Menduniakan Produk Lokal, Muhammadiyah Sulsel dan FEB Unismuh Cetak Eksportir Muda
MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Memasuki pasar ekspor bukan sekadar persoalan menemukan pembeli di luar negeri. Kemampuan menjaga kualitas produk, menjamin kesinambungan pasokan, dan memahami mekanisme perdagangan internasional menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha Indonesia, termasuk generasi muda yang mulai merintis bisnis.
Persoalan tersebut mengemuka dalam seminar From Local to Global: International Trade Literacy for Young Entrepreneurs yang digelar Bank Sulselbar berkolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah (FEB Unismuh) Makassar serta Bidang Ekonomi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan. Kegiatan yang berlangsung di Mini Hall FEB Unismuh Makassar, Rabu, 28 Oktober 2026 itu, diarahkan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai peluang, persyaratan, dan tantangan perdagangan lintas negara.
Wakil Ketua PWM Sulawesi Selatan Bidang Ekonomi, Prof Dr Mustari Bosra, MA, mengajak mahasiswa mengubah orientasi kewirausahaan dari sekadar memenuhi kebutuhan pasar lokal menjadi usaha yang mampu bersaing secara internasional. Menurut dia, momentum Hari Sumpah Pemuda semestinya tidak berhenti pada peringatan sejarah, tetapi juga mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki keberanian membangun kemandirian ekonomi.
"Oleh karena itu, mulai sekarang kita jangan berpikir apa yang saya produksi untuk saya jual di sekitar rumah saya. Tapi kita mau berpikir apa yang saya produksi yang punya kualitas tinggi dan dapat saya ekspor ke luar negeri," ujar Mustari dalam pengajian sekaligus sambutan pembukaan seminar.
Mustari menilai peluang perdagangan internasional sebenarnya terbuka bagi pelaku usaha Indonesia. Namun, peluang tersebut belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan karena kemampuan memenuhi standar kualitas dan menjaga kontinuitas pasokan masih menjadi persoalan. Akibatnya, menurut dia, sebagian produk Indonesia harus melewati jaringan perdagangan negara lain sebelum mencapai konsumen di pasar tujuan.
Ia mencontohkan rantai pasok kebutuhan konsumsi jemaah haji dan umrah di Arab Saudi. Berdasarkan keterangan pelaku usaha yang diterimanya, terdapat ikan asal Surabaya yang terlebih dahulu diekspor ke Thailand sebelum diteruskan ke Arab Saudi. Mustari menilai pengalaman itu memperlihatkan pentingnya membangun sistem perdagangan yang memungkinkan produk Indonesia menjangkau pasar tujuan secara lebih langsung.
Menurut Mustari, hambatan tersebut tidak cukup dijawab dengan meningkatkan jumlah produksi. Pelaku usaha juga harus mampu memenuhi persyaratan mutu, menjaga ketersediaan barang secara berkelanjutan, dan membangun jaringan distribusi yang dapat dipercaya pembeli internasional.
Dalam konteks itu, Mustari mengungkapkan bahwa Muhammadiyah tengah mendiskusikan pengembangan ekosistem ekonomi yang berkaitan dengan penyelenggaraan haji dan umrah. Pembahasan tersebut antara lain mencakup kemungkinan pengembangan usaha akomodasi serta pemanfaatan peluang perdagangan untuk memenuhi kebutuhan jemaah di Arab Saudi. Ia melihat pasar tersebut sebagai salah satu ruang yang dapat dijajaki pengusaha Indonesia.
Mustari juga mengingatkan bahwa tradisi perdagangan internasional memiliki akar panjang dalam sejarah Islam. Ia mencontohkan aktivitas perdagangan Nabi Muhammad SAW dan Khadijah yang melintasi berbagai wilayah sebagai inspirasi bagi generasi muda untuk membangun usaha. Namun, ia menekankan, kemampuan mengumpulkan kekayaan harus disertai penguasaan ilmu, ketakwaan, dan orientasi kemanfaatan sosial.
Inkubator Bisnis dan Internasionalisasi Kampus
Dekan FEB Unismuh Makassar, Dr Edi Jusriadi, SE, MM, menyatakan bahwa penguatan literasi perdagangan internasional sejalan dengan upaya fakultas memperluas pengalaman internasional mahasiswa. Menurut dia, perubahan ekonomi global menuntut perguruan tinggi tidak hanya menyiapkan lulusan yang memahami teori manajemen dan bisnis, tetapi juga mampu membaca peluang pasar serta menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia usaha.
"Kalau Anda ingin survive ke depan, ya tentunya harus mampu mengadaptasi dengan perkembangan-perkembangan global," kata Edi.
Kendati demikian, ia mengingatkan mahasiswa agar tetap kritis dalam menyaring pengaruh global sehingga kemampuan beradaptasi tidak membuat mereka kehilangan nilai dan kearifan lokal.
Edi menjelaskan, FEB Unismuh telah mengembangkan sejumlah kegiatan untuk memperkuat ekosistem ekonomi berbasis jejaring Muhammadiyah. Beberapa di antaranya ialah kerja sama dengan pimpinan daerah Muhammadiyah, kegiatan internasional yang melibatkan dosen dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, serta pelatihan kewirausahaan melalui inkubator bisnis fakultas.
Menurut Edi, hubungan FEB Unismuh dengan Bank Sulselbar juga telah terjalin melalui berbagai kegiatan dan kerja sama akademik. Karena itu, ia berharap kolaborasi dalam seminar perdagangan internasional dapat berkembang menjadi program yang lebih konkret, terutama dalam mendampingi mahasiswa yang ingin merintis dan mengembangkan usaha.
"Kami berharap bahwa kegiatan ini bukan berhenti di sini," ujar Edi. Ia menyebut inkubator bisnis FEB Unismuh berpotensi menjadi mitra untuk mengembangkan program lanjutan bersama Bank Sulselbar, sehingga pengetahuan yang diperoleh mahasiswa dapat dihubungkan dengan kebutuhan pengembangan usaha.
Sementara itu, Pimpinan Departemen Trade Finance dan Remittance Divisi International Banking PT Bank Sulselbar, Andi Siti Sartika Rahman, SS, MSP, menjelaskan bahwa seminar tersebut merupakan bagian dari kontribusi Bank Sulselbar dalam mendukung Bulan Inklusi Keuangan yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Kegiatan ini merupakan kontribusi Bank Sulselbar dalam kegiatan bulan inklusi keuangan," kata Sartika. Ia berharap mahasiswa memanfaatkan forum tersebut untuk aktif bertanya dan memperdalam pemahaman mengenai perdagangan internasional serta layanan perbankan yang berkaitan dengannya.
Seminar ini menghadirkan materi literasi perdagangan internasional oleh Murdopo, perwakilan Bank Sulselbar, melalui pertemuan virtual. Rangkaian pembahasan juga mencakup perspektif layanan dan fasilitasi ekspor, dunia usaha dan perdagangan internasional, sertifikasi kompetensi sumber daya manusia, serta pengembangan usaha berbasis perguruan tinggi.
Untuk memperkaya pembahasan, seminar juga diisi oleh pembicara dari Export Center Makassar, perwakilan Bank Sulselbar, serta Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP P1) Unismuh Makassar. Dr Nasrun Syahrir, yang membahas perspektif sertifikasi kompetensi dan kesiapan sumber daya manusia, sedangkan Ketua Inkubator Bisnis FEB Unismuh, Dr Basri Basir MR, SE, MAk, MBns, menjadi penanggap dari perspektif akademik dan pengembangan usaha.