Melampaui Ego Sektoral: Merawat Solidaritas-Intelektual IMM, Menjaga Indonesia

Suara Muhammadiyah

22 July 2026

137
IMM

IMM

Melampaui Ego Sektoral: Merawat Solidaritas-Intelektual IMM, Menjaga Indonesia

Oleh: Moh Fikli Olola

‘’Berbeda pilihan atau pandangan itu biasa, tapi menjaga persatuan bangsa itu yang utama.’’ Prof Ahmad Syafii Maarif.

Menjelang perhelatan Tanwir kedua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), pada awal bulan September 2026 nanti di Banten. Adapun mesin gerakan setiap bakal calon baik ketua umum maumpun calon formatur, mulai dipanaskan dengan beragam agenda konsolidasi. Mulai dari menyemai ide dan gagasan, sampai pada urusan dukung-mendukung secara individu maupun kolektif. 

Yang menarik dari salah satu hajat besar yang akan dihadiri oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM di 36 provinsi ini. Secara serentak, ada sebuah fenomena baru dari sebagian besar IMM di daerah-daerah--yang mulai memetakan diri ke dalam berbagai poros regional—Sulawesi Raya, Kalimantan Raya, Sumatra Raya, dan Pulau Jawa. Fenomena ini sekilas bisa dimaklumi sebagai bagian dari potret dialektika politik internal organisasi Nasional yang sering ada di banyak tempat.

Di sisi yang lain, koalisi regional seperti ini juga berpotensi mengesampingkan perumusan dentuman-dentuman besar yang harusnya menjadi agenda prioritas, lebih  dari sekedar berkelompok dan menang-menangan semata.

Gerakan region daerah seperti ini jika dibaca lebih jauh dan tidak dapat diantisipasi dengan matang, maka berpotensi terjebak dalam sekat-sekat primordial dan ego sektoral yang mudah mereduksi hakikat pemikiran dan project landing gerakan IMM di masa-masa yang akan datang.

Untuk itu, tentunya kita sumua tidak pernah berharap bahwa Tanwir tahun ini pada akhirnya, sekedar menjadi ajang perpecahan atau kalkulasi angka rekomendasi kelompok semata. Sebabnya, lebih dari itu, pada momentum perhelatan yang sesungguhnya, kita telah tiba pada ujian bagi kedewasaan watak gerakan intelektual-nya IMM yang sesungguhnya.

Setelah mengikuti isu dan fenomena konsolidasi region daerah belakangan untuk menuju Tanwir tahun ini. Saya yakin, kita masih bisa tetap optimis untuk menjaga watak solidaritas intelektual dan perjuangan IMM, bagi masa depan Indonesia.

Untuk itu, Izinkan saya untuk mengurai fenomena ini lewat satu analisa sosiologi-kritis dalam membaca dan mengurai fenomena region daerah menuju Tanwir kali ini.

Solidaritas-Intelektual IMM: Arena, Modal, Capital

​Jika tidak cenderung kelihatan menyederhanakan, Tanwir dua IMM tahun ini ibarat sebuah arena untuk kembali menggodok lagi basis potensi dan modalitas pikiran yang dimiliki  IMM seluluh daerah di Indonesia. Meminjam modus sosiologis Pieere Bourdieu—Tanwir dua IMM yang akan kita ikuti nantinya, bisa dibaca juga fungsinya sebagai sebuah field (ranah)—sebuah arena kompetisi sosial tempat para kader-kader di seluruh daerah, dalam menuangkan gagasan dan saling memperebutkan capital (modal). 

Di titik inilah, saya ingin membaca fenomena koalisi region daerah yang hadir belakangan, baik itu poros--Sulawesi Raya, Kalimantan Raya, Sumatra Raya, maupun Pulau Jawa--sebagai arena bagi IMM di setiap daerah yang sesungguhnya memiliki modal yang berbeda-beda. Mulai dari modal sosial (jaringan), modal budaya (gagasan dan tradisi intelektual dari komisariat hingga cabang), hingga modal politik (jumlah suara dst).

​Bahayanya, adalah ketika Tanwir dan perhelatan dua tahunan seperti ini, justru terus-terusan melahirkan habitus (kebiasaan/cara pandang) yang keliru: di mana kader di satu region melihat region lainnya lagi bukan sebagai saudara se-ideologi lagi dalam slodaritas Intelektual, melainkan sebagai "lawan tanding" yang harus dikalahkan bahkan diremehkan.

Maka jangan heran, jika Ego sektoral bisa muncul ketika modal kultural dan struktural masing-masing region daerah tadi mulai terpagari demi syahwat kekuasaan sesaat. Hal sepeti ini pula yang sering melandasi kekacauaan-keacauan kecil tak berdasar, di setiap memntum arena Muktamar IMM pada akhirnya.

Maksud saya, jika koalisi regional ini mengeras dan dibiarkan menjadi identitas politik yang kaku di tubuh IMM, maka akan terjadilah apa yang disebut Bourdieu sebagai symbolic violence (kekerasan simbolis)—di mana gagasan-gagasan cemerlang dari basis semua latar belakang kader yang potensial se-Indonesia, ikut terabaikan hanya karena mereka tidak berada di dalam gerbong ataupun poros regional yang dominan. Artnya, kita malah selalu disibukan dengan jejaring taktis jangka pendek di IMM ini.

Oleh karena itu, arena Tanwir dua IMM beaok, sudah harus sebisa mungkin kembali didekonstruksi lagi. Koalisi empat region daerah IMM tidak boleh menjadi tembok pemisah dalam ambisi kepentingan, melainkan harus bertransformasi menjadi ruang inklusif untuk mendistribusikan modal intelektual secara kolektif dari seluruh penjuru negeri untuk dikonsolidasikan dalam forum Tawir dan Muktamar IMM tahun ini.

Merawat Solidaritas-Intelektual Menjaga Indonesia

​Fenomena Koalisi empat region, Sulawesi Raya, Kalimantan Raya, Sumatra Raya, dan Pulau Jawa, dalam menyongsong Tanwir tahun ini adalah realitas organisasi yang sah dan wajar dalam ruang demokrasi. Namun, peta perhelatan seperti ini juga harus diletakkan di bawah payung besar bernama Solidaritas-Intelektual IMM.

Jadikan koalisi regional sebagai laboratorium gagasan untuk merumuskan solusi atas berbagai masalah seperti; ketimpangan pembangunan di timur, krisis ekologi di Kalimantan, tantangan maritim di Sulawesi dan konflik agraria Sumatra, serta problem sosial di Pulau Jawa. Bukan justru menjadikan solidaritas yang ada sebagai instrumen pemecah belah atau sekedar banyak-banyakan rekom dan modal. Sudah terlalu besar beban dan pekerjaan rumah bagi daerah-daerah yang selama ini kita saksikan dan alami secara bersama, jangan lagi ditambah dengan ketiadaan Solidaritas dan kepekaan Intelektual di IMM.

Maka sudah waktunya menanggalkan ungkapan dan Tindakan sentiment-sentiment kedaerahan ("kami dari Sumatera", "kami dari Jawa", "kami dari Sulawesi", atau "kami dari Kalimantan"), jika tanpa visi dan solidaritas Intelektual. Ego kedaerahan harus kembali dilebur ke dalam satu komitmen Intelektual kolektif: Bagaimana cara IMM menentukan arah dan nasib Indonesia? Persatuan dalam tubuh IMM tidak boleh bersifat mekanistik (sekadar kumpul karena kepentingan taktis), melainkan harus organik—bersatu karena kesamaan visi moral untuk memajukan umat dan bangsa.

Kita tau, ini merupakan pekerjaan rumah yang panjang, butuh kearifan dan kejernihan berpikir, butuh Solidaritas intelektual yang kuat untuk menjadi marwah IMM, bukan sekedar kejar-kejaran kepentingan kekuasaan semata. Meminjam pesan besar Buya Ahamad Syafii Maarif--Politik yang benar adalah yang sejalan dengan nafas solidaritas kewarganegaraan yang utuh.          


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Beridul Fitri untuk Menjadi Muslim yang Lebih Baik Oleh: Mohammad Fakhrudin Idul Fitri satu ra....

Suara Muhammadiyah

8 April 2024

Wawasan

Dualisme Putusan MK, Kesehatan Otak, dan Ketaatan Hukum  Oleh: Wildan dan Nurcholid Umam Kurni....

Suara Muhammadiyah

4 December 2023

Wawasan

Hikmah Syawalan: Empat Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Ibadah Oleh: Tito Yuwono, Ph.D, Dosen....

Suara Muhammadiyah

24 April 2024

Wawasan

Membangun Kader Melampaui Sekat Ortom Oleh: Yudha Kurniawan (Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, beke....

Suara Muhammadiyah

27 June 2026

Wawasan

Gerakan IMM dalam Lintasan Peradaban (2) Oleh: Hilma Fanniar Rohman, Dosen Perbankan Syariah, Unive....

Suara Muhammadiyah

10 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah