Ketika Al-Quran Dianggap Punya "Dua Tangan"

Suara Muhammadiyah

26 June 2026

94
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ketika Al-Quran Dianggap Punya "Dua Tangan": Menjawab Salah Kaprah Kaum Kritikus

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Dalam lanskap diskusi teologis antaragama, salah satu topik yang paling sering memicu perdebatan sengit adalah hubungan antara Al-Quran dan kitab-kitab suci yang datang sebelumya, seperti Taurat dan Injil. Al-Quran secara eksplisit sering menyatakan bahwa dirinya hadir untuk “mushaddiqan”—membenarkan atau mengonfirmasi—wahyu-wahyu terdahulu. Namun, di balik teks yang tampak sederhana ini, tersimpan ruang kesalahpahaman yang luas, yang sering kali dieksploitasi oleh para kritikus untuk menyudutkan umat Islam.

Mengapa klaim membenarkan ini justru sering dijadikan senjata oleh para kritikus? Bagaimana sebenarnya cara kita mendudukkan ayat-ayat tersebut secara proporsional tanpa terjebak dalam teks literal yang keliru?

Titik awal dari polemik ini sering kali ditarik dari sebuah ayat di dalam Surah Al-Ahqaf (Surah ke-46), tepatnya pada ayat ke-30. Ayat ini mengisahkan tentang respons sekelompok jin yang terpukau setelah mendengarkan lantunan Al-Quran langsung dari lisan Nabi Muhammad ﷺ. Ketika kembali kepada kaumnya, mereka berseru dengan penuh ketakjuban:

"Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan sebuah Kitab yang diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus." (QS. Al-Ahqaf: 30)

Bagi mata seorang kritikus atau misionaris yang awam terhadap karakteristik bahasa Arab, ayat ini dianggap sebagai sebuah jebakan batman bagi teologi Islam. Mengapa demikian? Karena jika Al-Quran membenarkan kitab yang ada sebelum dirinya, bukankah itu berarti umat Islam harus mengamini dan menerima seluruh isi Alkitab (Taurat dan Injil) yang beredar di dunia saat ini?

Di sinilah letak distorsi pemikiran tersebut dimulai. Mereka mencoba mengunci umat Islam ke dalam apa yang mereka sebut sebagai dilema Muslim. Para pengkritik Islam kerap menyusun sebuah silogisme atau jebakan logika dua arah yang sekilas terlihat kokoh, namun sebenarnya rapuh di pondasinya. Argumen mereka kira-kira tersusun seperti ini:

Sisi Pertama Dilema: Jika umat Islam mengakui (berdasarkan ketetapan Al-Quran) bahwa kitab-kitab suci terdahulu itu valid, terjaga, dan memiliki otoritas penuh, maka umat Islam wajib menerima isinya sebagai kebenaran. Masalahnya, ketika divalidasi, isi Alkitab saat ini dalam beberapa doktrin fundamental (seperti konsep ketuhanan atau penyaliban) justru bertentangan dengan Al-Quran. Jika Alkitab benar, maka otomatis Al-Quran menjadi salah karena menyelisihinya.


Sisi Kedua Dilema: Jika umat Islam mencoba menghindar dengan berargumen, "Oh, kitab-kitab terdahulu itu sudah mengalami distorsi, perubahan, dan korupsi teks (tahrif)," maka para kritikus akan langsung menyergap dengan berkata, "Kalau begitu, Al-Quran Anda salah! Mengapa Al-Quran mengatakan bahwa ia datang untuk membenarkan kitab-kitab tersebut jika kitabnya sendiri sudah rusak?"
Sebuah skenario skakmat yang terlihat cerdas, bukan? Namun ada ada dua kecacatan fatal: kesalahan dalam memahami idiom bahasa Arab dan kesalahan dalam memahami objek yang dibenarkan.

Akar dari kekacauan berpikir para kritikus bersumber dari cara mereka menerjemahkan teks Al-Quran secara kata-per-kata (literal-atomistik) tanpa memahami karakter sastra Arab. Secara tekstual, frasa Arab yang diterjemahkan sebagai "kitab-kitab yang sebelumnya" atau "apa yang ada sebelum teks Al-Quran" adalah "baina yadaihi" (بَيْنَ يَدَيْهِ). Jika kita membedah frasa ini secara mentah menggunakan kamus dasar, artinya secara harfiah adalah: "di antara kedua tangannya."

Mari kita terapkan logika literal ini ke dalam ayat tersebut. Jika baina yadaihi diartikan "di antara kedua tangannya", dan objeknya adalah Al-Quran, maka maknanya menjadi: Al-Quran datang membenarkan apa yang ada di antara kedua tangan Al-Quran. Tentu saja ini absurd. Al-Quran adalah sebuah kitab teks, ia tidak memiliki organ fisik, dan ia jelas tidak punya dua tangan untuk memegang sesuatu.

Bagaimana jika kata ganti "nya" merujuk kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai personal? Para kritikus akan langsung melompat pada kesimpulan: "Nah! Berarti Nabi Muhammad sedang memegang kitab Taurat dan Injil fisik di antara kedua tangannya di Arabia abad ke-7, lalu beliau berkata: Saya membenarkan kitab yang sedang saya pegang ini!" Karena teks Alkitab abad ke-7 bisa dilacak secara historis hingga hari ini, mereka mengklaim umat Islam terjebak untuk membenarkan Alkitab versi modern secara utuh.

Di sinilah pentingnya ilmu linguistik. Dalam sastra Arab klasik, frasa Baina Yadaihi adalah sebuah ekspresi idiomatis (majaz) yang sangat populer. Idiom ini tidak sedang berbicara tentang anatomi tubuh atau geografi posisi fisik. Baina Yadaihi adalah metafora untuk menyatakan sesuatu yang bersifat kronologis, yang berarti: "sesuatu yang hadir mendahului" atau "yang ada di masa lalu sebelum kehadiran kita."

Untuk membuktikannya, kita perlu melihat ayat lain dalam surah yang sama. Beberapa ayat sebelum kisah kaum jin, Al-Quran menyinggung tentang kisah Nabi Hud 'alaihis salam yang diutus kepada kaum 'Ad:"...padahal telah datang pemberi-pemberi peringatan sebelum dirinya (Baina Yadaihi) dan akan datang setelah dirinya..."

Jika kita konsisten menggunakan cara pandang literal para kritikus, maka ayat ini berarti Nabi Hud sedang menggendong atau memegang fisik seluruh nabi terdahulu di antara kedua tangan beliau! Sebuah visualisasi yang mustahil dan menggelikan. Ayat tersebut jelas bermakna bahwa telah ada para nabi yang diutus secara kronologis di masa lalu sebelum zaman Nabi Hud.

Maka, ketika Al-Quran berbicara bahwa ia membenarkan apa yang ada di baina yadaihi, maknanya yang lurus adalah: Al-Quran mengonfirmasi eksistensi risalah-risalah wahyu yang pernah diturunkan Allah kepada para nabi di masa lampau.

Setelah meruntuhkan salah kaprah linguistik tersebut, pertanyaan krusialnya bergeser: Sejauh mana batas konfirmasi atau pembenaran Al-Quran terhadap kitab terdahulu?

Kita perlu menggarisbawahi sebuah distingsi atau perbedaan batas yang sangat fundamental. Al-Quran tidak pernah datang untuk memberikan stempel legalitas otomatis kepada seluruh lembaran buku yang dipegang oleh manusia hari ini sebagai Alkitab. Ada garis pemisah yang tegas antara "wahyu yang murni diturunkan kepada para nabi terdahulu" dengan "Sisa-sisa wahyu yang telah bercampur dengan tradisi tulis, sejarah, dan redaksi manusia" di dalam kitab suci saat ini.

Ketika Al-Quran menggunakan kata mushaddiqan, yang divalidasi adalah inti esensi dari wahyu orisinalnya—yaitu ajaran tauhid murni, kabar gembira tentang nubuat nabi yang akan datang, serta nilai-nilai moral universal yang dititipkan kepada Nabi Musa, Nabi Isa, dan nabi-nabi lainnya.

Al-Quran memosisikan dirinya bukan sekadar sebagai hakim pasif, melainkan sebagai Muhaimin (Pengawas/Batu Ujian). Sebagaimana yang tertuang dalam Surah Al-Ma'idah ayat 48: "Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya (Muhaiminan 'alaihi)..."

Kata Muhaimin di sini memegang peran kunci. Al-Quran bertindak sebagai filter atau alat penyaring. Jika ada bagian dari kitab terdahulu yang selaras dengan nilai-nilai Al-Quran (seperti perintah mengesakan Tuhan, berbuat baik kepada orang tua, hukum moral), maka Al-Quran membenarkannya. Jika ada bagian di dalam kitab terdahulu yang telah mengalami pergeseran—misalnya konsep ketuhanan yang bergeser menjadi plural, atau tuduhan moral yang tidak pantas kepada para nabi—maka Al-Quran hadir untuk mengoreksi dan meluruskannya.

Oleh sebab itu, dilema Muslim yang digemakan para misionaris sebenarnya hanyalah sebuah ilusi optik teologis. Umat Islam tidak terjebak dalam kontradiksi internal. Konsep Islam sangat konsisten: Al-Quran membenarkan kebenaran asal dari wahyu tersebut, sekaligus mengoreksi tangan-tangan manusia yang telah mengubahnya seiring berjalannya waktu.

Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab yang kaya akan estetika, metafora, dan ungkapan idiomatik yang tinggi. Mendekati Al-Quran hanya dengan bermodalkan terjemahan kata-per-kata tanpa melibatkan ilmu asbabun nuzul, konteks kronologis, dan pemahaman linguistik klasik, hanya akan melahirkan kesimpulan keliru yang dangkal.

Bagi para pencari kebenaran, ayat-ayat tentang pembenaran kitab terdahulu ini sebenarnya bukanlah bukti kelemahan Al-Quran, melainkan bukti keagungannya. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak hadir sebagai agama baru yang terisolasi, melainkan sebagai kelanjutan dari satu garis benang merah sejarah spiritual umat manusia yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa. Al-Quran hadir bukan untuk menghancurkan warisan para nabi terdahulu, melainkan untuk menjaga, menyempurnakan, dan mengembalikannya ke bentuknya yang paling murni.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Muktamar XVI dan Ikhtiar Berjamaah Menuntaskan Padepokan Tapak Suci Di sudut Kota Yogyakarta, pada ....

Suara Muhammadiyah

18 June 2026

Wawasan

Universitas Menjadi Korporasi: Antara Otonomi, Pasar, dan Integritas Ilmu Oleh: Sobirin Malian, Dos....

Suara Muhammadiyah

3 November 2025

Wawasan

Muhammadiyah dan Hasil Survei  Oleh: Rumini Zulfikar Beberapa hari ini kita sebagai warga, pi....

Suara Muhammadiyah

9 September 2023

Wawasan

Menyelaraskan Pemajuan AUM dengan Masjid, Cabang, dan Ranting Muhammadiyah Oleh: Ahsan Jamet Hamidi....

Suara Muhammadiyah

29 July 2025

Wawasan

Kekuasaan dalam Perspektif Demokrasi Oleh: Dr Masud HMN, Dosen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. H....

Suara Muhammadiyah

15 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah