Kisah Mengisi Pengajian BKMT di Balik Pegunungan

Publish

4 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
135
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Kisah Mengisi Pengajian BKMT di Balik Pegunungan

Furqan Mawardi, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting, Masjid dan Pesantren PWM Selawesi Barat, Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju

Pagi itu saya bersama Immawan Surya, kader IMM Mamuju memulai perjalanan selepas sholat Subuh, tepat pukul 05.30 WITA, Rabu, 3 Juni 2026. Udara Mamuju masih dingin dan suasana masih gelap ketika kendaraan perlahan meninggalkan kota. Tujuan saya kali ini adalah Desa Salutiwo, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Hari itu saya mendapat amanah untuk mengisi pengajian Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) se-Kecamatan Bonehau. Sebenarnya undangan untuk hadir di sana sudah beberapa kali datang kepada saya. Namun karena sering berbenturan dengan agenda lain, beberapa kali pula saya harus meminta izin belum bisa memenuhi undangan tersebut.

Dan Alhamdulillah… kali ini Allah mengizinkan saya hadir.

Perjalanan menuju Bonehau bukan perjalanan biasa. Ini adalah daerah pegunungan dengan udara dingin dan medan yang cukup berat. Dari Mamuju membutuhkan waktu sekitar empat jam perjalanan.

Dua jam pertama masih terasa nyaman. Jalan aspalnya masih cukup bagus. Namun setelah memasuki kawasan pegunungan, perjalanan mulai berubah menjadi ujian kesabaran dan kehati-hatian.

Belokan tajam mulai bermunculan. Jurang di pinggir jalan membuat mata harus selalu fokus ke depan. Setelah aspal berakhir, mulailah kendaraan memasuki jalan tanah berlumpur, penuh bebatuan, lubang, dan bekas longsoran.

Berkali-kali saya harus memainkan perpindahan gigi kendaraan. Kadang mobil harus pelan sekali karena lubang yang cukup dalam. Kadang harus ekstra tenaga ketika tanjakan datang silih berganti.

Jujur saja… ini benar-benar perjalanan yang menguji nyali.

Di sebelah jurang, di tengah jalan berlumpur, sesekali saya hanya bisa berdoa dalam hati:

“Ya Allah… mudahkan perjalanan ini.”

Namun anehnya, justru perjalanan seperti inilah yang selalu membuat saya rindu untuk datang kembali.

Sebab Bonehau bukan sekadar daerah pegunungan biasa.

Di sana, umat Islam hanya sekitar 18 persen dari total jumlah penduduk. Selebihnya mayoritas non-Muslim. Tetapi justru dalam posisi sebagai minoritas itulah saya melihat semangat Islam yang luar biasa.

Di hampir setiap desa terdapat majelis taklim. Bahkan ada yang sampai tingkat dusun. Mereka ada yang rutin mengadakan pengajian pekanan di desa masing-masing. Sebulan sekali mereka berkumpul dalam pengajian tingkat kecamatan.

Mereka sadar, jumlah boleh sedikit, tetapi semangat menjaga agama tidak boleh kecil. Dan itu benar-benar saya rasakan hari itu.

Saya salut melihat ibu-ibu jamaah BKMT Bonehau. Ada yang datang berjalan kaki. Ada yang naik motor berboncengan melewati jalan berlumpur. Ada pula yang datang menggunakan mobil pick up bersama-sama.

Mereka datang dari jauh hanya untuk menghadiri majelis ilmu.

Di tengah perjalanan saya sempat tersesat dua kali. Sinyal telepon di Bonehau sangat terbatas. Kadang muncul satu garis, lalu hilang lagi. Saya kesulitan menghubungi panitia. Akhirnya beberapa kali saya harus berhenti dan bertanya kepada warga sekitar.

Itu pun tidak mudah.

Karena rumah penduduk berjauhan, berada di tengah kebun dan lereng pegunungan.

Namun semua rasa lelah itu langsung hilang ketika memasuki Desa Salutiwo.

Embun pagi khas Bonehau menyambut dengan udara yang begitu segar. Dingin pegunungan terasa menenangkan hati. Saya langsung membayangkan, pengajian hari ini pasti akan terasa sesejuk udara Bonehau pagi itu.

Alhamdulillah, saya tiba di Masjid Muhajirin Salutiwo. Jamaah ternyata sudah berkumpul. Mayoritas ibu-ibu majelis taklim dengan wajah-wajah penuh semangat dan senyum hangat.

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan dari KUA Bonehau yang diwakili oleh Penghulu Pak Asmin, SH.I, lalu tibalah giliran saya menyampaikan materi.

Tema yang diminta panitia hari itu adalah: “7 Tips Menuju Keluarga Sakinah.”

Saya membahas satu persatu bahwa untuk menggapai keluarga sakinah, minimal dapat menempuh 7 cara, yaitu : 

Pertama, Menjadikan Iman Sebagai Pondasi Rumah Tangga, 

Keddua, Membiasakan Komunikasi Yang Baik, 

Ketiga, Mudah Meminta Dan Memberi Maaf, 

Keempat, Saling Menguatkan Dalam Ibadah, 

Kelima, Mendahulukan Pengorbanan Daripada Ego, 

Keenam, Menjaga Rumah Dari Pengaruh Negatif Media Sosial, dan 

Ketujuh, Memperbanyak Doa Untuk Keluarga.

Saya menyampaikan materi sekitar 2 jam. Sebagaimana biasanya, saya membawakan materi dengan suasana santai, diselingi canda dan cerita kehidupan sehari-hari. Saya juga menampilkan video-video pendukung menggunakan laptop dan LCD yang selalu saya bawa ketika mengisi pengajian.

Kadang jamaah tertawa. Kadang mereka serius menyimak. Kadang terlihat saling memandang dan mengangguk pelan.

Namun bagian paling mengharukan justru terjadi saat sesi tanya jawab.

Ternyata jamaah sangat antusias bertanya.

Ada seorang jamaah mualaf bernama Ibu Prapti yang bertanya dengan suara pelan:

“Pak Ustaz… saya ini muallaf. Bacaan shalat saya belum hafal semua. Apakah shalat saya diterima Allah?”

Saya terdiam sejenak.

Pertanyaan itu sederhana, tetapi sangat menyentuh.

Saya memandang wajah beliau yang penuh harap. Saya tahu betul perjuangan mereka datang ke pengajian ini. Bahkan tadi di perjalanan saya sempat berpapasan dengan rombongan ibu-ibu berseragam merah yang naik pick up bersama-sama melewati jalan berlumpur.

Dan di antara mereka ternyata ada beberap muallaf yang sedang belajar mengenal Islam sedikit demi sedikit.

Saya pun berusaha menjawab dengan lembut dan menenangkan.

Bahwa Allah tidak melihat kesempurnaan hafalan terlebih dahulu, tetapi melihat kesungguhan hati hamba-Nya dalam belajar dan mendekat kepada-Nya.

Saya melihat wajah beliau berubah lebih tenang.

Namun ternyata bukan hanya itu. Ada lagi jamaah bernama Ibu Indah Kurniawati yang bertanya sambil menangis. Beliau bercerita tentang rumah tangganya yang penuh ujian dan masalah.

Beliau bertanya: bagaimana caranya bertahan dalam rumah tangga ketika hati sering lelah menghadapi keadaan.

Suasana masjid mendadak hening.

Saya bisa merasakan bahwa pertanyaan itu lahir dari luka yang selama ini dipendam sendiri.

Sebagai penceramah, saya berusaha memberikan jawaban yang menguatkan hati beliau. Saya sampaikan bahwa rumah tangga memang tidak selalu mudah, tetapi kesabaran, komunikasi, doa, dan kedekatan kepada Allah sering kali menjadi jalan bertahannya sebuah keluarga.

Dan saya melihat beliau perlahan mulai tersenyum kembali.

Sebenarnya masih banyak jamaah yang ingin bertanya dan mengacungkan jari. Namun waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 siang. Bahkan waktu Zuhur sudah masuk. Pengajian pun akhirnya harus diakhiri.

Padahal antusias jamaah masih begitu besar.

Sebelum kembali ke Mamuju, kami mampir di rumah Pak Nurdin dan istrinya, Ibu Wita, selaku koordinator kegiatan hari itu.

Di rumah beliau kami disuguhi kopi panas khas Bonehau yang nikmat sekali rasanya. Ada juga beberapa kue tradisional yang menemani obrolan siang itu.

Yang paling berkesan, Pak Nurdin langsung memetik kacang tanah yang tumbuh subur di samping rumahnya. Kacang itu kemudian dimasukkan ke mobil sebagai oleh-oleh untuk kami bawa pulang ke Mamuju.

Sederhana, Tetapi terasa sangat tulus.

Perjalanan pulang ternyata tidak kalah berat. Hujan mulai turun. Jalanan semakin licin. Beberapa jembatan kayu yang kami lewati bahkan sudah tampak rapuh.

Ada pula sungai yang harus kami seberangi menggunakan kendaraan.

Masyarakat sempat berkata: “Kalau hujan deras dan air sungai naik, kendaraan biasanya sulit lewat.”

Alhamdulillah, ketika kami melintas, air sungai belum terlalu tinggi dan arusnya belum terlalu deras.

Dan setelah perjalanan panjang melewati lumpur, jurang, sungai, serta gelapnya jalan pegunungan, akhirnya kami tiba kembali di Mamuju sekitar pukul 20.00 malam.

Hari itu saya pulang membawa banyak pelajaran.

Tentang ketulusan orang-orang kampung menjaga agama. Tentang semangat ibu-ibu majelis taklim yang rela menembus jalan berat demi menghadiri pengajian. Tentang para muallaf yang belajar Islam dengan penuh harap. Dan tentang betapa dakwah sesungguhnya bukan soal panggung megah dan fasilitas mewah.

Terkadang memang dakwah paling indah justru tumbuh di tempat-tempat terpencil, terkadang di jalan berlumpur, di masjid sederhana, dan serta di hati orang-orang kecil yang begitu mencintai ilmu agama.

Saya datang ke Bonehau hari itu bukan hanya saya datang berceramah. Tetapi saya juga datang belajar dan mendapatkan banyak pelajaran, salahsatunya adalah tentang arti perjuangan menjaga keimananan dan mengasah ke ikhlasan.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Cerpen Ashari REJEKI sering diidentikkan dengan harta. Boleh saja. Silahkan. Sah-sah saja. Namun da....

Suara Muhammadiyah

22 September 2023

Humaniora

Menjaga Titik dan Koma Oleh: Isngadi Marwah Atmadja Pada mulanya titik dan koma  Lalu huruf ....

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

Humaniora

SM Tower Berau dan Wisata Eksotik Kepulauan Berau adalah sebuah kabupaten yang berada di propinsi K....

Suara Muhammadiyah

7 October 2023

Humaniora

Oleh: Mahli Zainuddin Tago Trondheim-Norwegia, Senin 1 Desember 2024. Hari sudah gelap meski jam ....

Suara Muhammadiyah

6 December 2024

Humaniora

Selamat Jalan Kyai Muhammad Jazir ASP: Sang Arsitek Kemakmuran Masjid Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zu....

Suara Muhammadiyah

28 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah