KHGT: Lompatan Muhammadiyah dalam Wilayah Ijtihadiyah Aqliyah

Publish

21 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
81
Foto Istimewa

Foto Istimewa

KHGT: Lompatan Muhammadiyah dalam Wilayah Ijtihadiyah Aqliyah

Penulis: Akhmad Faozan, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mayong

Setiap menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, umat Islam di Indonesia seringkali dihadapkan pada satu kenyataan yang berulang, yakni perbedaan dalam menentukan awal bulan Hijriyah. Di satu sisi, perbedaan itu adalah warisan metodologis yang telah lama hidup dalam khazanah fiqh. Namun di sisi lain, ia seringkali menimbulkan kegelisahan sosial—masyarakat bingung, ruang publik gaduh, bahkan energi umat tersedot pada perdebatan yang tidak produktif. Di tengah realitas itulah, gagasan **Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)** hadir sebagai sebuah ikhtiar intelektual—sebuah lompatan pemikiran Muhammadiyah untuk membaca langit dengan ilmu, sekaligus menata waktu ibadah secara lebih terpadu.

KHGT bukan sekadar soal kalender. Ia lahir dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi astronomi yang memungkinkan manusia menghitung pergerakan bulan secara presisi. Dalam konteks ini, penentuan awal bulan bukanlah wilayah aqidah, melainkan wilayah ijtihad aqliyah—ranah akal dan ilmu. Perbedaan metode, apakah melalui rukyat, hisab, atau KHGT, adalah pilihan instrumen. Sedangkan ibadah puasa dan hari raya tetap berada dalam wilayah ta’abbudi yang bermuara pada satu tujuan: lillahi ta’ala. Di titik ini, KHGT hendak menggeser orientasi umat dari perdebatan metode menuju kesatuan orientasi ibadah.

Jika menoleh ke belakang, lompatan pemikiran seperti ini bukanlah hal baru dalam sejarah Muhammadiyah. Jejak visioner itu telah dicontohkan oleh pendirinya, KH. Ahmad Dahlan. Pada masanya, beliau memperkenalkan sistem pendidikan yang mengadopsi model barat, dengan menggunakan papan tulis, meja kursi, serta metode klasikal—sesuatu yang kala itu dianggap “asing” dan dituding meniru Kolonial Belanda. Bahkan cara berpakaian rapi dan berdasi pun sempat memunculkan stigma, hingga beliau dituduh sebagai “kyai kafir”. Namun waktu membuktikan, inovasi itu justru menjadi fondasi kemajuan pendidikan Islam modern.

Hal serupa terjadi ketika beliau meluruskan arah kiblat Masjid Gedhe Kauman. Reaksi keras, bahkan kemarahan, datang dari kalangan internal umat. Namun hari ini, dengan bantuan teknologi digital dan aplikasi penunjuk arah kiblat, umat Islam dengan mudah menghadap ke arah yang benar tanpa perdebatan. Sejarah ini mengajarkan satu pola yang berulang bahwa setiap ide dan gagasan pembaruan seringkali diawali dengan resistensi, tetapi pada akhirnya diterima karena membawa kemaslahatan. KHGT berdiri dalam garis sejarah yang sama—melanjutkan tradisi tajdid yang diwariskan oleh KH.Ahmad Dahlan.

Maka, penting untuk menempatkan persoalan ini secara proporsional dan berimbang. Penentuan awal bulan adalah wilayah ijtihad, bukan wilayah yang semestinya melahirkan perseteruan. Dalam sejarah fiqh, perbedaan adalah  keniscayaan yang bahkan diakui sebagai rahmat. Seperti para Imam Madzhab yang memiliki murid dengan pendirian yang berbeda dengan guru atau imamnya. Nah disinilah yang  dibutuhkan adalah kedewasaan dan sikap kebijaksanaan dalam beragama: kemampuan untuk membedakan antara prinsip dan metode, antara tujuan dan sarana. KHGT tidak bermaksud menghapus perbedaan secara paksa, atau memaksakan gagasan tetapi menawarkan pencerahan _(at Tanwir)_ yaitu sebuah jalan ilmiah menuju pada satu kesatuan waktu ibadah secara global.

Lebih jauh, KHGT juga membawa implikasi sebuah peradaban. Kesatuan kalender Hijriyah akan memberikan kepastian dalam berbagai aspek kehidupan umat: pendidikan, ekonomi, sosial, hingga diplomasi dunia Islam. Ia bukan sekadar memudahkan penentuan awal Ramadhan atau hari raya, tetapi juga membuka peluang  terintegrasinya umat Islam dalam skala yang luas (global). Di tengah dunia yang semakin terkoneksi, umat Islam memerlukan sistem waktu yang juga terintegrasi—dan KHGT menawarkan arah ke sana.

Namun, gagasan besar ini, KHGT membutuhkan penerimaan yang lapang dada. Ia memerlukan ruang dialog, bukan perdebatan yang mengeras. Ia juga membutuhkan kebesaran jiwa untuk melihat perbedaan sebagai kekayaan hasanah keilmuan, bukan ancaman. Sebab pada akhirnya, yang kita tuju bukanlah keseragaman metode, melainkan kesatuan niat dan tujuan dalam ibadah.

Belajar dari sejarah KH. Ahmad Dahlan, kita diingatkan bahwa keberanian berpikir maju adalah bagian dari iman yang terus hidup. Ijtihad bukanlah bentuk penyimpangan, melainkan ikhtiar untuk menghadirkan kemaslahatan yang jauh lebih luas. KHGT adalah salah satu wujud dari keberanian itu—usaha membaca tanda-tanda langit dengan ilmu, agar umat dapat menapaki bumi dengan lebih teratur dan bersatu.

Pada akhirnya, kita semua menghadap langit yang sama, menyebut Tuhan Rab yang sama, dan meniatkan ibadah yang sama. Maka perbedaan metode semestinya tidak memisahkan hati. Justru ia menjadi ruang untuk saling memahami, saling menghormati, dan saling menguatkan. KHGT mengajarkan kita satu hal penting: bahwa menyatukan langit bukan sekadar soal kalender, tetapi tentang meneguhkan hati dalam satu tujuan. Walaupun engkau disana aku disini, berbeda tempat, alat ibadah namun tetap satu titik tujuan keridhoan Ilahi. 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Manusia Komunis Oleh: Saidun Derani, Dosen Pascasarjana UM-Sby, UM-Tangerang, dan UIN Syahid Jakart....

Suara Muhammadiyah

20 September 2024

Wawasan

Oleh: Agusliadi Massere Cara menjalani kehidupan dan untuk memenuhi kebutuhan serta mencapai harapa....

Suara Muhammadiyah

22 January 2024

Wawasan

Oleh : Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Hari ini, saya akan mengulas s....

Suara Muhammadiyah

4 December 2024

Wawasan

Oleh: Suko Wahyudi Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama. Iman kepada Allah adalah la....

Suara Muhammadiyah

17 September 2024

Wawasan

Guru Hebat, Menginspirasi dan Bermutu  Oleh: Hendra Apriyadi, M.Pd, Dosen Pendidikan Bahasa da....

Suara Muhammadiyah

6 November 2024