Kecerdasan Tak Sekadar Angka
Oleh Asman, S.Pd., M.Pd, Dosen Pendidikan Agama Islam UM Kendari
Ketika deretan angka menjadi legitimasi kecerdasan seorang anak, pada dasarnya kita sedang menuntun generasi ke lembah kehidupan yang tak bertepi. Akan tertanam di dalam dirinya, bahwa kehidupan ini tidak terlepas dari angka dan sanjungan.
Kita menganggap seorang anak cerdas, ketika ia mampu mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Akhirnya, sekolah dibuat seperti institusi perlombaan. Siapa yang mendapatkan nilai bagus, ia akan mendapatkan reward, begitupun sebaliknya.
Begitulah realitas pendidikan kita saat ini. Kita cenderung memberikan penghargaan kepada mereka yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan orang lain.
Saya melihat, penghargaan kepada mereka yang memiliki kedudukan, bukan hanya di dunia pendidikan saja. Tetapi sudah merambah ke semua sektor kehidupan. Mulai dari hulu sampai ke hilirnya, semua akan tunduk dan patuh kepada mereka yang memiliki kedudukan.
Di zaman Yunani Kuno, model ini disebut sebagai "sycophants", di China disebut dengan istilah "xiehouyu" yang merujuk pada orang-orang yang selalu mengakui atau memuja orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Institusi pendidikan yang menjadi jalan setapak perubahan, justru di sibukkan dengan angka-angka sebagai ukuran keberhasilan pendidikan. Model ini menurut Fritjof Capra justru akan menghasilkan manusia “Cartesian” yaitu manusia yang selalu berpikir “mengambil/menuntut” dan tidak mau “merawat/memberi”.
Model institusi pendidikan seperti ini, justru menjadi penyebab lahirnya generasi yang tunduk dan menjadi orang yang tidak jujur, tidak terpercaya karena sikapnya yang selalu mengakui atau memuja orang lain tanpa mempertimbangkan kebenaran atau keadilan.
Angka Menjadi Ukuran
Pada dasarnya, mengukur hasil pendidikan dengan angka, tidaklah selamanya buruk. Namun, batasan dalam pengukuran hasil pendidikan tidak bisa digeneralisasi. Siapa yang mendapatkan nilai tinggi, maka itu juga berdampak kepada perilakunya.
Banyak orang yang berpendidikan, bahkan sampai pada puncak gelar akademik “maha terpelajar”, namun tidak sesuai dengan tingkah lakunya.
Apa yang menjadi penyebab sehingga pendidikan kita cenderung menghasilkan manusia tuna adab?
Qori Ahmad menjelaskan penyebab pendidikan kita mengalami masalah serius, karena sistem pendidikan kita terlalu fokus pada pencapaian akademik semata. Prioritas diletakkan pada prestasi individu dari pada pada pengembangan moral dan sosial.
Azyumardi Azra turut memperjelas bahwa pendidikan itu menanamkan akhlak (karakter) yang baik kepada jiwa anak didik yang sedang tumbuh dan menyiramnya dengan petunjuk dan nasehat sehingga membentuk watak terhadap jiwanya agar bermanfaat untuk kehidupan.
Mendidik jiwa anak itu, seperti menanam padi. Kita perlu merawat dan menjaganya agar tidak dimakan oleh hama. Agar hal itu terjadi, kita perlu memastikan tidak terjadi kekeringan dan kekurangan makanan (pupuk) yang baik untuk pertumbuhan. Begitupun dengan mendidik jiwa anak.
Hasil survey yang dilakukan PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan pendidikan kita masih sangat tergantung dengan angka-angka ini. saya berpandangan, pendidikan kita saat ini, bukan kekurangan angka-angka untuk mendapatkan pengakuan dunia. Namun yang terpenting adalah karakter baik di dalam jiwa anak didik yang sedang bertumbuh.
Kita akan bertemu dengan bonus demografi pada tahun 2045, namun bagaimana kita akan menghasilkan anak muda yang kompeten, jika hanya mengandalkan kemampuan akademik dengan ukuran angka, tidak mampu berpikir kritis dan perilakunya yang buruk?
Berbenah Sejak Dini
Saya menyadari, mendidik bukanlah hal yang mudah ditengah era post truth. Al Ghazali untuk menjaga kualitas didikannya, ia tidak berharap hanya pada aspek jasmani yang diajarkan. Setiap selesai melaksanakan ibadah, ia selalu mendoakan anak didiknya agar dapat diberikan pencerahan dari sang Ilahi.
Kita sedang menghadapi perkembangan zaman dengan tantangan pendidikan yang semakin kompleks. Maka dibutuhkan aspek spiritual untuk dapat memudahkan salik dalam dunia pendidikan. olehnya itu ada beberapa hal yang perlu kita kembangkan pada anak didik kita.
Pertama, mengembangkan keberanian anak didik dalam mempertahankan prinsip atau integritas diri. Mental yang kuat untuk menghadapi berbagai tekanan dalam menjalani kehidupan.
Kedua, meningkatkan rasa tanggungjawab terhadap diri dan orang lain. Hasil dari pendidikan harus mampu membawa perubahan di setiap lapisan kehidupan.
Ketiga, pendidikan mampu mendorong anak didik mampu berpikir kritis dan melatih kepemimpinan individu. Dimasa depan, aspek ini sangat dibutuhkan. Karenanya pendidikan salah satu pilar penting dalam membangun bangsa dan negara.
Komponen diatas sangat penting dilakukan, olehnya itu komitmen semua stakeholder sangat diperlukan. Bukan hanya komitmen karena ada maunya, tetapi benar-benar terpatri dalam hatinya. Olehnya itu, Paulo Freire menyebut komitmen yang muncul dari hati sebagai “kesadaran kritis”, kita semua membutuhkan kesadaran tersebut untuk membangun kualitas pendidikan kita.
Membangun kesadaran tidak bisa dilakukan dengan angka, karena kesadaran akan terbangun ketika moralitas disandingkan dengan realitas sosial. Nah, pendidikan kita harus diarahkan menuju penyadaran tersebut.
Angka akan sirna, ketika seseorang tidak lagi dapat berpikir rasional. Namun membangun kesadaran Adalah kecerdasan yang akan senantiasa mengikuti seseorang, selama manusianya masih hidup dan terpaut dengan hatinya.

