Kematian Kreativitas Bernama "CPNS"

Publish

2 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
37
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Kematian Kreativitas Bernama "CPNS"

Oleh: Agus Subeno, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Duren Sawit II, Jakarta Timur

Ketika sukses hanya diukur dari seragam korpri, energi produktif generasi muda habis untuk menunggu. Padahal etos Muhammadiyah adalah kerja, ikhtiar, dan menghadirkan maslahat bagi sesama.

Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027 memukul satu mitos yang lama mengendap di benak anak muda Indonesia. "Tidak semua harus jadi ASN" terdengar sederhana, tapi sesungguhnya itu koreksi peradaban terhadap cara pandang generasi yang terjebak mengejar kepastian semu. 

Pesan itu menantang kita untuk jujur pada realitas: Indonesia tidak kekurangan anak muda, Indonesia kekurangan anak muda yang berani jadi pencipta kerja. Jika 64 juta pemuda usia 16-30 tahun terus antre di satu pintu bernama ASN, maka bonus demografi yang sedang kita nikmati tidak akan jadi berkah. Ia akan berubah menjadi bom waktu yang meledak dalam bentuk pengangguran, ketimpangan, dan kekecewaan generasi.

Angkanya telanjang dan kejam. Jumlah aparatur sipil negara saat ini sekitar 5,36 juta orang. ASN dari generasi muda hanya sekitar 2,88 juta. Sementara angkatan kerja muda mencapai 64 juta jiwa. Artinya, peluang untuk masuk birokrasi kurang dari 5 persen, meski semua orang berlomba dan bekerja keras. Sisanya, lebih dari 95 persen, mau tidak mau harus hidup, bekerja, dan mengabdi di luar tembok pemerintahan. 

Realitas itu seharusnya menyadarkan kita bahwa masa depan ekonomi bangsa tidak mungkin hanya bertumpu pada perluasan jumlah pegawai negara. Tapi mentalitas "PNS adalah puncak sukses" sudah terlanjur mengakar kuat selama puluhan tahun. Ia menjelma menjadi ukuran martabat sosial. Orang tua bangga jika anaknya lolos CPNS. Tetangga memandang hormat pada seragam korpri. Akibatnya, lahirlah tiga penyakit yang diam-diam membunuh energi produktif generasi muda. Pertama, budaya menunggu. Waktu emas usia 20-30 tahun habis untuk try out, les, dan mendaftar seleksi, bukan untuk berkarya dan mencoba usaha.

Kedua, stigma pada kerja produktif lain. Menjadi pedagang, petani modern, montir, desainer, atau kreator digital sering dianggap pilihan "gagal", pilihan orang yang tidak lolos. Ketiga, kreativitas mati. Keberanian terbesar anak muda diuji bukan di lapangan usaha, tapi di ruang ujian CAT. Padahal sejarah peradaban manusia dengan jelas menunjukkan bahwa bangsa maju tidak pernah lahir dari banyaknya pegawai pemerintah. Negara-negara maju tumbuh karena banyaknya inovator, pengusaha, ilmuwan, profesional, dan pelaku usaha yang berani membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Banyak yang beralasan Indonesia kurang peluang ekonomi. Data menolak alasan itu. Badan Pusat Statistik mencatat UMKM menyumbang lebih dari 60 persen produk domestik bruto dan menyerap lebih dari 120 juta tenaga kerja. Tulang punggung ekonomi nasional sesungguhnya ada di tangan rakyat kecil, di warung, di bengkel, di ladang, dan di aplikasi digital. Masalahnya, rasio wirausaha Indonesia baru sekitar 3,4 persen. Angka itu jauh tertinggal dari Malaysia, Thailand, bahkan Singapura. 

Jadi persoalannya bukan ketiadaan peluang, tapi salah orientasi. Sistem pendidikan kita terlalu lama mencetak lulusan yang jago mencari kerja, bukan menciptakan kerja. Kurikulum menyebut wirausaha, tapi praktiknya minim. Minim pendampingan usaha nyata, minim akses permodalan yang bersahabat, minim jejaring pasar yang membuka pintu. Negara sebenarnya sudah membuka jalan. Ada Kredit Usaha Rakyat, ada inkubator bisnis, ada digitalisasi UMKM, ada Kartu Prakerja. Tapi jalan selebar apa pun tidak akan bermakna jika langkah kaki generasi mudanya tidak berani melangkah. Jalan tanpa keberanian tetap akan jadi jalan buntu.

Di titik inilah Islam Berkemajuan harus bicara dengan jernih. Muhammadiyah menolak dikotomi kaku antara ibadah dan dunia. Bekerja bukan urusan profan yang nilainya rendah dibanding salat dan zikir. Bekerja adalah ibadah ketika ia diniatkan untuk memakmurkan bumi dan menghadirkan kemaslahatan. Rasulullah SAW sendiri adalah teladan pekerja keras sejak muda. Beliau berdagang ke Syam, dipercaya karena kejujurannya, dikenal sebagai Al-Amin. 

Sahabat seperti Abdurrahman bin Auf sukses sebagai pengusaha, tapi kekayaannya mengalir deras untuk kepentingan umat. Etos mereka sederhana: cari rezeki yang halal, tapi jangan pernah lupa manfaat untuk sesama. Al-Qur'an memberi perintah yang tidak bisa ditawar: "Fa idza qudiyatish shalatu fantasiru fil ardhi wabtaghu min fadhlillah". Apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah. QS Al-Jumu'ah ayat 10. Ayat itu menghancurkan sikap pasif atas nama spiritualitas.

Ia memerintahkan kita untuk bergerak, berikhtiar, berproduksi. Artinya, spiritualitas Muhammadiyah adalah spiritualitas yang produktif. Taat ibadah harus berujung pada amal sosial. Maka menjadi pelaku UMKM yang jujur, mengembangkan pertanian modern, membangun startup yang menyelesaikan masalah rakyat, atau menjadi profesional mandiri, semuanya adalah bentuk amar ma'ruf di ranah ekonomi. Itu adalah jihad memakmurkan negeri sesuai bidang masing-masing.

Pesan Presiden Prabowo pada akhirnya bukan tentang memaksa semua anak muda meninggalkan cita-cita jadi ASN. Bangsa ini tetap membutuhkan birokrat yang jujur, profesional, dan melayani dengan hati. Tapi Indonesia tidak akan pernah melompat maju jika generasi terbaiknya hanya menghabiskan usia untuk antre di satu pintu yang sempit. Bonus demografi adalah amanah sejarah, bukan hadiah otomatis. Ia hanya akan menjadi energi emas jika anak muda berani keluar dari ilusi aman. 

Berani gagal, berani mulai dari kecil, berani menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Dua puluh tahun dari sekarang, kamu mau dikenang sebagai apa? Sebagai PNS angkatan ke-10 juta yang pensiun dengan aman, atau sebagai orang yang membuka 10 lapangan kerja untuk tetanggamu sehingga mereka tidak perlu lagi antre? Karena kemuliaan manusia tidak pernah diukur dari seragam yang ia kenakan. Kemuliaan diukur dari manfaat yang ia tinggalkan. Dan sejarah, sekali lagi, tidak pernah ditulis oleh mereka yang paling hebat melamar. Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang paling berani menciptakan kesempatan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Ahmad Fatoni, Lc., MAg, Pengajar Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang   ....

Suara Muhammadiyah

19 May 2025

Wawasan

Wasiat dan Warisan: Memahami Hak Perempuan dalam Perspektif Al-Qur'an Oleh: Donny Syofyan/Dosen Fak....

Suara Muhammadiyah

16 April 2025

Wawasan

365 Hari Dilalui, 365 Hari Akan Kita Hadapi Oleh : Machnun Uzni, S.I.Kom, Wakil Sekertaris Pimpinan....

Suara Muhammadiyah

31 December 2023

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Tulisan ini hendak menyoroti ay....

Suara Muhammadiyah

16 June 2025

Wawasan

Aktual dan Ideal - Menjaga Langit Cita, Menapak Bumi Realita Oleh : Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Unive....

Suara Muhammadiyah

28 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah