Menjadi Muslim Berkemajuan di Era Serba Instan

Suara Muhammadiyah

24 June 2026

75
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Menjadi Muslim Berkemajuan di Era Serba Instan

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Di tengah derasnya arus digitalisasi, perkembangan kecerdasan buatan, dan perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat, umat Islam menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Jika dahulu tantangan utama adalah keterbatasan akses terhadap informasi, maka saat ini tantangannya justru sebaliknya, yaitu melimpahnya informasi yang sering kali sulit diverifikasi. Jika dahulu orang harus berusaha keras untuk memperoleh pengetahuan, kini pengetahuan hadir hanya dengan sentuhan jari. Jika dahulu kesuksesan diraih melalui proses panjang, sekarang banyak orang tergoda untuk mendapatkan hasil secara instan.

Kita hidup dalam zaman yang sering disebut sebagai era serba instan. Segala sesuatu dituntut berlangsung cepat. Makanan hadir dalam hitungan menit melalui aplikasi daring. Barang dapat dibeli hanya dengan beberapa kali klik. Informasi menyebar dalam hitungan detik. Bahkan popularitas dan pengaruh sosial dapat diraih dalam waktu singkat melalui media sosial. Kecepatan menjadi ukuran utama dalam berbagai aspek kehidupan.

Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat persoalan mendasar yang perlu dicermati. Tidak semua hal dalam kehidupan dapat dan seharusnya diperoleh secara instan. Karakter, integritas, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, kematangan spiritual, dan peradaban tidak pernah lahir dari proses yang serba cepat. Semua memerlukan waktu, kesabaran, konsistensi, dan perjuangan.

Dalam konteks inilah konsep Muslim Berkemajuan menjadi sangat relevan. Istilah ini bukan sekadar slogan atau identitas organisasi tertentu, melainkan paradigma yang menempatkan Islam sebagai agama yang mendorong kemajuan, ilmu pengetahuan, kerja keras, inovasi, dan kontribusi bagi kemanusiaan. 

Menjadi Muslim Berkemajuan berarti mampu memanfaatkan kemajuan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai fundamental Islam. Di era serba instan, tantangan terbesar bukanlah bagaimana mengikuti perkembangan teknologi, melainkan bagaimana menjaga kualitas keimanan, intelektualitas, dan moralitas di tengah budaya yang mengagungkan kecepatan.

Salah satu kekeliruan terbesar yang berkembang dalam masyarakat modern adalah anggapan bahwa keberhasilan dapat diraih dengan cepat tanpa proses panjang. Media sosial sering menampilkan kisah sukses seseorang tanpa memperlihatkan perjalanan panjang yang dilaluinya. Akibatnya, banyak orang hanya melihat hasil akhir tanpa memahami proses di baliknya.

Padahal, sejarah peradaban manusia menunjukkan hal yang berbeda. Tidak ada peradaban besar yang lahir dalam semalam. Tidak ada bangsa maju yang dibangun dalam hitungan bulan. Semua lahir melalui proses panjang yang melibatkan pendidikan, pengorbanan, kerja keras, dan ketekunan lintas generasi.

Hal yang sama berlaku dalam sejarah Islam. Peradaban Islam yang mencapai puncak kejayaan pada masa Abbasiyah bukanlah hasil kerja dalam satu atau dua tahun. Kemajuan ilmu pengetahuan yang melahirkan tokoh-tokoh seperti Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Biruni merupakan buah dari tradisi keilmuan yang dibangun secara sistematis selama berabad-abad.

Demikian pula dakwah Rasulullah SAW. Transformasi masyarakat Arab dari masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat berperadaban tidak terjadi dalam waktu singkat. Proses tersebut berlangsung selama 23 tahun dengan berbagai tantangan, penolakan, dan pengorbanan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa perubahan yang berkelanjutan memerlukan kesabaran dan istiqamah.

Sayangnya, budaya instan saat ini sering kali membuat sebagian orang kehilangan penghargaan terhadap proses. Banyak yang ingin menjadi kaya tanpa bekerja keras, ingin terkenal tanpa karya, ingin menjadi ahli tanpa belajar secara mendalam, bahkan ingin menjadi tokoh agama hanya dengan membaca potongan-potongan informasi di internet.

Di sinilah pentingnya paradigma Muslim Berkemajuan yang menempatkan proses sebagai bagian dari sunnatullah. Kemajuan sejati tidak lahir dari jalan pintas, melainkan dari usaha yang terencana dan berkelanjutan.

Era digital membawa banyak manfaat bagi kehidupan keagamaan. Kajian dapat diakses dari mana saja. Al-Qur'an tersedia dalam berbagai aplikasi. Ribuan kitab klasik dapat diunduh secara gratis. Dakwah menjangkau audiens yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya.

Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan baru. Salah satunya adalah munculnya fenomena "agama instan". Sebagian orang merasa cukup memahami Islam hanya melalui video pendek berdurasi satu menit atau kutipan singkat di media sosial. Padahal pemahaman agama yang mendalam memerlukan proses belajar yang sistematis.

Akibatnya, tidak jarang muncul sikap yang terlalu mudah menghakimi, menyalahkan, atau bahkan mengkafirkan pihak lain hanya berdasarkan pemahaman yang dangkal. Fenomena ini menunjukkan bahwa akses terhadap informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman ilmu.

Muslim Berkemajuan harus mampu membedakan antara informasi dan pengetahuan. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, tetapi pengetahuan membutuhkan proses pengolahan, refleksi, dan pembelajaran yang panjang. Dalam tradisi Islam, ilmu tidak hanya berkaitan dengan apa yang diketahui, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut dipahami, diamalkan, dan membawa kemaslahatan.

Karena itu, di era serba instan, umat Islam perlu menghidupkan kembali budaya belajar yang serius. Membaca buku secara utuh, mengikuti kajian secara mendalam, berdiskusi dengan para ahli, dan mengembangkan tradisi intelektual menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.

Budaya instan juga berdampak pada cara manusia memandang waktu. Banyak orang tidak lagi terbiasa menunggu. Segala sesuatu harus segera tersedia. Ketika hasil tidak datang dengan cepat, muncul rasa frustrasi dan keinginan untuk menyerah.

Padahal kesabaran merupakan salah satu fondasi utama dalam Islam. Al-Qur'an berulang kali menekankan pentingnya sabar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Kesabaran bukan berarti pasif atau menyerah terhadap keadaan. Sebaliknya, kesabaran adalah kemampuan untuk tetap konsisten berada di jalan yang benar meskipun hasilnya belum terlihat.

Dalam dunia pendidikan, misalnya, seseorang membutuhkan bertahun-tahun untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Dalam dunia bisnis, perusahaan yang sukses umumnya melalui berbagai fase kegagalan sebelum mencapai keberhasilan. Dalam kehidupan spiritual, kedekatan kepada Allah SWT juga tidak diperoleh secara instan.

Muslim Berkemajuan memahami bahwa kemajuan adalah hasil akumulasi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Mereka tidak terjebak dalam mentalitas ingin cepat berhasil tanpa usaha yang memadai. Mereka memahami bahwa kualitas lebih penting daripada sekadar kecepatan.

Kemajuan teknologi merupakan salah satu ciri utama zaman modern. Kehadiran kecerdasan buatan, big data, internet of things, dan berbagai inovasi lainnya telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi.

Sebagian kalangan memandang perkembangan teknologi sebagai ancaman terhadap nilai-nilai agama. Sebaliknya, sebagian yang lain justru menganggap teknologi sebagai solusi untuk semua persoalan. Kedua pandangan tersebut sama-sama tidak tepat.

Dalam perspektif Islam, teknologi pada dasarnya adalah alat. Nilainya ditentukan oleh bagaimana manusia menggunakannya. Teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas manfaat dan meningkatkan kesejahteraan. Namun teknologi juga dapat menjadi sumber kerusakan jika digunakan tanpa landasan etika.

Muslim Berkemajuan tidak anti terhadap teknologi. Mereka justru harus menjadi pelopor dalam pemanfaatan teknologi untuk kemaslahatan. Mereka perlu menguasai ilmu pengetahuan, kecerdasan buatan, ekonomi digital, energi terbarukan, bioteknologi, dan berbagai bidang strategis lainnya.

Namun pada saat yang sama, mereka juga harus menjaga agar teknologi tetap berada di bawah kendali nilai-nilai moral dan spiritual. Jangan sampai manusia menjadi budak teknologi yang kehilangan arah dan tujuan hidupnya.

Dalam konteks ini, tantangan terbesar bukanlah bagaimana menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi bagaimana memastikan teknologi tersebut digunakan untuk memperkuat kemanusiaan dan keadilan sosial.

Salah satu karakter utama Muslim Berkemajuan adalah kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Negara-negara yang saat ini menjadi pusat inovasi dunia tidak mencapai posisinya secara kebetulan. Mereka berinvestasi besar dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Sayangnya, di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, budaya membaca dan riset masih menghadapi berbagai tantangan. Masyarakat lebih banyak mengonsumsi informasi singkat dibandingkan bacaan yang mendalam. Fenomena ini semakin diperkuat oleh algoritma media sosial yang mendorong konten-konten pendek dan sensasional.

Muslim Berkemajuan harus melawan kecenderungan tersebut. Mereka harus menjadi kelompok yang terus belajar sepanjang hayat. Mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen ilmu pengetahuan dan inovasi.

Tradisi iqra' yang menjadi wahyu pertama harus diterjemahkan dalam bentuk budaya membaca, meneliti, menulis, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Perintah membaca dalam Islam bukan sekadar aktivitas literasi, melainkan fondasi pembangunan peradaban.

Dalam dunia yang semakin kompetitif, keunggulan tidak lagi ditentukan oleh sumber daya alam semata. Keunggulan ditentukan oleh kualitas ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kemampuan berinovasi. Karena itu, Muslim Berkemajuan harus hadir sebagai aktor utama dalam pembangunan ekosistem ilmu pengetahuan.

Era digital juga melahirkan budaya viral. Sesuatu dianggap penting bukan karena substansinya, melainkan karena banyak dibicarakan. Popularitas sering kali lebih dihargai daripada kualitas. Fenomena ini memunculkan berbagai persoalan. Banyak orang berlomba-lomba mencari perhatian dengan berbagai cara, termasuk menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Tidak sedikit pula yang rela mengorbankan etika demi mendapatkan lebih banyak pengikut atau interaksi di media sosial.

Islam mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah tingkat popularitasnya, melainkan ketakwaannya. Karena itu, Muslim Berkemajuan harus mampu menjaga akhlak dalam ruang digital. Mereka harus menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah, edukasi, dan penyebaran nilai-nilai kebaikan.

Kemampuan literasi digital menjadi sangat penting. Setiap informasi perlu diverifikasi sebelum disebarluaskan. Setiap komentar harus mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Setiap aktivitas digital harus dilandasi oleh tanggung jawab moral. Dunia maya bukanlah ruang yang bebas dari nilai. Apa yang dilakukan seseorang di ruang digital tetap merupakan bagian dari pertanggungjawaban moral dan spiritualnya.

Salah satu tantangan terbesar masyarakat modern adalah kecenderungan materialisme. Kemajuan ekonomi sering diukur hanya berdasarkan pertumbuhan pendapatan, konsumsi, atau kekayaan. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam perlombaan tanpa akhir untuk memperoleh lebih banyak materi.

Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya atau sukses. Bahkan Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras dan mencapai kesejahteraan. Namun Islam juga mengingatkan bahwa kehidupan tidak hanya berkaitan dengan urusan dunia.

Muslim Berkemajuan adalah mereka yang mampu menyeimbangkan antara pencapaian duniawi dan tujuan ukhrawi. Mereka unggul dalam profesinya, tetapi tetap menjaga integritas. Mereka aktif membangun ekonomi, tetapi tidak melupakan kepedulian sosial. Mereka memanfaatkan teknologi, tetapi tetap menjaga spiritualitas.

Keseimbangan inilah yang menjadi pembeda utama antara kemajuan yang berkelanjutan dan kemajuan yang semu. Kemajuan yang hanya berorientasi pada materi berisiko melahirkan berbagai krisis sosial, lingkungan, dan moral. Sebaliknya, kemajuan yang dibangun di atas fondasi spiritual akan menghasilkan kesejahteraan yang lebih utuh.

Pada akhirnya, menjadi Muslim Berkemajuan di era serba instan bukanlah sekadar tentang kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Lebih dari itu, ia merupakan upaya untuk membangun peradaban yang unggul secara intelektual, kuat secara moral, dan relevan dengan tantangan masa depan.

Generasi Muslim saat ini hidup pada masa yang penuh peluang sekaligus tantangan. Teknologi membuka akses yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap ilmu pengetahuan dan kolaborasi global. Namun pada saat yang sama, teknologi juga membawa risiko disinformasi, polarisasi sosial, dan degradasi moral.

Karena itu, umat Islam perlu meneguhkan kembali identitasnya sebagai umat yang berilmu, produktif, inovatif, dan berakhlak mulia. Muslim Berkemajuan bukanlah mereka yang sekadar mengikuti tren zaman, melainkan mereka yang mampu mengarahkan perkembangan zaman menuju kemaslahatan yang lebih besar.

Di tengah budaya yang mengagungkan kecepatan, Muslim Berkemajuan menghargai proses. Di tengah banjir informasi, mereka mencari ilmu yang mendalam. Di tengah godaan popularitas, mereka menjaga integritas. Di tengah kemajuan teknologi, mereka memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Dan di tengah kehidupan yang semakin materialistik, mereka tetap menjaga orientasi akhirat.

Era serba instan boleh saja menawarkan kemudahan dalam banyak aspek kehidupan. Namun kemudahan tidak boleh membuat manusia kehilangan makna. Kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan arah. Teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan nilai.

Masa depan umat Islam tidak akan ditentukan oleh seberapa cepat mereka mengikuti perkembangan zaman, tetapi oleh seberapa bijak mereka memanfaatkan perkembangan tersebut untuk membangun peradaban yang berkeadaban. Di sinilah makna sejati menjadi Muslim Berkemajuan yaitu untuk menghadirkan Islam sebagai kekuatan transformasi yang memadukan iman, ilmu, amal, dan kemajuan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh umat manusia.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Shalat untuk Penguatan Kepribadian Oleh: Mohammad Fakhrudin Dalam hubungannya dengan pendidikan ak....

Suara Muhammadiyah

13 January 2026

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Perbincangan kita tentang jihad....

Suara Muhammadiyah

9 October 2024

Wawasan

Shalat untuk Penguatan Iman Oleh: Mohammad Fakhrudin Allah Subhanahu wa Ta‘ala di dalam sura....

Suara Muhammadiyah

8 January 2026

Wawasan

Akuntabilitas Manajemen Koperasi Syariah Oleh: Pepi Januar Pelita, Dosen FKIP Universitas Muhammady....

Suara Muhammadiyah

21 February 2025

Wawasan

Selalu Berlapang Dada terhadap Tetangga Oleh: Mohammad Fakhrudin Berlapang dada terhadap tetangga ....

Suara Muhammadiyah

9 August 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah