Menyembelih Ego, Merawat Iman: Refleksi Teologis di Balik Idul Adha

Publish

27 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
161
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Menyembelih Ego, Merawat Iman: Refleksi Teologis di Balik Idul Adha

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Bagi sebagian besar umat Muslim, kata ‘kurban’ otomatis memicu memori kolektif tentang Hari Raya Idul Adha—gema takbir, antrean warga, dan prosesi penyembelihan hewan ternak. Ritual tahunan ini telah menjadi pemandangan ikonik yang mendarah daging dalam kebudayaan Islam global. Namun, sebuah refleksi mendalam memicu pertanyaan krusial: apakah hakikat pengorbanan dalam Islam hanya sebatas memotong hewan dan membagikan dagingnya?

Al-Qur'an secara eksplisit mengisyaratkan bahwa makna pengorbanan jauh melampaui ritualitas fisik tersebut. Untuk membedah dimensi spiritual yang kerap terlupakan ini, kita perlu merunut kembali sejarah teologis dan filosofis di balik konsep kurban. Langkah awal untuk memahaminya justru dimulai dengan memperjelas apa yang bukan merupakan esensi dari pengorbanan itu sendiri.

Dalam catatan sejarah peradaban, konsep persembahan kepada entitas transenden sering kali terjebak dalam bias materialistis. Ada fenomena kuno yang dikenal sebagai teofagi. Pada masa lampau, berbagai pemeluk kepercayaan meyakini bahwa mereka perlu menyajikan makanan fisik di atas altar untuk menyenangkan dewa-dewa. Jejak penafsiran ini menyusup ke teks kuno yang menggambarkan aroma kurban bakaran naik ke langit seolah-olah memuaskan kebutuhan fisik sang pencipta. Meskipun tahu makanan tersebut tidak benar-benar lenyap—dan sering kali berakhir di perut para pendeta—mereka tetap mempertahankan ilusi telah "memberi makan" Tuhan.

Islam datang dengan fondasi tauhid murni untuk mendobrak persepsi keliru tersebut. Keagungan Allah ditegaskan sedemikian rupa sehingga segala bentuk penyerupaan Tuhan dengan makhluk dikikis habis. Al-Qur'an menegaskan dengan sangat lugas: "Dialah yang memberi makan, dan Dia tidak diberi makan."

Secara filosofis, kebutuhan makhluk hidup terhadap makanan adalah bukti mutlak dari sifat kontingensi—ketergantungan eksistensial pada elemen luar untuk dapat bertahan hidup. Manusia adalah makhluk kontingen; kita lemah dan membutuhkan asupan materi. Sebaliknya, Tuhan bersifat absolut dan tidak bergantung pada apa pun (Al-Ghani). Argumen kontingensi ini pula yang digunakan Al-Qur'an untuk meluruskan status figur suci yang disembah berlebihan oleh kaumnya, seperti Maryam dan Nabi Isa, lewat kalimat: "Keduanya biasa memakan makanan."

Oleh karena itu, konsep kurban dalam Islam bersih dari motif memberikan keuntungan fisik kepada Sang Pencipta. Penegasan ini tertuang dalam Surah Al-Hajj ayat 37: "Daging dan darah hewan kurban itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridaan Allah, tetapi yang mencapai-Nya adalah ketakwaanmu." Allah tidak melihat dimensi fisik hewan yang disembelih, melainkan ketulusan batin yang menggerakkan hamba-Nya untuk berkurban.

Secara historis, ibadah kurban hari ini merupakan napak tilas kehidupan Nabi Ibrahim AS. Kisah dramatis saat beliau diuji untuk mengorbankan putra tunggalnya merupakan titik balik radikal dalam sejarah teologi dunia. Melalui peristiwa digantinya sang putra dengan seekor domba, Tuhan mengirimkan pesan universal: monoteisme sejati menolak pengorbanan nyawa manusia. Tuhan hanya menginginkan pembuktian komitmen dan loyalitas iman.

Nabi Ibrahim bersedia merelakan putra yang telah dinantikannya sekian lama demi menunaikan perintah ilahi. Keteladanan ini berkaitan erat dengan Surah Ali 'Imran ayat 92: "Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai."

Tuhan tidak pernah menuntut manusia modern berada di tingkat ujian se-ekstrem Nabi Ibrahim. Allah memberikan "ujian miniatur" dalam bentuk hewan ternak. Bagi masyarakat agraris kuno, ternak adalah representasi langsung kekayaan dan status sosial. Meminta mereka menyembelih hewan terbaik sama saja dengan menantang ego mereka: "Apakah kamu lebih mencintai simbol kekayaanmu, atau Penciptamu?"

Menariknya, ujian kepatuhan ini dirancang untuk melahirkan dampak sosial masif. Limpahan daging hasil penyembelihan wajib didistribusikan kepada tetangga, kerabat, hingga fakir miskin. Dari sini terlihat bagaimana sebuah ritual vertikal (hubungan dengan Tuhan) secara instan bertransformasi menjadi aksi sosial horisontal (hubungan antarmanusia).

Abad ke-21 membawa disrupsi besar. Esensi perjuangan fisik dalam berkurban kian tereduksi oleh teknologi. Cukup dengan beberapa ketukan jari di layar ponsel untuk mentransfer dana melalui aplikasi web, kewajiban kurban dinyatakan selesai. Kemudahan digital ini membantu efisiensi distribusi, namun menyimpan risiko spiritual: kurban dapat dengan mudah bergeser menjadi sekadar transaksi finansial yang kering tanpa melibatkan kontemplasi batin. Kita terancam kehilangan momen merasakan kehilangan atas apa yang kita cintai.

Maka, tantangan Muslim modern adalah memperluas aplikasi pengorbanan agar tidak mandek pada ritualitas Idul Adha semata. Semangat kurban harus mampu merembes ke seluruh lini kehidupan sepanjang tahun. Konsep melepaskan sesuatu yang berharga demi nilai tinggi juga ditemukan dalam tradisi agama lain, seperti masa Prapaskah (Lent) umat Kristen yang sukarela menahan diri dari komoditas tertentu demi penyerahan diri kepada Tuhan.

Dalam spektrum luas, pengorbanan harian menjelma dalam setiap keputusan moral. Setiap kali seorang Muslim memilih berpaling dari keuntungan instan yang haram karena takut akan murka Allah, ia sedang melakukan pengorbanan sejati. Lebih jauh lagi, pengorbanan menuntut ongkos sosial nyata ketika seseorang memilih tegak berdiri menyuarakan keadilan, seperti membela hak kemanusiaan warga yang tertindas di Gaza. Banyak individu menghadapi risiko kehilangan pekerjaan, promosi, hingga pemboikotan bisnis, namun tetap melangkah karena meyakini kebenaran adalah bentuk pengabdian tertinggi kepada Tuhan.

Pada akhirnya, Idul Adha hanyalah sebuah monumen pengingat tahunan. Hewan kurban yang disembelih adalah simbolisasi agar kita bersedia menyembelih sifat egois dan keserakahan. Pengorbanan sesungguhnya terus berlanjut di setiap helasan napas kita dalam memilih jalan hidup yang etis dan diridai oleh-Nya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Muhammadiyah dan Bonus Demografi: Mempersiapkan Generasi Emas  Oleh Bayu Madya Chandra, SEI, p....

Suara Muhammadiyah

19 August 2025

Wawasan

Oleh Gunawan TrihantoroSekretaris Forum Kreator Era AI Jawa Tengah dan AMM Blora Indonesia, sebagai....

Suara Muhammadiyah

18 November 2024

Wawasan

Membangun Profetika Hukum Berkeadilan Oleh: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. Berbicara masalah hukum,....

Suara Muhammadiyah

8 October 2023

Wawasan

Mewariskan Tradisi Literasi Kepada Anak-anak Muhammadiyah Penulis: Yudha Kurniawan, Ketua LPO PDM B....

Suara Muhammadiyah

10 April 2026

Wawasan

Milad 66 Uhamka: Merenda Peradaban Berkemajuan Oleh: Prof. Dr. Abdul Rahman A. Ghani Momen Ulang t....

Suara Muhammadiyah

17 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah