Meraih Hidup Berkah dengan Hidup Halal

Suara Muhammadiyah

2 October 2026

165
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Meraih Hidup Berkah dengan Hidup Halal

M. Saifudin, Lc, PPM Sangen Sukoharjo Jateng

Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang mendapatkan harta, tetapi juga bagaimana memastikan harta itu diperoleh dengan cara yang benar, digunakan secara benar, dan menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, persoalan halal sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar halal dan haram makanan. Ia menyentuh cara mencari nafkah, bekerja, berdagang, berbisnis, bertransaksi, hingga bagaimana seseorang menggunakan apa yang telah Allah Ta'ala karuniakan.

Dalam perspektif Islam Berkemajuan, kesalehan tidak berhenti pada kesalehan individual. Kejujuran dalam mencari nafkah, amanah dalam bekerja, adil dalam berdagang, serta menjauhi praktik yang merugikan orang lain merupakan bagian dari akhlak Islam. Kehidupan yang halal semestinya melahirkan pribadi yang baik sekaligus menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Al-Qur’an memberikan fondasi yang tegas:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168).

Kata كُلُوا (kulū) merupakan fi‘il amr, kata kerja perintah. Dalam konteks ayat ini, perintah tersebut memberikan arahan kepada manusia untuk menikmati apa yang Allah sediakan dengan memenuhi dua kriteria: halal dan tayib.

Halal berkaitan dengan sesuatu yang dibolehkan oleh syariat, baik dari zat maupun cara memperolehnya. Sedangkan tayib menunjuk kepada sesuatu yang baik, bermanfaat, dan tidak membawa keburukan bagi jiwa maupun raga.

Karena itu, tidak cukup seseorang mengatakan, “Yang penting saya mendapatkan rezeki.” Islam mengajarkan agar diperhatikan apa yang diperoleh, dari mana sumbernya, dan bagaimana cara memperolehnya. Penghasilan dari penipuan, korupsi, pencurian, riba, atau cara-cara batil tidak menjadi halal hanya karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Al-Qur’an bahkan mengingatkan agar manusia tidak mengikuti langkah-langkah setan. Menarik bahwa yang digunakan adalah kata khuthuwāt, langkah-langkah. Penyimpangan sering kali tidak terjadi sekaligus. Ia dapat dimulai dari kompromi kecil: sedikit ketidakjujuran, sedikit manipulasi, sedikit mengambil hak orang lain. Lama-kelamaan menjadi kebiasaan, dianggap wajar, bahkan dibenarkan.

Karena itu, sikap wara‘ dan kehati-hatian diperlukan sejak langkah pertama.

Perintah memilih yang halal juga disertai perintah bertakwa:

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ

“Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah.” (QS. Al-Ma’idah: 88).

Ayat ini mengajarkan bahwa menjemput rezeki bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan iman dan takwa. Seorang Muslim perlu berhati-hati agar apa yang disebutnya sebagai rezeki benar-benar halal dan tayib. Sesuatu yang haram bukanlah rezeki yang patut dinikmati, tetapi dapat menjadi ujian dan godaan.

Setelah mendapatkan rezeki halal, Al-Qur’an tidak berhenti pada perintah makan. Allah berfirman:

وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ

“Dan syukurilah nikmat Allah.” (QS. An-Nahl: 114).

Dengan demikian, ada rangkaian penting dalam kehidupan seorang Muslim: mencari yang halal, menikmati yang tayib, kemudian bersyukur. Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah, tetapi menggunakan nikmat untuk kebaikan dan kemanfaatan.

Lalu, di mana letak keberkahan?

Al-Qur’an memberikan jawaban dalam QS. Al-A‘raf ayat 96. Allah menjelaskan bahwa apabila penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan membukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi.

Keberkahan tidak selalu identik dengan banyaknya harta. Harta yang tidak terlalu banyak tetapi mencukupi, menenteramkan, dan membawa seseorang semakin dekat kepada Allah bisa lebih bermakna daripada harta melimpah tetapi menimbulkan kegelisahan, konflik, dan menjauhkan dari ketaatan.

Karena itu, orang yang berhati-hati dalam mencari nafkah tidak perlu takut kehilangan rezeki karena meninggalkan yang haram. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2–3).

Namun tawakal bukan berarti pasif. Tawakal hadir setelah ikhtiar. Seorang Muslim bekerja dengan sungguh-sungguh, profesional, maksimal dan optimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Nabi ﷺ menggambarkan orang yang bertawakal seperti burung yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. Burung itu tetap keluar dari sarangnya; ia tidak menunggu rezeki datang tanpa usaha.

Pada akhirnya, makanan dan rezeki halal bukan sekadar untuk membuat tubuh kenyang. Allah berfirman kepada para rasul:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Wahai para rasul! Makanlah dari yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu’minun: 51).

Ayat ini memperlihatkan hubungan yang indah antara yang halal, yang tayib, dan amal saleh. Rezeki yang halal dan baik diharapkan menjadi kekuatan bagi tubuh, ketenangan bagi jiwa, dan energi untuk beribadah serta beramal saleh.

Dengan demikian hidup halal menjadi lebih dari sekadar persoalan hukum. Ia menjadi etos kehidupan: jujur dalam bekerja, amanah dalam mengemban tanggung jawab, adil dalam bermuamalah, bersih dalam mencari nafkah, dan bermanfaat bagi sesama.

Maka, meraih hidup berkah dengan hidup halal berarti menata seluruh perjalanan hidup agar tetap berada dalam koridor yang diridai Allah: sumbernya halal, caranya halal, penggunaannya baik, disertai syukur, ikhtiar, tawakal, dan akhirnya melahirkan amal saleh.

Sebab keberkahan bukan semata-mata tentang berapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang Allah hadirkan melalui apa yang kita miliki.

Nashrum minallahi wa fathun qarib wa basy-syirilmukminin


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kolaborasi Halal dan Jiwa Muhammadiyah Abad Kedua Oleh: Vritta Amroini Wahyudi, Dosen Teknologi Pan....

Suara Muhammadiyah

13 August 2025

Wawasan

Kemproh, Serampangan yang Berdampak  Oleh: Hafidz Sirojudin  Dalam bahasa Jawa, Kemproh ....

Suara Muhammadiyah

17 August 2026

Wawasan

  Oleh: Muhammad Iqbal Rahman (Sekertaris Majelis Tabligh PDM Kabupaten Mojokerto & Ketua....

Suara Muhammadiyah

9 September 2023

Wawasan

Kemandirian Ekonomi Dibangun dari Hati, Bukan Sekadar Regulasi Penulis: Atih Rohaeti Dariah, Guru B....

Suara Muhammadiyah

30 June 2026

Wawasan

Jangan Pernah Lelah Berbuat Kesalehan Oleh: Mohammad Fakhrudin Cukup banyak orang yang mencari rez....

Suara Muhammadiyah

30 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah