Kebangetan

Publish

8 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
127
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Kebangetan

Oleh : Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso – Ciputat Timur

Minggu pagi kemarin, saat olah raga pagi di kampus UIN Ciputat, saya bertemu kawan lama yang dahulu pernah kuliah di kampus yang sama. Namanya H. Ahmad Sani. Namun, karena logat Betawinya sangat kental, sejak dulu saya biasa memanggilnya Mad Sanih. Penampilannya tidak banyak berubah. Meski sedang berolahraga, ia tetap tampak rapi dengan celana dan kaos lengan panjang yang selalu menjadi ciri khasnya. Kami duduk di sudut yang agak teduh dan memulai obrolan ringan.

“Ane ngajar setiap hari, Met. Murid-murid ane orang-orang pinggiran, pedagang kaki lima, ojek pangkalan, yang pada ngontrak di pinggiran kali tuh, rata-rata orang-orang Jawa deh kayak lu. Ane hidup bareng mas-mas, emak-emak, lengkap sama anak-anaknya sekalian. Ane ajarin mereka soal halal-haram dan cara ngaji doangan,” ia membuka percakapan.

“Lha, salah mereka apa kok ente serius banget ngajarin mereka? Bukannya ente mah seharusnya ngajar di gedung DPR, kantor kementerian, atau Istana Negara gitu?” saya menimpali sambil bercanda.

“Ya Allah, Met, pikiran ente masih nakal aja dari dulu. Sekelas guru kampung kayak ane, mana kepake di sana. Itu mah buat ustaz-ustaz kesohor yang sering nongol di tipi sama medsos, amplopnya pada tebel. Ane mah kagak,” jawabnya sambil tertawa.

“Ente bukannya dapat amplop juga setiap ngajar?” saya kembali menggoda.

“Astaghfirullah, Met. Doain ane istiqamah, ya. Setiap ane dapat amplop, biasanya ane kasih lagi ke anak-anak yatim, manula, dan siapa aja yang butuh. Rezeki ane udah cukup dari jualan. Bini ane kan orang Wonogiri. Dia jualan mi ayam ame bakso. Rezeki ane mah kagak habis-habis. Masuknya dari pintu, jendela, dari genteng juga. Ngebludak deh…ampe ane bingung sendiri ngabisinya. Anak-anak juga udah misah semua, berumah dewek-dewek.”

Kali ini ia menjawab dengan nada penuh gurauan, tetapi sama sekali tidak terdengar kesombongan dalam ucapannya.

Tak lama kemudian kami berpisah dan saling bertukar nomor telepon. Sepanjang perjalanan pulang, saya membayangkan betapa bahagianya kawan itu. Hanya dari berjualan bakso, ia merasa rezekinya sudah sangat banyak, bahkan sampai bingung menghabiskannya. Honor yang diterimanya dari mengajar pun selalu ia salurkan kembali kepada anak-anak yatim, para manula, dan mereka yang membutuhkan. Sungguh luar biasa sikap bersahaja dan rasa syukurnya. 

Dari penampilannya tidak tampak kemewahan ataupun gaya hidup yang berlebihan, tetapi dari tutur katanya terlihat bahwa ia benar-benar merasa hidupnya telah lebih dari cukup dengan rezeki yang dimilikinya.

Usai salat zuhur, seperti biasa saya dan beberapa kawan berbincang di dapur marbot masjid. Percakapan kemudian mengalir ke kasus dugaan korupsi yang melibatkan Wakil Menteri Imigrasi dan sejumlah pejabat utama BGN (Badan Gizi Nasional). Di tengah obrolan itu, kami membahas hal lain: betapa baiknya jalan hidup yang telah mereka lalui. Pendidikan yang tinggi, karier yang cemerlang, jabatan yang terhormat, dan berbagai kemudahan telah mereka nikmati sejak muda.

Jika melihat perjalanan hidup mereka, sulit menampik bahwa mereka termasuk orang-orang yang sangat beruntung. Pendidikan tinggi, karier cemerlang, jabatan strategis, dan berbagai fasilitas negara telah mereka peroleh. Nikmat semacam itu bahkan tidak pernah terbayangkan oleh sebagian besar rakyat Indonesia.

Dari kehidupan yang mereka jalani, sulit membayangkan ada kekurangan yang belum terpenuhi. Pendidikan, jabatan, penghasilan, fasilitas, dan berbagai bentuk kenyamanan hidup telah mereka peroleh. Bila dugaan korupsi itu benar, maka persoalannya bukan lagi perkara kemiskinan, melainkan hasrat yang tidak mengenal batas. Apa yang sebenarnya masih dicari hingga kehormatan, karier, dan kepercayaan publik dipertaruhkan demi tambahan keuntungan yang sesungguhnya tidak lagi mendesak?

Berbagai peristiwa silih berganti hadir dalam kehidupan saya. Tidak jarang saya lalai menangkap pelajaran yang tersimpan di baliknya, hingga sulit membedakan mana yang benar dan mana yang keliru.

Saya berusaha mengingat pesan mulia Ali bin Abi Thalib yang pernah mengingatkan bahwa, “Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah dua perkara: panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan membuat lupa akhirat, sedangkan mengikuti hawa nafsu menghalangi dari kebenaran.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Az-Zuhd).

Pagi itu saya seperti melihat dua jalan hidup yang berbeda. Di satu sisi ada Mad Sanih yang merasa hidupnya sudah berlebih hanya dengan berjualan bakso dan mengajar mengaji. Di sisi lain ada orang-orang yang telah memperoleh pendidikan, jabatan, dan fasilitas yang jauh lebih besar, tetapi masih terseret dalam dugaan penyalahgunaan amanah. Mungkin benar pesan Ali bin Abi Thalib bahwa yang paling berbahaya bukanlah kekurangan harta, melainkan panjang angan-angan dan hawa nafsu yang tidak pernah merasa cukup.

Saya mulai mengerti mengapa Mad Sanih bisa tertawa begitu lepas pagi itu. Rupanya yang membuat seseorang kaya bukanlah banyaknya harta dan jabatan, melainkan kemampuan untuk merasa cukup. Ketika rasa itu hilang, sebanyak apa pun nikmat yang diberikan akan tetap terasa kurang. Barangkali karena itulah Mad Sanih merasa rezekinya masuk dari pintu, jendela, bahkan dari genteng. Sementara sebagian orang lain, yang sudah memiliki segalanya, masih merasa kekurangan. Kebangetan.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Doa Terakhir Nenek Menjelang Ajal Cerpen Soegiyono MS Umi Salamah seorang nenek tua renta hidup se....

Suara Muhammadiyah

29 November 2024

Humaniora

Cerpen: Mustofa W Hasyim Dengan mudik dia merasa menjadi manusia. Dia baru menyadari ketika mudik d....

Suara Muhammadiyah

26 January 2024

Humaniora

Di Balik Musibah, Cerpen Papi Sadewa Musim hujan memang hampir berakhir, tapi pagi itu Pak Hasan ti....

Suara Muhammadiyah

6 September 2024

Humaniora

Ramadan: Pelajaran untuk Tidak Tergesa  Oleh: Hening Parlan, Pegiat Lingkungan, Pengurus Muham....

Suara Muhammadiyah

25 February 2026

Humaniora

Cerpen Erwito Wibowo Sore menjelang petang. Cakrawala tidak kelihatan, nampak tertimbun deretan per....

Suara Muhammadiyah

22 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah