Membuka Gerbang Sekolah dengan Cinta: Urgensi Sekolah Ramah bagi Anak

Suara Muhammadiyah

15 July 2026

123
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Membuka Gerbang Sekolah dengan Cinta: Urgensi Sekolah Ramah bagi Anak

Oleh: St. Rachma Atien, Guru Honorer SMPM 2 Sirampog, Brebes

Dari ruang kelas kecil di kaki Gunung Slamet, kami para guru honorer kerap menyaksikan potret yang hampir sama setiap awal tahun ajaran baru. Ada binar harapan di mata anak-anak pedesaan yang menapaki jenjang sekolah baru. Namun, di wajah mereka tidak jarang terselip pula rasa cemas. Kecemasan ini merupakan sinyal spiritual bahwa mereka membutuhkan kepastian: Apakah tempat baru ini aman untuk jiwa dan raga mereka?

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah merupakan bagian dari upaya membangun budaya sekolah yang aman, sehat, nyaman, dan berkarakter (13/7/2026). Kebijakan ini merespons langsung arahan Presiden mengenai penguatan tiga pilar fundamental sektor pendidikan: lingkungan fisik, sosial, dan spiritual.

“Kemendikdasmen mengikuti arahan Presiden untuk membangun budaya lingkungan fisik, sosial, dan spiritual yang aman, sehat, bersih, dan indah. Arahan tersebut kami terjemahkan untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, yang diperkuat melalui regulasi MPLS Ramah,” ujar Mu’ti. Kebijakan ini menegaskan komitmen negara untuk menggeser paradigma lama. MPLS tidak lagi menjadi panggung unjuk kekuatan senioritas atau perpeloncoan, melainkan menjadi karpet merah yang menyambut anak masuk ke "rumah kedua" mereka.

Merajut Rasa Aman Sebelum Ilmu

Bagi kami yang mendampingi anak-anak di akar rumput, konsep sekolah ramah bukan sekadar pemenuhan dokumen administratif. Keberhasilan pendidikan tidak pernah berdiri tunggal di atas kemegahan kurikulum atau fasilitas. Fondasi utamanya terletak pada iklim psikologis yang dirasakan oleh peserta didik. Anak yang merasa aman akan memiliki kesiapan mental untuk menyerap ilmu, jauh melampaui anak yang terkungkung rasa takut, intimidasi, atau tekanan tersembunyi.

Secara teoritis, hal ini sangat selaras dengan piramida kebutuhan dasar Abraham Maslow (1943), yang menjelaskan bahwa kebutuhan akan rasa aman (safety needs) merupakan prasyarat mutlak bagi manusia sebelum mereka mampu memproses kemampuan kognitif tingkat tinggi hingga mencapai aktualisasi diri. Sederhananya, proses transfer of knowledge di kelas tidak akan pernah berjalan optimal jika ruang batin anak masih dipenuhi kecemasan.

Pendekatan ini diperkuat Lev Vygotsky (1978) yang menegaskan bahwa pembelajaran dan perkembangan kognitif anak berlangsung paling optimal melalui interaksi sosial yang positif. Ketika lingkungan sekolah dipenuhi tradisi saling menghargai dan guru menyapa dengan ketulusan emosional, di situlah loncatan kecerdasan sosial anak mulai mekar.

Dalam Ecological Systems Theory, Urie Bronfenbrenner (1979) memaparkan bahwa sekolah adalah lingkaran mikro sistem utama yang membentuk arsitektur karakter anak. Jika mikro sistem sekolah ini menghadirkan suasana yang aman dan suportif, maka perkembangan emosional, spiritual, dan akademik anak akan tumbuh secara seimbang.

Relevansi Kebijakan dan Komitmen di Ruang Kelas

Di tingkat praktis, kebijakan MPLS Ramah ini menjadi jawaban atas keresahan para orang tua di daerah. Kita harus mengakui bahwa bayang-bayang kekerasan di lembaga pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.

Berdasarkan laporan global UNESCO (2019) dalam dokumen Behind the Numbers: Ending School Violence and Bullying, lingkungan sekolah yang aman dari kekerasan fisik dan verbal berkontribusi langsung pada penurunan angka putus sekolah hingga 25% di negara berkembang.

Sementara itu, data nasional dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2022) mengungkapkan fakta bahwa 84% trauma awal masuk sekolah pada anak dipicu oleh pelaksanaan masa orientasi yang masih menggunakan metode intimidasi dan penugasan atribut yang mempermalukan siswa.

Melalui momentum MPLS Ramah ini, seluruh warga sekolah, termasuk kami para pendidik honorer yang berada di garda depan, diajak untuk menghidupkan kembali esensi pendidikan yang memanusiakan manusia. Sekolah harus dibersihkan dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan perundungan digital maupun fisik.

Menanam Benih Akhlak Mulia

Sebagai guru, kami mengimani bahwa sekolah ramah anak sesungguhnya adalah pengejawantahan dari nilai rahmatan lil 'alamin. Mendidik dengan kelembutan adalah jalan kenabian. Ketika gerbang sekolah dibuka dengan senyum hangat, sapaan santun, dan permainan kolaboratif yang menggembirakan, kita sedang menanam benih-benih akhlak mulia ke dalam dada mereka.

Iklim sekolah yang ramah terbukti meningkatkan keterikatan siswa terhadap sekolah (school connectedness) secara signifikan. Anak-anak tidak lagi datang ke sekolah karena ketakutan akan sanksi, melainkan karena kerinduan akan ilmu dan lingkaran pertemanan yang sehat.

Mari kita jadikan momentum MPLS Ramah sebagai titik balik bersama. Menghapus tradisi kelam perpeloncoan bukan berarti memanjakan mental anak, melainkan membangun jiwa mereka dengan cara yang lebih terhormat. Sebab, di atas fondasi sekolah yang aman dan nyaman inilah, lentera masa depan anak-anak akan menyala dengan terang dan membawa keberkahan bagi negeri menuju Indonesia 2045Wallahu a'lam bish-shawab.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Menjadi Kader Muhammadiyah: Berorganisasi dengan Spirit dan Akhlak Rasulullah Oleh: Mohammad Nur Ri....

Suara Muhammadiyah

5 September 2025

Wawasan

Marwah Hakim  Oleh: Ahsan Jamet Hamidi Kabar tentang dugaan pelanggaran kode etik oleh hakim ....

Suara Muhammadiyah

17 November 2023

Wawasan

Qurban Bentuk Pengorbanan, Kesetiaan dan Kasih Sayang Ika Sofia Rizqiani, S.Pd.I., M.S.I, Dosen Al ....

Suara Muhammadiyah

17 May 2025

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (15) Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiana Saputra Di da....

Suara Muhammadiyah

14 December 2023

Wawasan

Orang Bilang Bencana Oleh: Mohammad Fakhrudin Orang bilang bencanaSastrawan bilang inspirasi:cerpe....

Suara Muhammadiyah

8 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah