Mengapa Mereka Menjauh? Jawaban Pak Kyai untuk Fenomena Spiritual But Not Religious; Solusi Atas Krisis Spiritualitas Modern
Ditulis oleh Roehan Ustman, Pengasuh PP Ibnul Qoyyim Yogyakarta, Anggota Muhammadiyah Gunungkidul
Kyai Unik: Menanam Iman di Pematang Sawah
Beliau adalah seorang guru ngaji di pelosok kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Meski hidup dalam kesederhanaan, kealiman dan ketawadluannya terpancar nyata, hingga saya tak segan menyapa beliau dengan takzim: Pak Kyai.
Suatu hari, saya berkunjung ke kediamannya. Beliau sedang di sawah, tutur Bu Nyai. Saya pun menunggu. Tak lama, Pak Kyai pulang. Setelah berbasa-basi dan membersihkan diri, kami duduk melingkar, memulai obrolan yang hangat.
“Alhamdulillah, pagi ini adalah pelajaran terakhir tentang rukun iman yang pertama,” ujar Pak Kyai saat saya bertanya tentang kegiatannya di sawah. Rasa penasaran mendorong saya memohon penjelasan lebih dalam.
Beliau tersenyum, lalu berucap retoris: “Mengajar itu tak cukup hanya dengan lisan yang dikejar untuk dihafal pikiran. Mengajar harus menggunakan komunikasi hati dalam bentuk aksi, agar pelajaran itu tertanam dalam sanubari.”
Beliau menjelaskan bahwa sawah adalah medianya mengajar rukun iman.
“Langkah pertama adalah menyiapkan lahan dan benih. Lahan itu ibarat diri kita, dan benih adalah pengetahuan tentang-Nya. Lahan harus dibajak, digaru, dibersihkan dari gulma, dan diairi. Begitu pun diri kita; hati dan pikiran harus dibuka agar kita mengenal jati diri. Segala kerancuan dan ketidakpedulian yang mengganggu perasaan harus dinetralisir, agar pengetahuan tentang-Nya bisa tertanam dengan benar melalui pemahaman dzat, sifat, dan af’al-Nya.”
Lalu masuk ke tahap persemaian. Benih disemai, lalu ditanam dengan jarak tertentu. Ini adalah gambaran syahadat, shalat, dzikir, dan doa—yang tak boleh berhenti sebatas kata-kata, tapi harus diyakini seutuhnya.
“Tahapan berikutnya adalah perawatan,” lanjut beliau. “Iman harus diairi dengan puasa, dipupuk dengan amalan sunah, disiangi dengan zakat, dan dikendalikan dari hama lewat dzikir serta doa. Hingga akhirnya tiba masa panen: lahirnya budi pekerti dan pancaran amal shaleh.”
Beliau menutup dengan kalimat yang menggetarkan:
“Benih satu butir tumbuh tujuh tangkai, setiap tangkai berisi seratus bulir. Begitulah perumpamaan iman sejati.”
Saya terdiam, mencoba mencerna kedalaman filosofi itu. Saya teringat perkataan Al-Allamah as-Sa’di: “Dzikir kepada Allah akan menumbuhkan bibit iman dan menjadi makanan bagi hati. Semakin kuat dzikir seorang hamba, semakin kokoh pula keimanannya.”
Refleksi: Ketika Pendidikan Kehilangan "Jiwa"
Cerita sederhana di atas adalah tamparan bagi potret pendidikan masa kini yang sering kali terjebak dalam belenggu administrasi. Saat ini, mengajar sering kali kehilangan nurani—kehilangan empati, kasih sayang, dan tanggung jawab moral. Pendidikan hanya menjadi proses mekanis untuk menggugurkan kewajiban.
Jika pendidikan hanya berhenti pada "angka di atas kertas", dampaknya sangat fatal:
1. Bagi Siswa: Krisis Makna dan Karakter
Tanpa koneksi emosional, siswa kehilangan motivasi. Prestasi akademik mungkin tercapai, namun kehampaan karakter menyertainya. Siswa gagal melihat guru sebagai teladan, dan agama hanya dianggap sebagai beban hafalan, bukan kebutuhan spiritual.
2. Bagi Proses Pembelajaran: Transfer Ilmu Tanpa Nilai
Pembelajaran menjadi kaku dan menegangkan. Kelas berubah menjadi ruang hampa di mana nilai-nilai agama diajarkan secara dogmatis tanpa menyentuh realitas kehidupan sosial dan moral siswa.
3. Bagi Pendidik: Kehilangan Keberkahan
Guru yang hanya fokus pada administratif kehilangan marwahnya sebagai pendidik sejati. Tanpa "hati", ilmu yang diberikan tidak memiliki daya ubah (transformatif) bagi muridnya.
Sering kali, kurikulum yang terlalu padat dan metode konvensional membuat guru terburu-buru menyelesaikan target materi tanpa sempat menanamkan nilai (transfer of values). Akibatnya, muncul fenomena "Spiritualitas tanpa Religiusitas"—di mana orang merasa memiliki hubungan dengan Tuhan, namun merasa praktik beragama yang ada terlalu kering dan mekanis.
Pendidikan agama yang tidak menyentuh hati hanya akan melahirkan formalitas dan ritualitas belaka. Padahal, inti dari pendidikan adalah memanusiakan manusia. Seperti Kyai di sawah tadi, ia tidak hanya memberikan teori tentang benih, tapi ia mengajak santrinya merasakan bagaimana benih itu tumbuh menjadi kehidupan di dalam jiwa mereka.
Fenomena ini sering disebut dengan istilah SBNR (Spiritual But Not Religious). Ini adalah kondisi di mana seseorang mengejar kedamaian batin, makna hidup, atau hubungan dengan "Kekuatan Besar" (Tuhan), namun mereka memilih untuk menjauh dari lebel atau symbol symbol keagamaan/ agama formal.
Dalam banyak penjelasan dua istilah tersebut dari karakteristiknya mempunyai perbedaan dan penyebab :
Religiusitas: Biasanya bersifat komunal dan terstruktur. Ada aturan hukum (fikih/dogma), ritual ibadah yang seragam, kitab suci, dan hierarki kepemimpinan (seperti organisasi atau lembaga dakwah). Fokusnya adalah ketaatan pada tradisi.
Spiritualitas: Bersifat personal dan cair. Fokusnya adalah pengalaman batin individu, pencarian ketenangan, dan koneksi langsung dengan Sang Pencipta tanpa harus terikat oleh sekat-sekat administratif atau organisasi tertentu.
Ada beberapa alasan mengapa orang mulai bergeser ke arah ini:
Kekecewaan pada Formalitas: Banyak orang merasa praktik beragama saat ini terlalu fokus pada kulit (simbol, pakaian, administrasi) tetapi kering di bagian isi (akhlak, kasih sayang, kedamaian).
Trauma Institusional: Adanya oknum pemuka agama yang tidak sejalan antara ucapan dan perbuatan, atau agama yang sering dipolitisasi, membuat orang skeptis terhadap "lembaga" agama.
Pencarian Kebebasan: Di era modern, orang lebih suka mencari kebenaran melalui berbagai sumber daripada hanya mengikuti satu doktrin yang dianggap kaku.
Ciri-ciri Orang "Spiritualitas Tanpa Religiusitas"
- Mereka mungkin tetap berdoa atau bermeditasi, tetapi tidak dilakukan di tempat ibadah secara rutin.
- Mereka sangat menjunjung tinggi nilai universal seperti kemanusiaan, kelestarian alam, dan kejujuran, namun merasa tidak perlu "label" agama untuk melakukannya.
- Mereka percaya pada Tuhan, tetapi merasa Tuhan itu "luas" dan tidak bisa dikotak-kotakkan oleh organisasi manusia.
Cerita saya tentang Kyai menurut saya sebenarnya bisa menjadi obat atau antitesis bagi fenomena ini. Banyak orang menjadi SBNR karena mereka bertemu dengan sistem pendidikan agama yang "kering" (hanya hafalan dan administrasi). Namun, model pendidikan Pak Kyai yang menggunakan sawah justru menggabungkan keduanya: Religius (karena mengajarkan Rukun Iman) sekaligus Spiritual (karena menyentuh hati dan alam).
Jika agama diajarkan dengan cara yang "hidup" seperti Pak Kyai, orang tidak akan merasa perlu memisahkan antara menjadi religius dan menjadi spiritual.
Sawah Pak Kyai: Jembatan Antara Ritual dan Spiritualitas
Fenomena "Spiritual But Not Religious" (SBNR) yang kian marak saat ini bukanlah sebuah kebetulan. Ia adalah alarm bagi dunia pendidikan kita. Banyak orang mulai memisahkan diri dari agama terorganisir karena mereka hanya menemukan "cangkang" ritual yang kering. Mereka haus akan makna, namun yang disuguhkan hanyalah tumpukan teorii, hafalan rukun, dan tuntutan dogmatis yang kaku.
Inilah mengapa model pendidikan Pak Kyai menjadi sangat relevan. Beliau membuktikan bahwa religiusitas (ketaatan pada ajaran) tidak harus berjarak dengan spiritualitas (pengalaman batin). Model tersebut menggambarkan:
Melampaui Sekadar Hafalan: Pak Kyai tidak membiarkan rukun iman berhenti sebagai daftar poin di papan tulis. Dengan menjadikan sawah sebagai media, beliau mengubah transfer of knowledge menjadi transfer of values.
Agama yang "Hidup": Ketika iman diajarkan melalui proses mencangkul, menyemai, dan menyiangi, agama tidak lagi terasa sebagai "aturan luar" yang membelenggu. Agama menjadi "napas dalam" yang menghidupkan karakter.
Menjawab Dahaga Spiritual: Mereka yang memilih jalur SBNR sebenarnya sedang mencari apa yang Pak Kyai ajarkan: koneksi yang otentik. Tanpa sentuhan hati seperti ini, pendidikan agama hanya akan melahirkan dua jenis ekstrem: mereka yang taat secara mekanis tanpa empati, atau mereka yang memilih spiritualitas tanpa arah karena kecewa pada institusi agama yang kehilangan jiwanya.
Pendidikan bukan sekadar mengisi botol kosong dengan informasi, melainkan menyalakan api di dalam jiwa. Jika kita terus mengajar tanpa nurani, kita hanya sedang mencetak "robot beragama" yang mahir dalam administrasi namun asing dengan Tuhannya.
Seperti pesan Pak Kyai: iman itu harus ditanam di lahan diri yang bersih dan dirawat dengan aksi nyata. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah pendidikan agama tidak diukur dari seberapa tebal laporan administrasinya, melainkan dari seberapa harum "budi pekerti" yang dipanen dari pancaran amal shaleh pesertanya.

