Menciptakan Ruang Aman dan Nyaman Bagi Anak
Penulis: Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak/LPPA PWA Kalbar
Judul diatas mungkin terasa simple, mudah dan tidak sulit untuk diwujudkan. Mengatur anak kecil untuk menjadi penurut, baik secara akademik, emosional, dan sosial dianggap proses sederhana. Padahal menjadikan anak tumbuh kembang sesuai usia, kemudian si anak dapat melewati tahap hidup dengan bahagia untuk meraih kesuksesan merupakan hasil dari kerjasama antara banyak pihak, rumah, sekolah juga masyarakat.
Memberikan ruang aman dan nyaman bagi anak bukanlah sekadar wacana, melainkan kebutuhan nyata untuk generasi hebat bangsa. Anak-anak membutuhkan lingkungan yang melindungi mereka dari kekerasan fisik maupun verbal, sekaligus memberi rasa tenang, dihargai, dan diterima apa adanya. Dalam perspektif pendidikan Islam, anak lahir dalam keadaan fitrah yang suci. Fitrah itu akan berkembang sesuai dengan bagaimana orang tua dan guru membimbingnya.
Rasulullah SAW menekankan pentingnya kasih sayang dalam mendidik, sebagaimana beliau memperlakukan anak-anak dengan kelembutan, mengajarkan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan akhlak dan karakter. Ruang aman berarti anak bebas dari rasa takut, baik di rumah maupun di sekolah, sehingga mereka berani bereksplorasi, berkreasi, dan mengekspresikan diri.
Maka, komunikasi harmonis antara guru dan orang tua menjadi kunci agar ruang aman itu benar-benar terwujud. Anak sering kali mengalami kebingungan ketika nilai yang diajarkan di rumah berbeda dengan yang ditanamkan di sekolah. Jika guru dan orang tua tidak menjalin komunikasi yang baik, anak bisa kehilangan arah dan merasa tidak stabil.
Teori sosial mengurai bahwa identitas anak dibentuk melalui interaksi sosial. Konsistensi nilai antara rumah dan sekolah akan memperkuat internalisasi karakter. Misalnya, jika orang tua menekankan pentingnya sopan santun, sementara guru juga menegaskan hal yang sama, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan nilai tersebut. Sebaliknya, jika orang tua membiarkan anak bersikap kasar sementara guru menuntut kesopanan, anak akan mengalami konflik batin yang merusak rasa aman.
Tantangan Mewujudkan Ruang Aman dan Nyaman
Tantangan nyata di Indonesia menunjukkan bahwa konsep ruang aman masih perlu diperjuangkan. Yang viral di Media sosial tindakan asusila seorang guru di Tanjung Balai Medan Sumatera Utara terhadap siswa yang berujung amukan massa. Lalu kasus bullying semakin sering terjadi serta beberapa kasus lainnya membuat anak merasa terancam dan tidak nyaman.
Tekanan akademik yang berlebihan juga menghilangkan ruang bermain dan kreativitas anak. Data BPS 2025 mencatat bahwa meski angka partisipasi pendidikan dasar relatif tinggi, masih ada ketimpangan antarprovinsi serta keterbatasan ruang kelas dan sanitasi di sejumlah daerah. Fakta ini menegaskan bahwa ruang aman tidak bisa tercipta hanya dengan niat baik, melainkan harus ada kebijakan nyata dan kolaborasi support pemerintah serta kerjasama guru, orang tua dan masyarakat.
Program Sekolah Ramah Anak yang digulirkan pemerintah menjadi salah satu langkah penting. Melalui kebijakan MPLS Ramah, tradisi perpeloncoan diganti dengan kegiatan penuh kasih sayang dan budaya damai. Regulasi baru melarang keras kekerasan fisik maupun psikis, pungutan liar, serta senioritas negatif. Orang tua pun dilibatkan dalam sosialisasi sebelum tahun ajaran baru, sehingga komunikasi guru–orang tua semakin erat.
Selain itu, Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) menekankan kolaborasi lintas kementerian, sekolah, dan masyarakat untuk menciptakan ruang aman di sekolah, keluarga, ruang publik, dan ruang digital. Program ini sejalan dengan konsep tarbiyah dalam Islam yang menekankan kasih sayang, keteladanan, dan komunikasi, serta teori sosial yang menekankan pentingnya interaksi positif.
Urgensi Komunikasi Harmonis Orang Tua dan Guru
Komunikasi yang harmonis antara orang tua dan guru adalah fondasi utama perlindungan anak. Sinergi ini menciptakan sistem pengawasan terpadu yang menutup celah bagi pelaku kekerasan, mendeteksi perubahan perilaku anak sejak dini, serta menyamakan pola asuh positif di rumah dan sekolah agar anak senantiasa merasa aman, didengar, dan terlindungi. Ketika kedua pihak saling terbuka, menghargai, dan bekerja sama, anak akan merasakan kehangatan serta rasa aman yang menjadi dasar perkembangan emosional dan akademiknya.
Di Indonesia, banyak sekolah sudah mulai menerapkan program pertemuan rutin antara guru dan orang tua untuk membahas perkembangan anak. Orang tua diberi kesempatan menyampaikan kendala di rumah, sementara guru menjelaskan capaian akademik dan perilaku anak di kelas. Dengan cara ini, komunikasi tidak hanya terjadi saat ada masalah, tetapi menjadi budaya yang berkesinambungan.
Contoh lain guru menggunakan buku penghubung. Guru menuliskan catatan harian tentang perilaku dan capaian anak, lalu orang tua menambahkan komentar atau tindak lanjut di rumah. Anak melihat bahwa kedua pihak saling berkomunikasi, sehingga merasa dirinya diperhatikan secara menyeluruh.
Peran teknologi juga semakin besar dalam memperkuat komunikasi. Banyak sekolah kini memanfaatkan aplikasi digital seperti WhatsApp group, Google Classroom, atau platform khusus sekolah. Dengan media ini, guru dapat mengirimkan informasi secara cepat, orang tua bisa menanyakan perkembangan anak, dan semua pihak tetap terhubung meski sibuk. Di era digital, transparansi informasi menjadi kunci agar anak tidak bingung menghadapi perbedaan pandangan antara rumah dan sekolah.

