Kompetensi dan Koneksi

Suara Muhammadiyah

14 August 2026

86
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Kompetensi dan Koneksi

Iu Rusliana, Dosen Program MM Uhamka Jakarta, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat

Bagi kita yang bukan generasi pewaris, alias perintis, maka salah satu kunci sukses itu dimilikinya kompetensi dan koneksi. Beda dengan yang warisannya tujuh turunan tak akan habis. Meski tentu, mempertahankan warisan agar sampai ke generasi lebih dari tujuh, perlu etos juang tinggi.

Kompetensi merupakan keterampilan yang diakui secara resmi. Di dunia kerja, dibuktikan dengan lulus uji kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Tentu saja tidak harus dipahami sekaku itu. Kompetensi boleh jadi tidak teruji secara resmi, namun pada akhirnya orang mengakui. Bukan kita yang merasa mampu, biarkan pihak lain yang menilai kapasitas dan mengakui. Sering diundang, diminta tolong, jadi konsultan, narasumber, penceramah, dimintai masukan, menjadi bukti kita diakui. Tentu saja bukan hanya dari lembaga yang sama, tapi lintas instansi. Menunjukkan kita punya reputasi.

Fokus pada bidang, rekam proses dan jejak belajar menjadi portopolio. Hal itu juga dapat membentuk kompetensi.  Sambil terus belajar, menebar manfaat pada sesama dan  meningkatkan kualitas pribadi. Tidak pernah puas dengan pencapaian. Berusaha memastikan semuanya dinikmati untuk lebih kompeten, sebagai proses menempa diri.

Koneksi dalam bahasa lain disebut social capital (modal sosial). Mengasahnya dengan berjejaring, berorganisasi. Mereka yang terlatih, biasanya pandai bergaul, luas hubungannya, mudah urusannya, cerdas emosi dan sosialnya. Dibanyak titik wilayah atau daerah, banyak kawannya. Mau model ahli ibadah hingga tukang haram jadah, masuk dan berteman dekat.

Banyak kawan lintas profesi dan karakter tak membuatnya kehilangan jati diri. Ibarat ikan di laut, tidak ikut asin walau air laut itu asin. Jejaring lama dirawat, koneksi baru dibukanya. Tak pandang bulu, bersahabat dengan siapapun. Satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit. Begitu prinsip hidupnya dan terus berjejaring. Menghindari konflik sebisa mungkin. Namun tidak takut berhadapan dengan siapapun selama benar dan tak bertentangan dengan hukum.

Bagi anak muda, kader pimpinan masa depan, tempa diri dengan lima prinsip. Pertama, tumbuhkan growth mindset, pola pikir untuk terus bertumbuh dan berkembang. Bahwa kecerdasan dan kemampuan dasar dapat terus ditingkatkan melalui usaha kerja keras dan belajar. Gagal itu bukan bukti ketidakmampuan, kebodohan, tapi mekanisme memperoleh informasi berharga untuk belajar. Menyukai tantangan, menghargai proses, terbuka pada kritik dan melihat kegagalan sebagai peluang.

Dari sini lah, harus menempa diri sebagai pribadi pembelajar. Belajar sepanjang hayat, dari buaian ibu hingga menjelang masuk liang lahat. Setiap helaan napas adalah proses pembelajaran terbaik mendapatkan hikmah kehidupan. Setiap saat mentertawakan kebodohan, menjaga sikap kritis dan kewarasan.

Kedua, sertai sikap rendah hati dan senang mengalah. Jauh dari sikap sombong, merasa paling benar sendiri. Bukan berarti kalah, tapi menempatkan sikap itu secara proporsional. Ada saat melawan, ada saat diam, menjauhi mereka yang tidak perlu dibersamai. Hanya akan menghabiskan waktu tak perlu. Orang waras harus mengalah, belajar memaklumi.   

Ketiga, open minded, berpikiran terbuka. Bergaul luas butuh kemampuan merangkum, menyinergikan diri, bersedia mengalah dan merangkul banyak pihak lintas profesi dan berbagai latar belakang. Pandai menempatkan diri.

Keempat, solutif kolaboratif, tak sekedar cukup membincang, tapi mencarikan jalan keluar. Kadang kita kuat dalam rapat, lama berdebat, tapi lemah dalam tahapan eksekusi. Perlu evaluasi, tindaklanjut dan aksi, siklus proses penjaminan mutu yang butuh komitmen kepemimpinan bersama. Jangan sampai apa yang direncanakan, dirapatkan, hanya jadi omon-omon. Untuk menjadikan rencana menjadi aksi nyata, lagi-lagi butuh komitmen, kompetensi dan koneksi.

Kelima, niatkan segala langkah sebagai ibadah. Berlatih ihlas dalam proses yang membutuhkan kesabaran. Tidak ada yang instan, perlu darah, letih, peluh dan beratnya perjuangan. Setelah berusaha sekuat tenaga, bertawakal, berserah diri pada Allah Yang Maha Rahman. Wallaahu’alam 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Hiruk Pikuk Kenaikan UKT Semakin Memperkuat Eksistensi PTM   Oleh Amidi, Dosen FEB Universitas....

Suara Muhammadiyah

3 June 2024

Wawasan

Mewujudkan Keikhlasan dalam BerMuhammadiyah Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Ketua PDM Jakarta Ti....

Suara Muhammadiyah

6 December 2025

Wawasan

Naik untuk Kuat, Turun untuk Berjuang: Pelajaran Isra’ Mi’raj bagi Kader Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

16 January 2026

Wawasan

Oleh: Dr Amirsyah Tambunan, CWC. Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah Saat....

Suara Muhammadiyah

2 September 2024

Wawasan

Ancaman Terhadap Sumberdaya Pulau Oleh: Dr.Ir. Armen Mara, M.Si Ketika ada berita tentang konfli....

Suara Muhammadiyah

11 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah