". Dalam embriologi, ini adalah tahap di mana somites (bakal ruas tulang belakang) terbentuk. Jika Anda melihat model embrio pada tahap ini, ia memang tampak seperti zat lentur yang memiliki bekas gigi di atasnya.

Ketidaktahuan terhadap detail biologis ini di masa lalu bahkan memengaruhi produk hukum Islam (fiqh). Contoh yang paling nyata adalah aturan mengenai masa iddah (masa tunggu) bagi wanita yang bercerai atau suaminya meninggal.

Beberapa ulama masa lalu bersikap sangat konservatif dengan mewajibkan masa tunggu yang panjang hanya karena ketakutan bahwa sperma suami baru bisa "bercampur" atau memengaruhi janin dari suami lama yang sedang berkembang. Pemikiran ini lahir dari asumsi bahwa rahim adalah wadah pasif yang bisa menampung pengaruh dari berbagai sumber sperma sekaligus.

Namun, sains modern mengonfirmasi bahwa setelah pembuahan terjadi, "pintu" sel telur tertutup rapat secara kimiawi (zona pellucida). Secara genetika, bayi tersebut sudah "tersegel". Memahami fakta ini membantu kita melihat hukum Islam dengan cara yang lebih rasional tanpa menghilangkan esensi spiritualnya. Sains tidak mengubah hukum Tuhan, tetapi sains memberikan kejelasan mengapa hukum itu ada dan bagaimana ia harus diterapkan secara adil.

Mukjizat embriologi dalam Al-Qur'an ini bukan sekadar klaim apologetik dari kalangan Muslim. Tokoh-tokoh besar seperti Dr. Maurice Bucaille telah lama menulis tentang harmoni antara Kitab Suci dan sains. Yang lebih fenomenal adalah testimoni dari Dr. Keith Moore, penulis buku teks The Developing Human yang menjadi rujukan utama di sekolah-sekolah kedokteran dunia.

Dr. Moore, bersama Dr. T.V.N. Persaud dari Universitas Manitoba, mengakui bahwa deskripsi Al-Qur'an tentang tahapan janin sangat akurat dan mustahil berasal dari pengetahuan manusia pada zaman itu. Mereka terkejut menemukan bahwa pembagian tahapan janin yang mereka susun dengan alat modern, ternyata sudah memiliki terminologi yang mapan dalam Al-Qur'an sejak 1.400 tahun yang lalu.

Perjalanan dari tanah menuju air mani, lalu menjadi sesuatu yang menempel, hingga akhirnya "dibungkus dengan daging" adalah sebuah simfoni penciptaan yang luar biasa. Al-Qur'an menutup rangkaian ayat ini dengan seruan yang menggugah: "Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik."

Sains bukan musuh agama; ia adalah alat bagi orang beriman untuk mempertebal kekaguman mereka kepada Sang Pencipta. Dengan memahami detail biologi di balik ayat-ayat ini, kita tidak hanya belajar tentang bagaimana kita terbentuk, tetapi kita juga belajar tentang betapa detailnya perhatian Tuhan terhadap setiap tahap kehidupan kita. Kita hidup di zaman yang penuh dengan pengetahuan; mengabaikan pengetahuan ini dalam memahami agama adalah sebuah kerugian intelektual dan spiritual.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Seperti biasa memasuki fase pesta demokrasi, akan banyak hal yang tidak terduga terjadi. Pro dan kon....

Suara Muhammadiyah

27 October 2023

Wawasan

Korupsi dan Bencana Ekologi Oleh: Habib Iman Nurdin Sholeh, Dosen UIN Salatiga, Majelis Hukum dan H....

Suara Muhammadiyah

9 December 2025

Wawasan

Tujuan Hidup: Sains Vs. Islam, Mana yang Lebih Masuk Akal? Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu....

Suara Muhammadiyah

8 October 2025

Wawasan

Bekal Menyambut Ramadhan Oleh: Mohammad Fakhrudin Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammad....

Suara Muhammadiyah

9 March 2024

Wawasan

Jelang Munas Satu Abad: Menyongsong Transformasi Kedua Majelis Tarjih (5) Oleh: Mu’arif Jika....

Suara Muhammadiyah

30 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah