Menyambut 2026: Menghitung Diri, Menata Hati, dan Meneguhkan Langkah
Penulis: Nur Ngazizah, Mahasiswa Doktoral UAD, Dosen UMPWR
Pergantian tahun sering kali datang tanpa banyak jeda. Kalender berganti, usia bertambah, dan kehidupan terus berjalan. Namun Islam mengajarkan bahwa waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati, melainkan amanah yang perlu direnungi. Di setiap pergantian tahun, manusia diajak berhenti sejenak,menghitung diri, menata hati, dan meneguhkan langkah ke depan.
Al-Qur’an menyampaikan pesan reflektif itu dengan sangat jernih:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini bukan sekadar ajakan melihat ke belakang, tetapi peringatan untuk menyiapkan masa depan. Refleksi dalam Islam bukan untuk menenggelamkan diri dalam penyesalan, melainkan untuk membangun kesadaran: apakah hidup yang dijalani sudah bergerak ke arah yang lebih bermakna dan bermanfaat.
Tahun 2025 mungkin telah meninggalkan beragam jejak. Ada ikhtiar yang berbuah, ada pula yang belum menemukan jalannya. Ada rasa syukur yang terucap, namun ada juga lelah yang terpendam. Semua itu adalah bagian dari perjalanan manusia yang terus belajar. Tanpa refleksi, kita mudah larut dalam rutinitas,sibuk, tetapi kehilangan arah.
Al-Qur’an kemudian memberi penegasan yang sangat kuat tentang makna waktu dan arah hidup. Dalam Surat Al-‘Ashr, Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”(QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Ayat ini menempatkan waktu sebagai saksi kehidupan manusia. Kerugian bukan karena kekurangan harta atau jabatan, melainkan karena kehilangan nilai. Iman memberi orientasi hidup, amal saleh menjadikannya nyata, dan setia kawan dalam kebenaran serta kesabaran menjaga agar manusia tidak berjalan sendirian.
Di tengah dunia yang semakin individualistis, pesan setia kawan ini terasa semakin relevan. Kebaikan tidak tumbuh dalam kesendirian. Ia membutuhkan kebersamaan, saling mengingatkan, dan saling menguatkan. Di sinilah nilai-nilai Muhammadiyah menemukan ruang praksisnya, sebuah gerakan yang menjadikan iman sebagai fondasi, amal sebagai kerja nyata, dan kebersamaan sebagai kekuatan.
Namun iman dan amal juga perlu ditopang oleh kesadaran akan potensi diri. Allah mengingatkan dalam Surat Asy-Syams:
“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”(QS. Asy-Syams: 7–10)
Setiap manusia dibekali potensi. Tidak ada jiwa yang diciptakan sia-sia. Yang membedakan adalah kesungguhan untuk membersihkan diri dan menghidupkan potensi kebaikan. Ada yang diberi kemampuan mendidik, ada yang kuat dalam pelayanan sosial, ada yang mampu menggerakkan perubahan dari balik layar. Semua memiliki nilai ketika diniatkan sebagai amal saleh.
Menyambut 2026, refleksi ini mengajak kita melakukan tiga hal mendasar. Pertama, menghitung diri dengan jujur, sebagaimana pesan Al-Hasyr, agar hari esok tidak dihadapi tanpa persiapan. Kedua, meneguhkan iman dan amal, sebagaimana tuntunan Al-‘Ashr, agar hidup tidak terjebak dalam kerugian. Ketiga, mengoptimalkan potensi kebaikan, sebagaimana diingatkan dalam Asy-Syams, agar hidup menjadi lebih bermakna.
Bagi Muhammadiyah, pergantian tahun bukan sekadar pergantian waktu, melainkan momentum untuk meneguhkan peran sebagai gerakan pencerahan. Pendidikan yang mencerdaskan, layanan sosial yang menguatkan, dan dakwah yang meneduhkan hanya akan lahir dari pribadi-pribadi yang reflektif dan siap bertransformasi.
Akhirnya, 2026 bukan hanya tentang target baru, tetapi tentang kesadaran baru. Kesadaran untuk hidup lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bermanfaat. Dengan refleksi, iman, amal, dan kebersamaan, kita melangkah bukan sekadar maju, tetapi juga lebih bermakna. Pastikan kita menjadi pemain kebaikan, bukan penonton. Karena penonton tidak pernah jadi pemenang.
Fastabiqul khairaat

