Baju Lebaran, Simbol Kesucian atau Ritual Konsumsi Tahunan?

Publish

17 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
63
Foto Ilustrasi: Freepik

Foto Ilustrasi: Freepik

Baju Lebaran, Simbol Kesucian atau Ritual Konsumsi Tahunan?

Oleh: Ratna Arunika, Anggota LLHPB – Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur

Menjelang minggu-minggu terakhir Ramadhan, ritme kehidupan masyarakat berubah. Jalanan terasa lebih padat, mobil angkutan barang hilir mudik membawa berbagai kebutuhan, dan jasa pengiriman seperti berpacu dengan waktu mengantarkan pesanan dari keranjang belanja daring yang terus bertambah. Di banyak tempat, kegiatan produksi bahkan beroperasi hingga tiga shift kerja.

Usaha kecil dan menengah ikut menggeliat. Pesanan kue kering, parsel, dan berbagai kebutuhan Lebaran meningkat tajam. Pusat perbelanjaan pun tidak ketinggalan. Banner promosi bertuliskan “Koleksi Ramadhan” atau “Diskon Lebaran” terpampang di mana-mana. Mall penuh sesak, pasar tradisional ramai hingga larut malam. Orang-orang datang dengan satu tujuan yang hampir sama: bersiap menyambut hari raya.

Di antara berbagai persiapan itu, ada satu tradisi yang hampir selalu hadir setiap tahun, membeli baju baru untuk Lebaran. Bahkan ada ungkapan yang cukup populer menjelang Idulfitri: “Lebaran tanpa baju baru terasa kurang lengkap.”

Ungkapan ini terasa begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. Ia menjadi semacam kebiasaan umum yang berulang dari tahun ke tahun. Namun jika direnungkan lebih jauh, muncul pertanyaan yang menarik, apakah baju baru pada hari Lebaran masih menjadi simbol kesucian setelah Ramadhan, atau justru telah berubah menjadi ritual konsumsi tahunan?

Tradisi dan Makna Simbolik

Ramadhan pada dasarnya adalah ruang refleksi bagi manusia. Puasa mengajarkan bahwa manusia mampu menahan dorongan paling dasar dalam dirinya. Rasa lapar, haus, amarah, dan berbagai keinginan yang sering kali datang tanpa batas. Selama sebulan penuh, umat Muslim dilatih untuk mengendalikan diri, menata ulang hubungan dengan Tuhan, sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama.

Karena itu, Idulfitri sering dimaknai sebagai momentum kembali. Kembali pada kesucian, kembali pada kejernihan hati, dan kembali pada niat untuk menjalani hidup dengan cara yang lebih baik.

Dalam suasana seperti itu, mengenakan pakaian terbaik menjadi simbol kegembiraan sekaligus rasa syukur. Baju yang bersih dan rapi melambangkan bahwa seseorang menyambut hari kemenangan dengan hati yang diperbarui.

Namun dalam perkembangan masyarakat modern, makna simbolik tersebut perlahan bercampur dengan budaya konsumsi. Industri mode, pusat perbelanjaan, hingga promosi besar-besaran menjelang Lebaran ikut memperkuat anggapan bahwa hari raya harus selalu identik dengan pakaian baru.

Tidak jarang, keinginan untuk tampil serasi saat silaturahmi atau terlihat pantas dalam foto keluarga turut mendorong orang membeli lebih dari yang sebenarnya dibutuhkan.

Jejak Sejarah Tradisi Baju Lebaran

Jika ditelusuri lebih jauh, kebiasaan mengenakan pakaian terbaik pada hari raya sebenarnya bukanlah hal baru dalam tradisi Islam. Sejak masa awal Islam, hari raya dipandang sebagai momen istimewa yang layak disambut dengan kegembiraan dan penghormatan.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki pakaian khusus yang dikenakan pada kesempatan tertentu, seperti hari raya dan hari Jumat. Riwayat yang dicatat oleh Al-Baihaqi menyebutkan bahwa Rasulullah memiliki jubah yang dikenakan saat hari raya atau ketika menerima tamu penting.

Namun ada hal penting yang sering terlupakan ketika tradisi ini dibicarakan hari ini. Dalam praktik masyarakat Muslim pada masa itu, yang ditekankan bukanlah membeli pakaian baru setiap tahun, melainkan mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki. Selama pakaian itu bersih, rapi, dan harum, hal tersebut sudah dianggap cukup untuk menyambut hari raya dengan penuh kegembiraan.

Ketika Islam berkembang di Nusantara, tradisi ini kemudian bertemu dengan budaya lokal. Pada masa kerajaan-kerajaan Islam seperti Kesultanan Banten dan Mataram, hari besar keagamaan sering dirayakan dengan busana terbaik sebagai simbol penghormatan dan kemeriahan.

Catatan kolonial bahkan menunjukkan bahwa masyarakat di Hindia Belanda sudah memiliki kebiasaan membeli pakaian baru menjelang hari raya. Orientalis Belanda Christiaan Snouck Hurgronje mencatat praktik ini di Batavia dan Aceh pada awal abad ke-20.

Sebagian masyarakat pada masa itu memang jarang membeli pakaian. Banyak orang hanya memiliki beberapa set pakaian saja. Membeli atau membuat pakaian baru biasanya dilakukan setahun sekali, sering kali bertepatan dengan hari besar seperti Lebaran.

Seiring waktu, makna “memakai yang terbaik” perlahan bergeser menjadi “membeli yang baru”.

Industri Mode dan Lonjakan Konsumsi

Perubahan ini semakin terasa ketika industri mode berkembang pesat. Indonesia kini dikenal sebagai salah satu pasar fesyen terbesar di Asia Tenggara. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan bahwa sektor fesyen menyumbang sekitar 18 persen dari total ekonomi kreatif nasional, dengan nilai pasar yang diperkirakan melampaui 20 miliar dolar AS.

Momentum Ramadan dan Lebaran menjadi salah satu penggerak terbesar perputaran industri ini. Berbagai survei menunjukkan bahwa sekitar 60 hingga 70 persen masyarakat Indonesia membeli pakaian baru khusus untuk Lebaran.

Fenomena ini terlihat jelas di pusat perbelanjaan yang ramai, pasar yang penuh hingga malam hari, hingga toko daring yang menawarkan berbagai koleksi outfit Lebaran.

Promosi besar-besaran, diskon Ramadhan, hingga tren media sosial semakin memperkuat dorongan konsumsi ini. Istilah seperti “baju Lebaran serasi” atau “outfit keluarga” menjadi tema yang populer menjelang hari raya.

Di titik inilah tradisi bertemu dengan logika pasar.

Fast Fashion dan Dampaknya

Di balik gegap gempita belanja baju Lebaran, ada fenomena yang patut dicermati, fast fashion.

Model industri ini memproduksi pakaian dengan cepat, murah, dan mengikuti tren sesaat. Koleksi baru bisa muncul dalam hitungan minggu. Tujuannya sederhana, membuat konsumen terus merasa membutuhkan sesuatu yang baru.

Akibatnya, siklus konsumsi pakaian menjadi sangat cepat. Cepat dibeli, cepat dipakai, lalu cepat tersingkir dari lemari.

Padahal, kebiasaan ini sangat berbeda dengan tradisi lama yang lebih menekankan pakaian terbaik yang dimiliki bersih, rapi, dan pantas sebagai simbol perayaan.

Limbah Fesyen dan Krisis Lingkungan

Di balik tren mode yang terus berubah, ada dampak lingkungan yang jarang disadari.

Secara global, industri fesyen menyumbang sekitar 10 persen emisi karbon dunia dan menghasilkan hampir 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun. Banyak pakaian hanya dipakai beberapa kali sebelum akhirnya dibuang.

Sebagian besar pakaian modern menggunakan bahan sintetis seperti polyester dan nylon yang berasal dari turunan minyak bumi. Bahan-bahan ini membutuhkan ratusan tahun untuk terurai di lingkungan.

Artinya, setiap pakaian baru yang kita beli sebenarnya meninggalkan jejak ekologis yang panjang.

Di titik ini, tradisi membeli baju Lebaran patut direnungkan kembali. Apakah ia tetap menjadi simbol kesucian dan kebahagiaan, atau justru telah menjadi bagian dari siklus konsumsi yang memberi tekanan tidak hanya pada keuangan keluarga, tetapi juga pada bumi yang kita warisi bersama?

Mengapa Kita Tetap Ingin Baju Baru?

Menariknya, keinginan membeli baju baru saat Lebaran tidak hanya didorong oleh tren atau promosi.

Ada faktor psikologis yang cukup kuat.

Pertama, membeli baju baru memberi sensasi pembaruan diri. Setelah menjalani Ramadhan yang penuh disiplin dan refleksi, banyak orang merasa siap membuka lembaran baru.

Kedua, ada faktor identitas sosial. Pakaian sering menjadi cara manusia mengekspresikan dirinya di tengah masyarakat. Saat bersilaturahmi atau berkumpul dengan keluarga besar, mengenakan pakaian rapi dan indah memberi rasa percaya diri.

Ketiga, baju baru juga bisa menjadi bentuk hadiah untuk diri sendiri setelah sebulan berpuasa.

Semua alasan ini sangat manusiawi. Namun tetap perlu diimbangi dengan kesadaran agar tidak berlebihan.

Ramadhan dan Latihan Mengendalikan Diri

Ramadhan pada dasarnya adalah bulan latihan pengendalian diri. Puasa mengajarkan kesabaran, kesederhanaan, serta empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Karena itu, ada sedikit paradoks jika setelah Ramadhan kita justru terjebak dalam konsumsi berlebihan.

Jika fokus perayaan lebih banyak diarahkan pada belanja dan tren yang cepat berganti, makna transformasi yang dibangun selama sebulan bisa perlahan memudar.

Padahal Idulfitri sejatinya adalah kemenangan atas diri sendiri.

Kembali pada Makna Spiritual

Bagi seorang Muslim, baju Lebaran sesungguhnya bukan soal harga mahal atau tren mode terbaru. Makna yang lebih dalam justru terletak pada simbolisme yang dibawanya.

Pakaian baru bisa menjadi representasi kebersihan hati, kelahiran kembali secara spiritual, dan kemenangan melawan hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa.

Al-Qur’an memberi pengingat yang sangat sederhana tetapi dalam QS. Al-A’raf: 26

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Artinya: Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

“Pakaian takwa itulah yang paling baik.” 
Ayat ini mengingatkan bahwa pakaian lahiriah hanyalah simbol, juga mengajak kita menyeimbangkan antara tradisi lahiriah dan transformasi batin. Baju baru tentu boleh dipakai untuk menyemarakan hari raya. Ia bisa menjadi representasi rasa syukur, kegembiraan, dan  kebersamaan. Namun nilai sesungguhnya tidak terletak pada baru atau tidaknya pakaian yang kit akenakan, melainkan pada seberapa bersih hati kita untuk saling memaafkan. Dan yang lebih penting adalah kebersihan hati dan kualitas ketakwaan seseorang.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah sekadar apakah kita boleh membeli baju baru. Melainkan, apakah kita benar-benar membutuhkannya?

Dan yang lebih penting lagi, apakah hati kita juga menjadi baru setelah Ramadhan?

Jika Ramadhan benar-benar berhasil mengubah diri kita menjadi lebih sabar, lebih sederhana, dan lebih peduli kepada sesama, maka Lebaran bukan sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi simbol kemenangan yang sesungguhnya.

Bukan kemenangan karena membeli sesuatu yang baru,
tetapi karena berhasil menjadi manusia yang baru.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Sekularisasi: Ancaman Bagi Pendidikan Islam Kita Oleh: Arif Rahmatullah, M.Pd.Dosen Universitas Muh....

Suara Muhammadiyah

11 September 2024

Wawasan

Hari Lahir Pancasila, Terus Apa? Oleh: Aan Ardianto, Anggota MPM PP Muhammadiyah  Pancasila y....

Suara Muhammadiyah

29 May 2024

Wawasan

Oleh: Damayanti, SSi. Ketua PDA Sumenep, Kepala SMA Muhammadiyah I Sumenep 2020-2024 Di era yang te....

Suara Muhammadiyah

25 September 2024

Wawasan

Oleh: Bahrus Surur-Iyunk Jika Anda orang Sumenep dan Pamekasan atau pernah jalan-jalan ke kota Sume....

Suara Muhammadiyah

18 February 2024

Wawasan

Kekerasan di Sekolah, Kekacauan di Media: Saatnya Membaca dengan Bijak Oleh: Ahsan Jamet Hamidi &nd....

Suara Muhammadiyah

21 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah