BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan Pengajian Syawal dan Silaturahmi Bakda Idul Fitri 1447 Hijriah yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Bandung pada Kamis (02/04/2026).
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan saling memaafkan. Namun, menghadirkan kisah inspiratif salah satu guru PAUD Aisyiyah yang menyentuh hati para sivitas UM Bandung.
Dalam kegiatan tersebut, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung turut mengundang Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) sebagai bagian dari penguatan sinergi dakwah dan pendidikan di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.
Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung Herry Suhardiyanto mengaku terharu saat menerima laporan mengenai sosok inspiratif yang hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Nur Fajriah, mahasiswi Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) prodi PIAUD asal Kota Bekasi yang tetap menempuh pendidikan di usia 77 tahun.
“Ibu Nur Fajriah, di usia ke-77 tahun, dengan pengabdian panjang di dunia pendidikan, membuktikan kepada kita semua bahwa long life learning atau belajar sepanjang hayat bukan sekadar teori, melainkan napas hidup. Beliau adalah teladan bahwa semangat belajar tidak mengenal usia,” ungkap Rektor dalam sambutannya.
Nur Fajriah diketahui memiliki pengalaman pengabdian selama kurang lebih tiga belas tahun di bidang pendidikan anak usia dini. Semangatnya untuk terus belajar menjadi inspirasi nyata di tengah para peserta yang hadir. Khususnya para guru PAUD yang masing muda.
Dalam kesempatan tersebut, Nur Fajriah juga menyampaikan pesan kepada seluruh mahasiswa agar tetap semangat dalam menempuh pendidikan. Usia bukan menjadi halangan untuk tetap belajar di lembaga pendidikan selama keadaan rohani dan jasmani prima.
“Kalau menurut saya, kita niatkan belajar itu adalah untuk diri kita terlebih dahulu, kemudian juga untuk generasi yang akan datang. Namun, kita jalani dengan keikhlasan. Dengan keikhlasan, insyaallah semuanya akan berjalan dengan baik,” ujarn Fajriah usai kegiatan.
Pesan tersebut disambut haru dan menjadi motivasi tersendiri bagi para peserta, khususnya mahasiswa yang hadir. Pesan tersebut juga menjadi bukti bahwa belajar sejatinya tidak mengenal batas usia. Selagi ada kesempatan, mencari ilmu tetap harus dilakukan.
Sementara itu, penceramah dalam kegiatan tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, turut memberikan apresiasi atas semangat luar biasa yang ditunjukkan Nur Fajriah. Dia bahkan memberikan “kadeudeuh” berupa uang sebagai bentuk penghargaan dan dukungan atas dedikasi serta semangat belajarnya.
Atas tindakan Abbas tersebut, hadirin yang memenuhi Auditorium KH Ahmad Dahlan pun bertepuk tangan riuh. Nur Fajriah terlihat sehat dan bugar di usianya yang tidak lagi muda.
Kisah Nur Fajriah menjadi bukti bahwa semangat menuntut ilmu tidak dibatasi oleh usia. Dengan keikhlasan dan tekad yang kuat, proses belajar dapat terus dijalani sebagai bagian dari ibadah dan kontribusi untuk generasi mendatang.
Pengajian Syawal ini pun tidak hanya menjadi momentum silaturahmi pasca-Idulfitri khususnya sivitas UM Bandung. Namun, juga menjadi ruang refleksi bahwa pendidikan adalah perjalanan sepanjang hayat yang terbuka bagi siapa saja.*(HMA)
